Bogor (ANTARA) - Bagi Sutrisno (63), warga Citeureup, Kabupaten Bogor, program jaminan kesehatan nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan bukan hanya sekedar kartu identitas kesehatan, tetapi telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Selama kurang lebih tujuh tahun menjadi peserta pekerja bukan penerima upah (PBPU) atau peserta mandiri di kelas 2 setelah masa pensiunnya, Sutrisno merasakan langsung manfaat besar dari program ini, terutama dalam mendukung pengobatan penyakit jantung yang dideritanya.
“Saya kurang lebih sudah tujuh tahun jadi peserta JKN di kelas 2. Sejak awal daftar sampai sekarang, saya merasa sangat terbantu. Apalagi saya masuk kelompok program rujuk balik (PRB) karena penyakit jantung yang harus kontrol rutin. Alhamdulillah, sampai saat ini pelayanannya selalu baik dan tidak pernah mengecewakan,” tuturnya, Senin (30/06).
Sebagai peserta yang tergabung dalam PRB, Sutrisno menjalani pemeriksaan kesehatan, baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) maupun fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Setiap bulan, ia melakukan pengambilan obat dan pemeriksaan guna memastikan kondisi jantungnya tetap stabil.
“Obat-obatan selalu tersedia, semua dilayani dengan baik. Yang penting kita taat prosedurnya aja, insya Allah semua lancar,” tambahnya.
Baca juga: Jamaliyah, nenek 74 tahun terbantu BPJS Kesehatan
Baca juga: Rekonsiliasi iuran dan data kepesertaan bersama Pemkab Bogor dukung Program JKN
Tidak hanya sebagai kelompok PRB, ia juga pernah menggunakannya untuk pelayanan dan rawat inap selama ia menggunakan BPJS Kesehatan sebagai jaminannya. Ia menceritakan pengalamannya saat mendapatkan fasilitas yang diberikan saat ia dirawat inap.
“Saya pernah dirawat inap saat sakit tipes selama beberapa hari di rumah sakit, saya tidak pernah mendapat pelayanan buruk, fasilitas yang diberikan semuanya sangat baik. Padahal saya peserta mandiri dengan kelas 2. Dari saya di klinik sampai saya dapat rujukan, saat administrasi mudah ternyata hanya pakai Mobile JKN tidak menunggu lama juga,” ujarnya.
Menurut Sutrisno, salah satu hal yang paling ia syukuri adalah kemudahan akses layanan. Meskipun menderita penyakit kronis, dirinya merasa pelayanan yang diberikan pihak fasiltas kesehatan (faskes) tetap ramah dan sesuai dengan layanan yang seharusnya diberikan. Ia juga memuji sistem antrean yang semakin membaik, terutama setelah adanya aplikasi Mobile JKN yang memudahkan pendaftaran layanan.
“Sekarang udah ada aplikasi Mobile JKN jadi bisa lebih gampang buat daftar antrean, setiap ingin berobat harus daftar lewat aplikasinya. Sudah lumayan bisa sih cuma harus diajari juga kalau lupa. Mudah untuk d akses dari manapun, ternyata juga bisa ubah faskes setiap 3 bulan sekali,” katanya.
Baca juga: Jalani operasi benjolan payudara, berkat JKN permudah penyembuhan
Ia mengaku bahwa sejak ia pensiun, BPJS Kesehatan tetap menjadi andalan untuk mengakses layanan kesehatan tanpa harus khawatir soal biaya.
“Waktu saya masih kerja, saya juga sudah didaftarkan. Nah sekarang setelah pensiun, tetap saya lanjutkan. Dan sejauh ini nggak ada kendala, kalaupun ada saya langsung ajukan pengaduan ke BPJS ataupun faskes,” ujarnya.
Tidak hanya memberikan layanan yang terbaik, Sutrisno juga sangat bersyukur dengan hadirnya Program JKN. Pelayanan dan edukasi yang diberikan sangat membantu sekali untuk dirinya. Menurutnya, informasi mengenai hak dan kewajiban peserta yang disampaikan melalui pamflet, sosialisasi ataupun iklan di faskes sangat membantu dirinya memahami sistem JKN secara menyeluruh.
“Kalau iuran saya usahakan selalu tepat waktu. Dan saya tahu hak saya untuk pelayanan kesehatan saya dan selama saya pensiun juga dari pelayanan tidak ada kendala dan semua diarahkan dengan baik, alasan saya mengaktifkan BPJS lagi juga karena pelayanan yang diberikan sangat ramah dan tidak ada kesulitan sama sekali,” ungkapnya.
Dengan kemudahan yang diberikan, Sutrisno semakin yakin dengan keaktifannya sebagai peserta JKN adalah salah satu keberuntungannya (MI/sd).
