Bangkok (ANTARA) - Abdul Hafiz berdiri sejenak di ujung lintasan lempar lembing Suphachalasai Stadium, Bangkok, Senin (15/12). Ia menatap sektor lempar, menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berlari.
Gerakannya tidak secepat masa-masa terbaiknya, tetapi cukup stabil untuk mengantarkan lembing itu terlepas dari tangan dan meluncur jauh, sebelum menancap di tanah.
Lemparan pertama belum sesuai harapan. Angka di papan skor menunjukkan 68,32 meter. Atlet 30 tahun itu menghela napas, berjalan pelan ke belakang lintasan, berusaha menenangkan diri. Sesekali ia menarik karet latihan, menggerakkan bahu kanan yang beberapa bulan terakhir kerap membatasi ruang geraknya.
Kesempatan kedua datang. Hafiz kembali melempar dengan harapan bisa memperbaiki jarak, namun hasilnya justru sedikit menurun, 67,28 meter. Ia menoleh ke papan skor, lalu melirik tribun. Wajahnya datar, tanpa ekspresi berlebihan. Ia kembali mengatur napas.
Pada lemparan ketiga, Hafiz mulai menemukan ritmenya. Lembing meluncur lebih jauh dan mendarat di angka 72,49 meter. Penonton mulai bereaksi, namun atlet yang lahir pada 1 September 1995 itu belum puas. Ia kembali ke sisi lintasan, menggerakkan bahu, menunggu satu kesempatan lagi.
Lemparan keempat menjadi titik balik. Dengan keyakinan yang lebih utuh, Hafiz berlari, melepaskan lembing, dan membiarkannya melayang tinggi sebelum menancap lebih jauh dari sebelumnya. Riuh rendah terdengar dari tribun.
Papan skor menampilkan angka 72,82 meter. Hafiz berteriak kencang, seolah melepaskan semua beban yang ada di pundaknya.
Angka itu memastikan medali emas nomor lempar lembing putra SEA Games 2025 Thailand untuk Indonesia. Lebih dari sekadar kemenangan, lemparan tersebut memecahkan rekor nasional yang sebelumnya dipegang Silfanus Ndiken, dengan jarak 72,26 meter.
Emas Hafiz menjadi yang kedelapan bagi Indonesia dari cabang atletik, sekaligus melampaui target Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mematok tujuh medali emas. Pencapaian itu terasa istimewa karena datang dari seorang atlet yang beberapa bulan sebelumnya masih diragukan kemampuannya untuk kembali ke performa terbaik.
Dalam proyeksi awal, justru Silfanus lebih banyak disebut sebagai kandidat kuat peraih emas. Rekor nasional berada di tangannya, sementara Hafiz masih berjuang keluar dari fase pemulihan cedera bahu yang ia derita sejak Asian Games 2022 Hangzhou yang bergulir pada 2023, serta performa yang menurun di kejuaraan nasional.
Arena pertandingan kembali mengubah peta persaingan. Silfanus yang menjalani debut di SEA Games tampil solid dan meraih medali perak, dengan lemparan sejauh 71,99 meter. Medali perunggu menjadi milik atlet tuan rumah Sornwichai Wachirawit, dengan jarak 69,62 meter.
Bagi Hafiz, emas di Bangkok memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar catatan statistik. Ia menjadi emas kedua secara beruntun, setelah sebelumnya juga naik podium tertinggi pada SEA Games 2023 Kamboja, dengan lemparan 69,60 meter. Prestasi tersebut melengkapi tiga medali perak yang telah ia raih pada SEA Games 2017 Malaysia, 2019 Filipina, dan 2021 Vietnam.
Meskipun demikian, jalan menuju Negeri Gajah Putih itu tidak dilalui Hafiz dengan persiapan ideal.
Cedera bahu yang dialami Hafiz sempat berkembang menjadi saraf kejepit dan kembali muncul beberapa waktu lalu. Dampaknya terasa langsung pada performa. Lemparannya turun drastis, hingga berada di kisaran 64 meter. Waktu persiapan menuju SEA Games pun menjadi sangat terbatas.
“Latihannya memang belum maksimal,” kata Hafiz, seusai pertandingan, mengakui kondisi yang ia jalani. Dalam dua bulan setengah terakhir, ia berlatih dengan banyak penyesuaian.
Awalan panjang yang menjadi bagian penting dalam nomor lempar lembing nyaris tidak digunakan. Fokus latihan diarahkan pada kontrol gerak dan menjaga kondisi bahu agar tidak kembali bermasalah.
Awalan penuh baru kembali dicoba beberapa hari sebelum pertandingan dan itu dilakukan di Thailand.
“Di sini pas lempar rasanya lepas. Tapi kalau dibilang maksimal, belum,” katanya.
Ia memilih tidak banyak berbicara tentang tekanan yang ia rasakan. Bagi Hafiz, keraguan dari luar justru menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.
“Kalau orang sudah pesimis, ya dibuktikan di lapangan,” katanya.
Perubahan performa Hafiz tidak terlepas dari kembalinya pelatih Zainuddin Umar, setelah kejuaraan nasional. Zainuddin mengakui tantangan utama dalam waktu persiapan yang singkat bukan semata memperbaiki teknik, melainkan menyatukan kembali arah dan kepercayaan antara pelatih dan atlet.
“Hal yang paling penting itu penyatuan visi. Dalam dua bulan ini kami sama-sama membuka diri,” ujar Zainuddin.
Program latihan disusun dengan sangat hati-hati, mengingat riwayat cedera Hafiz. Pendampingan fisioterapi dan pijat dilakukan secara rutin, sementara beban latihan terus disesuaikan dengan kondisi atlet.
“Kondisi fisiknya sebenarnya tidak ada masalah besar. Yang harus benar-benar dijaga itu cederanya,” katanya.
Tekanan, menurut Zainuddin, justru lebih besar berada di sisi pelatih. Menentukan target dalam waktu persiapan yang singkat, sekaligus menjaga atlet tetap aman dari risiko cedera, menjadi tantangan tersendiri.
“Sebagai pelatih, tidak ada istilah tanpa target. Target itu yang menjadi arah kerja,” katanya.
Hasil di Suphachalasai Stadium menjadi jawaban atas proses tersebut. Lemparan Hafiz tidak hanya mengembalikan performanya ke level terbaik, tetapi juga melampaui pencapaian sebelumnya.
Dengan segala keterbatasan selama persiapan, Hafiz menutup penampilannya dengan satu lemparan yang tak terbantahkan.
Pembuktian itu akhirnya tuntas. Tanpa pernyataan berlebihan, tanpa selebrasi panjang. Cukup dengan angka yang tercatat di papan skor, dan satu medali emas yang menandai kembalinya Abdul Hafiz ke puncak.
