Depok (ANTARA) - Buku ”Sejarah Indonesia Dalam Arus Global” (SIDAG) Jilid 1 merupakan pemutakhiran (updating) dari buku sebelumnya baik Buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) maupun Buku Indonesia Dalam Arus Sejarah (IDAS).
Substansi buku SNI dan IDAS disusun terakhir menggunakan referensi sekitar 2009-2010, sehingga dalam buku ini terutama berisikan informasi penelitian, temuan, data, dan perspektif baru setelah 2009-2010. Oleh karena itu, buku ini tidak menafikan keberadaan buku SNI dan IDAS Jilid I, atau juga buku, tulisan, atau terbitan sejenisnya.
Buku SIDAG Jilid 1 ini dimaksudkan memberikan informasi pengetahuan dasar sejarah kebudayaan sebagai fondasi yang kuat ketika kemudian bertemu dan bersentuhan dengan pengaruh dari luar Nusantara.
Topik yang dibicarakan dalam buku ini tidak semua aspek kesejarahan masa lalu itu, kecuali puncak-puncak capaian penting dalam peradaban Nusantara.
Peletakan dasar itu dimulai dengan menguraikan penelitian, temuan dan perspektif baru tentang awal terbentuknya fisik muka bumi Nusantara hingga rupa bumi tercipta seperti saat ini.
Bersamaan dengan itu, diuraikan pula temuan dan perspektif baru tentang awal kehadiran manusia purba mulai dari sekitar 1,8 juta tahun lalu dan dinamikanya hingga manusia moderen sekarang.
Proses interaksi manusia dengan karakter lingkungan alam Nusantara dalam rentang waktu yang panjang, memberi warna tersendiri yang merupakan modal utama dalam proses lahir, tumbuh, dan berkembangnya berbagai aspek kebudayaan seperti sistem religi, kesenian, sistem pengetahuan, organisasi sosial, bahasa, teknologi, dan sistem ekonomi.
Perlu disadari bahwa, meskipun pada kurun waktu bahasan topik ini belum mengenal tulisan atau aksara, bukan berarti kita tidak ada sejarah.
Sejarah ibarat pohon, tidak hanya melihat batang, dahan, daun, dan bunga atau buah, tetapi juga menukik ke akar sehingga menggambarkan pohon yang utuh yang membentuk karakter dan jatidiri bangsa Indonesia.
Perlu pula disampaikan bahwa dalam buku SIDAG Jilid 1 ini, tema-tema sejarah dan kebudayaan yang ditulis terutama yang belum atau tidak banyak mendapat perhatian pada buku sejenis sebelumnya. Satu tema yang menjadi salah satu kekuatan buku ini adalah berkaitan dengan gambar cadas.
Sejak 2014 dapat dikatakan menjadi tonggak penting dalam pengkajian gambar cadas di Indonesia. Hal yang menggemparkan dunia adalah serangkaian pertanggalan, baik di Sulawesi Selatan maupun di Kalimantan Timur yang menghasilkan angka tahun yang sangat tua, yakni lebih dari 40.000 tahun lalu.
Usia yang dianggap tertua di dunia itu jauh melebihi perkiraan yang berlaku umum sebelumnya, termasuk bandingannya dengan gambar cadas di Eropa.
Bahkan hasil penelitian 2025 ditemukan pertanggalan gambar cadas lebih tua lagi yakni 67.800 tahun lalu di Pulau Muna (Sulawesi Tenggara).
Peningkatan intensitas penelitian gambar cadas yang mengikutsertakan berbagai institusi dari dalam maupun luar negeri dan melibatkan berbagai disiplin ilmu sangat berpengaruh pada perkembangan intelektual pengkajian ini.
Bahkan, penerapan beraneka metode dan teori baru telah membawa pengkajian gambar cadas tidak lagi hanya berkutat pada pengidentifikasian dan tipologi bentuk belaka. Pertanggalan mencapai 60.000an tahun lalu itu jelas menunjukkan bahwa akar peradaban di Nusantara sudah tertanam dan tumbuh sejak lama, mengalahkan usia gambar cadas manapun di dunia.
Dalam kaitannya dengan gambar cadas juga memberikan catatan sejarah baru tentang pengetahuan kemaritiman.
Gambar cadas tertua yang mengindikasikan perahu tertua ditemukan pada gua Sumpang Bita dan Bulu Sipong 1 di Maros (Sulawesi Selatan).
Berdasarkan konteks pertanggalan dengan temuan-temuan gambar cadas di sekitarnya, gambar perahu itu diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun lalu.
Kurun waktu ini sangat jauh sebelum migrasi Penutur Austronesia yang selama ini dipercayai sebagai pengguna sarana transpotasi air atau laut tersebut dari sekitar 5.000 – 2.000 tahun lalu.
Gambar-gambar cadas lain baik perahu sederhana, perahu bercadik, maupun perahu berlayar banyak juga dijumpai pada gua di Sulawesi Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua Barat dengan usia hingga sekitar 2.000 tahun lalu.
Hal ini jelas pula memperkuat identitas masyarakat Nusantara telah menggunakan sarana transportasi berupa perahu untuk bermigrasi dan berinteraksi dengan sesamanya antar-pulau.
Tradisi perahu terus tumbuh dan berkembang menjadi peradaban maritim yang besar dan tangguh di bumi Nusantara yang luas. Budaya yang sudah demikian kokoh itu, tidak heran pada masa kemudian di Nusantara muncul kerajaan-kerajaan bercorak maritim yang terkenal seperti Sriwijaya, Singhasari, Majapahit, Samudera-Pasai, Banten, Demak, Ternate, Gowa, dan lain-lain.
Pembahasan tema-tema pada buku SIDAG Jilid 1 tidak hanya terbatas pada sebelum masuknya masa ”sejarah” dengan bukti awal ditemukan tulisan berupa prasasti dari Raja Mulawarman di Kalimantan Timur dan Purnawarman di Jawa Barat sekitar abad 4-5 Masehi, namun ketika dan terus melampaui masa setelahnya.
Hal ini disebabkan pada masa awal dikenalnya aksara tersebut, tidak semua wilayah di Nusantara tersentuh langsung dengan budaya tulis. Penelitian dan temuan terbaru menunjukkan bahwa berbagai aspek kebudayaan sebelum adanya bukti tertulis itu, terus tumbuh dan berkembang berabad-abad memasuki masa ”sejarah”.
Budaya Gambar Cadas yang sudah muncul 60.000an tahun lalu, tradisinya terus berlanjut hingga 500 tahun lalu.
Budaya Megalitik yang muncul ribuan tahun sebelum masehi, tradisinya terus berkembang hingga sekitar abad 15 Masehi. Demikian pula artefak batu, tanah liat, dan logam yang sudah dikenal puluhan bahkan ratusan ribu tahun lalu, tradisinya masih kita jumpai hingga saat ini di beberapa wilayah di Nusantara.
Selain itu, capaian peradaban yang tinggi dan sangat kompleks pada masa sebelum mendapat pengaruh dari luar, menjadi bekal kuat dan kokoh bagi masyarakat Nusantara ketika bertemu dan bersentuhan dengan budaya asing baik dari India yang membawa budaya Asia Selatan khususnya Hindu-Buddha, dari Arab yang membawa budaya Timur Tengah khususnya Islam, dari China yang membawa budaya Asia Timur, maupun dari Bangsa Kolonial yang membawa budaya Eropa.
Konsep primus inter pares sebagai penghormatan kepada seseorang yang dihormati dan disegani menjadi dasar kuat lahirnya pemimpin kelompok dan raja dalam era kerajaan atau kesultanan.
Pembuatan media penghormatan leluhur atau tokoh panutan dari menhir atau patung menjadi pedoman yang tidak asing ketika muncul budaya pembuatan arca pemujaan dewa.
Pendirian bangunan besar dengan susunan batu yang banyak dalam budaya bangunan berundak menjadi modal besar ketika tradisi mendirikan candi. Nilai-nilai budaya sebagai local genius yang dimiliki masyarakat mampu menyaring, memilah, mengambil dan menerima, unsur budaya dari luar yang dianggap baik dan sesuai kebutuhan, dalam kerangka akulturasi budaya.
Harapannya bahwa kehadiran buku SIDAG Jilid 1 yang telah menggali dan mengangkat akar peradaban Nusantara ini menjadi cerminan dan kilas balik untuk menatap masa kini dan masa akan datang.
Tujuannya tidak lain agar kita kenal dan terus mengingat akar peradaban kuat yang sudah kita miliki. Kita perlu merawat kesinambungan peradaban dan dinamikanya sejak kehadiran manusia 1,8 juta tahun lalu di Nusantara yang terus tumbuh dan berkembang melesat tinggi hingga masa sekarang. Semoga kita tidak melupakan masa lalu!
*)Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Hum. (Editor Buku SNI Jilid 1, Universitas Indonesia).
