Jakarta (ANTARA) - Nenek moyang bangsa Mesir mewariskan piramida sebagai bukti kejayaan masa lalu. Demikian pula leluhur bangsa Indonesia meninggalkan candi Borobodur yang menjadi salah satu situs warisan dunia.
Bangunan fisik hasil karya teknologi dan arsitektur masa lalu itu tak lagi diragukan merupakan karya besar peradaban manusia.
Namun, banyak yang tak menyadari bahwa sawah juga karya agung nenek moyang Bangsa Indonesia.
Dulu para ahli dari negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia belajar ke Indonesia untuk mencetak sawah yang produktif bagi padi.
Memang membuat sawah bukan perkara mudah seperti dibayangkan banyak masyarakat awam. Mencetak sawah membutuhkan kesabaran dan konsistensi revolusioner agar dapat menghasilkan padi sesuai harapan.
Sawah yang baru dibuka, produktivitasnya rendah. Paling hanya 25-50 persen dari sawah produktif yang telah stabil.
Tanpa kesabaran dan konsistensi yang revolusioner, sawah bukaan baru rentan ditinggalkan pemilik atau pengelola karena membutuhkan biaya tinggi sementara hasilnya rendah.
Ketika ditinggalkan, hanya dalam waktu 6-12 bulan lahan sawah baru tersebut dapat kembali menjadi semak belukar. Jika ingin dibuka kembali menjadi sawah, maka biaya yang dibutuhkan hampir sama dengan membuka pertama kali.
Perluasan lahan
Pada sawah bukaan baru yang berasal dari tanah berupa lahan kering biasanya struktur tanah lumpur dan lapisan bajak belum terbentuk. Dampaknya laju perkolasi air tinggi dan penggunaan air menjadi boros serta pencucian hara juga tinggi.
Ketika itu, perluasan lahan untuk membuka sawah banyak dilakukan ke tanah-tanah marginal seperti Oxisols, Ultisols, Inceptisols berpirit, dan Histosols.
Musababnya, tanah yang baik seperti Vertisols, Andisols, Alfisols, dan sebagian besar Inceptisols sudah hampir habis karena menjadi sentra pertanian yang telah eksis atau bahkan sebaliknya telah beralih fungsi menjadi area non-pertanian dengan pemilik yang tidak berminat sama sekali untuk membuka lahan pertanian.
Pada lahan kering yang dirubah menjadi sawah, maka kendala awal dijumpai adalah produktivitas lahan rendah.
Hal itu karena perubahan kondisi dari kering menjadi basah membuat 1) konsentrasi kation-kation yang semula tidak bersifat racun, menjadi bersifat racun seperti Fe2+, dan Mn2+; 2) kekurangan Ca dan Mg; 3) K tercuci; 4) jerapan P, S, dan Mo, dan (5) pengaruh buruk dari H+, serta (6) hubungan tata air dan udara.
Keracunan besi umumnya terjadi pada tanah masam dengan kondisi tergenang seperti lahan sawah.
Penggenangan juga merangsang terbentuknya senyawa beracun seperti karbon dioksida, metan, asam organik, dan hidrogen sulfida.
Hasil penelitian rumah kaca menunjukkan bahwa pada tanah Ultisols dari Tatakarya, Lampung, hara N, P, dan K menjadi faktor pembatas pertumbuhan tanaman padi sawah cetakan baru, sedangkan pada Inceptisols dari Muarabeliti, Sumatera Selatan, ketiga hara tersebut ditambah hara S.
Hasil riset juga menunjukkan pemberian pupuk kandang dan pengembalian jerami padi yang dikombinasikan dengan pupuk Nitrogen dan Fosfor secara nyata dapat meningkatkan pertumbuhan padi.
Sementara pada lahan rawa gambut atau lahan rawa mineral sulfat masam yang diubah menjadi sawah, proses sebaliknya yang terjadi.
Lahan yang semula tergenang terus menerus atau periodik, diatur agar ketinggian airnya mengikuti kebutuhan pertumbuhan padi.
Kini Indonesia, menurut data terakhir pada 2024, memiliki luas sawah baku 7,38-juta ha. Sawah tersebut merupakan warisan para pendahulu yang harus dijaga karena membuka lahan sawah untuk berproduksi optimal tak semudah, semurah, dan secepat yang dibayangkan.
Satu hektare sawah baru dibuka hasilnya hanya 25-50 persen menjadi sawah produktif, sehingga jika hilang 1 ha sawah yang produktif, maka harus dibuka lahan dengan luasan 2-4 kali lipat dengan sejumlah input dan perbaikan teknologi yang mahal.
*) Penulis adalah Peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN.
Baca juga: Karawang lakukan lakukan perluasan areal tanam baru antisipasi dampak El Nino
Baca juga: Jaga ketahanan pangan, Pemkab Purwakarta gulirkan program perluasan areal tanam baru