Bogor (ANTARA) - BPJS Kesehatan sering kali dipandang sebelah mata, namun sejatinya program ini telah membantu jutaan masyarakat Indonesia mendapatkan layanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau. Banyak peserta yang baru benar-benar menyadari pentingnya memiliki jaminan kesehatan setelah mengalaminya sendiri. Salah satunya adalah Rusman (50), seorang peserta BPJS Kesehatan dengan segmentasi Penerima Bantuan Iuran (PBI) Daerah Cilandak, yang merasakan langsung manfaatnya saat harus dirawat di rumah sakit.
Rusman mengisahkan pengalamannya ketika mengalami sakit tipus beberapa waktu lalu. Awalnya ia hanya merasa demam dan tidak enak badan, namun kondisi tubuhnya semakin menurun hingga akhirnya harus dibawa ke rumah sakit.
“Saya dulu sempat dirawat karena tipus. Awalnya saya kira cuma demam biasa saja, tapi tiba-tiba drop terus dan harus masuk rumah sakit. Untungnya saya punya BPJS Kesehatan aktif, walaupun peserta PBI. Saya hanya menunjukkan kartu peserta saat itu, langsung ditindaklanjuti untuk dirawat,” ungkapnya saat ditemui, Rabu (29/10).
Baca juga: Pengalaman Berobat dan Harapan Keluarga tentang Pentingnya BPJS
Selama menjalani perawatan, Rusman merasa sangat terbantu. Semua kebutuhan medisnya, mulai dari kamar inap, obat-obatan, infus, hingga pemeriksaan laboratorium, seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan tanpa ada biaya tambahan sedikit pun.
“Selama dirawat saya dapat kamar inap, obat, infus, bahkan saat saya cek darah itu juga ditanggung, ya. Saya sama sekali tidak mengeluarkan sepeser pun,” ujarnya dengan rasa syukur.
Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa BPJS Kesehatan memberikan perlindungan finansial yang sangat berarti bagi setiap pesertanya. Banyak masyarakat baru menyadari besarnya biaya pengobatan ketika mereka sendiri mengalami sakit dan harus dirawat. Dengan adanya BPJS Kesehatan, peserta tidak perlu lagi khawatir terbebani biaya yang besar saat membutuhkan layanan kesehatan.
“Saya bersyukur sekali aktif sebagai peserta JKN dan mendapatkan bantuan iuran dari pemerintah daerah. Tidak ada perbedaan antara peserta mandiri dengan peserta PBI. Rasanya seperti rezeki bagi saya, karena iurannya sudah dibayarkan dan saya tetap mendapatkan pelayanan yang baik,” tambahnya.
Baca juga: Perlindungan BPJS Kesehatan membantu Di masa kehamilan dan persalinan
Menurut Rusman, pelayanan yang diberikan rumah sakit maupun tenaga medis kepada peserta BPJS Kesehatan kini jauh lebih baik dibandingkan dulu. Ia merasa nyaman dan puas dengan perhatian yang diberikan selama proses pengobatan.
“Sekarang pelayanannya bagus, tidak dibeda-bedakan. Dokternya juga ramah dan perawatnya cepat tanggap. Dulu orang suka bilang kalau pakai BPJS antrenya lama, tapi kenyataannya tidak seperti itu,” tuturnya.
Selain pelayanan yang setara, iuran BPJS Kesehatan juga dinilainya sangat ringan jika dibandingkan dengan biaya pengobatan mandiri. Dengan membayar iuran setiap bulan, peserta sudah mendapatkan perlindungan kesehatan yang bisa digunakan kapan saja saat dibutuhkan.
“Saya selalu menggunakan BPJS Kesehatan untuk berobat. Dengan BPJS semuanya ditanggung. Kalau pakai biaya pribadi, saya belum tentu bisa membayarnya. Bersyukur sekali saya bisa punya kartu BPJS Kesehatan,” ucap Rusman.
Baca juga: BPJS Kesehatan penolong disaat darurat dan mudah untuk pindah faskes
Pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap program JKN. Jika dulu ia menganggap BPJS Kesehatan hanya sekadar kartu biasa, kini ia memahami bahwa kartu tersebut adalah bentuk nyata perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat.
“Semenjak kejadian itu, saya jadi rutin kontrol kalau merasa tidak enak badan. Saya tidak ragu lagi datang ke fasilitas kesehatan karena tahu ada perlindungan. Obat yang diberikan juga lengkap setiap kali periksa, dan semuanya gratis,” katanya.
Rusman menegaskan bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal pola makan atau gaya hidup, tetapi juga memastikan diri memiliki jaminan kesehatan ketika tubuh membutuhkan perawatan.
“Kalau harus bayar sendiri, biayanya sangat mahal. Jadi saya benar-benar bersyukur punya BPJS Kesehatan. Program ini sangat membantu masyarakat kecil seperti saya,” tutupnya.
