Kabupaten Bogor (ANTARA) - Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewani (BBPMSOH) Kementerian Pertanian menegaskan pentingnya perlindungan mutu beras di pasaran, menyusul pengungkapan kasus pengoplosan beras oleh pemerintah pada awal Agustus 2025.
Kepala BBPMSOH Hasan Abdullah Sanyata menyatakan, pengawasan mutu pangan harus menjadi prioritas agar masyarakat tidak dirugikan oleh praktik curang dalam distribusi bahan pokok, khususnya beras.
“Masyarakat berhak mendapatkan mutu atau kualitas beras yang sesuai dengan harga jual yang dibayarkan. Dalam menjaga mutu, BBPMSOH menjadi garda terdepan,” kata Hasan di Bogor, Jawa Barat, Rabu.
BBPMSOH turut mendukung langkah tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Satgas Pangan Mabes Polri dalam membongkar peredaran beras oplosan. Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap kualitas pangan nasional.
Hasan menyatakan akan terus memperkuat sistem pengawasan mutu beras melalui pengujian laboratorium, edukasi publik, serta sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait. Upaya ini dilakukan untuk menjamin bahwa produk beras yang beredar sesuai dengan standar keamanan dan mutu.
Setelah kasus tersebut diungkap pada Selasa (5/8), sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bogor mencatat peningkatan aktivitas jual beli, khususnya untuk komoditas beras. Lonjakan pembeli terjadi karena konsumen merasa lebih percaya terhadap produk yang dijual pedagang pasar tradisional.
Kepala Pasar Leuwiliang, Mulyadi, mengatakan bahwa pergeseran perilaku konsumen mulai terlihat. Banyak warga yang beralih dari pasar modern ke pasar tradisional karena ingin memastikan keaslian produk yang dibeli.
“Memang ada peningkatan volume pembeli beras, terutama setelah munculnya pemberitaan mengenai kasus beras oplosan,” ujarnya.
Pedagang beras setempat juga turut merasakan dampaknya. Haji Pepen (45), salah satu pedagang di pasar tersebut, menyebut peningkatan penjualan terjadi sejak kasus itu ramai diberitakan.
“Alhamdulillah, sejak pengungkapan kasus oleh Pak Menteri dan polisi, pembeli jadi lebih banyak. Pasar jadi ramai lagi,” katanya.
