Palu (ANTARA) - Matanya tak kuasa menahan air mata turun saat mengisahkan kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami belasan tahun lalu.
"Aduh saya jadi menangis ini kalau saya cerita tentang rumah tangga saya, saya jadi teringat lagi," kata Herdawati (41) seraya menyeka matanya.
Herdawati adalah relawan sosial Wahana Visi Indonesia (WVI) dengan area kerja RW 2, Kelurahan Baru, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Perempuan asal Bugis itu telah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT); Kekerasan psikis hingga kekerasan fisik telah ia rasakan selama belasan tahun, bahkan Eda, panggilan karib Herdawati, sempat dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis.
Namun dia bertahan, hingga kini pernikahannya sudah berusia 23 tahun.
"Kalau saya mengakhirinya, kasihan anak-anak saya toh?" kata ibu dari dua anak ini.
Eda bergabung menjadi relawan sosial WVI sejak 2016 sebagai panggilan hati karena pernah menjadi korban kekerasan.
"Saya salah satu korban kekerasan yang tanpa saya sadari. Dulu saya bingung mau melaporkan ke mana. Saya minta perlindungan ke mana. Jadi itu juga mungkin yang mendorong saya tertarik untuk bergabung di WVI," kata dia.
Wahana Visi Indonesia telah melakukan intervensi sosial di Kelurahan Baru sejak 2010. Bersama para relawan sosial lainnya, Eda mendapatkan pelatihan-pelatihan pengembangan kapasitas dari WVI tentang perlindungan perempuan dan anak, pemberdayaan perempuan, hingga pemenuhan hak anak.
Eda pun melakukan advokasi terhadap keluarga-keluarga di lingkungannya serta melakukan pendampingan terhadap kasus-kasus perkawinan anak dan anak putus sekolah.
Halaman rumah jadi sanggar
Pada 2011, Melati mulai menginisiasi Kelompok Belajar Anak (KBA), dengan memanfaatkan halaman rumahnya sebagai sanggar.
Dua kali sepekan pada sore hari, KBA diadakan. Kegiatannya, anak-anak bermain permainan tradisional, menari, bermusik dengan menggunakan peralatan seadanya.
Pelaksanaan KBA tidak selalu mulus karena pada 2012 terjadi konflik antardesa yang membuat masyarakat takut dan anak-anak trauma.
Lalu pada 2018, Sulawesi Tengah dihantam gempa, tsunami, dan likuifaksi.
2019, pandemi COVID-19 terjadi. Saat itu, KBA tetap dilakukan, tapi secara daring.
Di tahun yang sama, dibentuk kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).
Bersama para relawan sosial lainnya, Melati terus melakukan advokasi mengenai perlindungan anak kepada masyarakat.
Masyarakat Desa Padende kini semakin memahami bahaya kekerasan terhadap perempuan dan anak dan cara mencegahnya.
"Kata-kata kasar yang menjadi budaya di sini secara turun-temurun, tidak boleh lagi dilakukan. Mereka memahami ini dari pelatihan," katanya.
Hal positif lainnya, para orang tua di Desa Padende tidak lagi memandang kasus kekerasan sebagai aib untuk disembunyikan.
"Sekarang mereka sudah paham bila anak mereka mengalami kekerasan seksual, akan melaporkan," katanya.
Intervensi WVI di desa tersebut bukan tanpa halangan. Masyarakat setempat awalnya menyangka ada maksud terselubung di balik kegiatan sosial dan kemanusiaan WVI. Namun Melati tak goyah. Ia meyakini pelatihan WVI murni bertujuan mengedukasi masyarakat.
