Semarang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Semarang meminta masyarakat tidak panik dengan maraknya pemberitaan soal virus influenza A (H3N2) subclade K atau superflu yang sudah masuk Indonesia, namun tetap waspada untuk mencegah penularan.
Kepala Dinkes Kota Semarang dr Abdul Hakam di Semarang, Selasa, menjelaskan superflu sebetulnya sama persis dengan virus influenza tipe A, tetapi subclade-nya tipe K.
"Jadi, ini virus influenza tipe A, cuma virus yang subclade K ini penyebarannya lebih cepat. Tapi, apakah kemudian 'mortality'-nya tinggi, kemudian angka rawat inapnya tinggi, ternyata tidak," katanya.
Ia menjelaskan gejala superflu sama dengan flu umumnya, seperti batuk, pilek, sedangkan cara pengobatan juga sama, yakni istirahat dan banyak makan makanan bergizi untuk meningkatkan imunitas tubuh.
"Kalau misalnya demam, ya, tambah (obat) buat demam. Kalau belum sembuh silakan pergi ke puskesmas, ke klinik ataupun ke rumah sakit jika diperlukan penanganan lebih lanjut," katanya.
Hingga saat ini, katanya, di Kota Semarang belum ada temuan kasus superflu sehingga masyarakat tidak perlu panik dengan maraknya informasi virus tersebut.
"Kan sebetulnya (superflu) diketahui sejak bulan Agustus tahun lalu. Sampai sampai dengan hari ini, beberapa sampel yang sudah kami bawa ke laboratorium di tingkat nasional tidak ada yang ke subclade K," katanya.
Kondisi kebugaran, kata dia, berpengaruh terhadap penyebaran virus, sebab ketika kondisi tubuh menurun maka virus dengan mudah menyerang, termasuk superflu.
"Maka ketika kita sudah mulai tenggorokan sakit. Kemudian, mulai flu, maka hentikan aktivitas, istirahat di rumah, 'bed rest'. Makan yang segar, habis itu 'me time', misalnya nonton drakor, atau selawatan. Itu pasti meningkatkan imunitas," katanya.
Hakam juga mengimbau mereka yang mengalami gejala flu untuk beristirahat dan mengurangi aktivitas, serta memakai masker saat berinteraksi dengan orang lain.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa influenza A (H3N2) subclade K atau yang disebut sebagai superflu sudah ada sejak lama, seperti flu biasa, dan tidak mematikan seperti saat COVID-19 atau tuberkulosis (TBC).
"Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. influenza H3N2," katanya.
Layaknya flu biasa, kata dia, kalau terkena, penyakit itu bisa kembali lagi, dan setiap musim dingin, kasus akibat virus itu selalu naik di negara empat musim, namun di negara seperti Indonesia tidak terlalu tinggi kenaikannya.
"Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan," katanya.
Meski tidak sebahaya COVID-19, dia mengingatkan warga untuk tetap menjaga kesehatan dan imunitas dengan istirahat yang cukup, berolahraga yang rutin.
Baca juga: Pemkab Bekasi imbau masyarakat waspada penyebaran virus super flu
Baca juga: Wagub DKI Rano Karno imbau masyarakat waspada penularan "super flu"
