Bogor (ANTARA) - Ketika mendapat undangan peresmian Yayasan Andi Hakim Nasoetion (YAHN) di IPB pada tanggal 21 Desember 2025, keinginan saya untuk hadir tidak bisa terpenuhi karena ada beberapa agenda kegiatan di hari yang sama. Saya bukanlah orang yang pernah mengalami duduk sebagai mahasiswa dimana Pak Andi Hakim Nasoetion (AHN) langsung sebagai dosennya. Saya adalah pengagum Beliau karena suka membaca buku-buku yang Beliau tulis. Sebagai orang yang merasa mendapatkan berkah dari Pak AHN, saya ingin bercerita tentang Pak AHN dari sudut pandang yang lain. Supaya pembaca paham kenapa saya menulis judul di atas.

Saya mulai mengenal Pak AHN dari guru matematika SMA saya yang kebetulan adalah murid Pak AHN. Nama guru matematika saya adalah Pak Asep Zaenal Rahmat (AZR), Beliau adalah orang yang membuat saya merasa sebagai orang yang punya potensi besar di bidang matematika. Guru matematika saya ini sering bercerita tentang Pak AHN. Cerita guru saya ini membuat saya penasaran dan akhirnya saya mulai membaca buku-buku yang ditulis oleh Pak AHN.

Setelah lulus SMA, saya akhirnya memilih kuliah di IPB dengan satu harapan bisa mendapat kuliah langsung dari Pak AHN. Hanya takdir berkata lain, dalam proses perjalanannya saya memilih jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian. Jadi selama S-1, saya tidak pernah mendapatkan kuliah langsung dari Pak AHN.

Kuliah S-2 pun saya mengambil prodi Keteknikan Pertanian jadi saya tidak pernah diajar langsung di kelas oleh Beliau. Ada hal unik yang saya lakukan kepada Beliau yaitu ketika saya melihat Pak AHN dimana pun, walaupun jaraknya jauh, saya akan mengejar Beliau hanya untuk mencium tangan Beliau (mungkin waktu itu Beliau juga tidak tahu siapa saya).

Ada satu momentum menarik yang membuat interaksi saya dengan Pak AHN tidak hanya sekedar cium tangan. Semasa kuliah S-2, ada kegiatan yang membuat saya harus ke perpustakaan FMIPA IPB Baranangsiang, dan waktu itu, saya belum tahu kalau Pak AHN mempunyai ruangan khusus di perpustakaan FMIPA IPB.

Waktu itu, di mading perpustakaan FMIPA IPB, saya melihat soal IMO tahun 2000 (IMO terbaru) yang terpajang di mading perpustakaan FMIPA. Kebetulan saya sedang berdua dengan teman saya melihat soal itu. Sambil berdiri menghadap mading, saya mencoba menerangkan solusi soal IMO nomor 2 tentang pertidaksamaan kepada teman saya, kebetulan saya suka soal pertidaksamaan dan saya waktu itu suka soal olimpiade Matematika.

Tanpa saya sadari ternyata Pak AHN berdiri di belakang saya dan sepertinya Beliau mendengarkan apa yang saya terangkan kepada teman saya. Setelah itu saya dipanggil ke ruangan Beliau. Saya mengobrol sebentar dan Beliau bilang di Indonesia jarang yang mau jadi problemist. Kemudian saya jawab, insya Allah saya siap jadi problemist.

Setelah menyatakan siap jadi problemist, Beliau memerintahkan seorang staf perpustakaan FMIPA untuk melayani saya ketika mau meminjam atau memfotokopi berbagai buku matematika yang ada di perpustakaan. Inilah kesempatan berharga yang saya dapat, akhirnya saya banyak memfotokopi buku-buku matematika yang berhubungan dengan olimpiade matematika di perpustakaan FMIPA IPB. Walaupun saya kuliah S2 di Teknik pertanian tetapi saya banyak menekuni soal-soal olimpiade matematika dari buku-buku yang saya fotokopi tadi.

Sebelum lulus kuliah S-2, saya mendirikan lembaga kursus dengan nama Klinik Pendidikan MIPA (KPM) dan pekerjaan utama saya selain mengajar adalah mengerjakan soal-soal olimpiade yang bukunya saya dapat dari perpustakaan FMIPA IPB.

Perubahan besar dalam hidup saya terjadi setelah Pak AHN meninggal dunia di tanggal 4 maret 2002 dan saya melaksanakan kursus atau les dengan bayaran seikhlasnya di bulan Februari tahun 2003. Beberapa bulan setelah saya melaksanakan les bayaran seikhlasnya, saya mendapat undangan seleksi untuk menjadi pembina olimpiade matematika SD dari kemendiknas. Informasi ini saya peroleh dari guru SMA saya yaitu Pak AZR yang juga merupakan muridnya Pak AHN.

Uniknya dari seleksi ini, yang hadir hanya 2 orang yaitu saya dan Pak Mohammad Sholeh yang merupakan Deputy Leader IMO waktu Pak AHN jadi team leader IMO. Saya merasa menjadi Pembina Olimpiade Matematika Tingkat Nasional level SD karena berkah dari Pak AHN, sebab yang menghubungkan saya ke kemendiknas adalah muridnya pak AHN yaitu Pak AZR, dan mitra kerja saya yaitu Pak Mohammad Sholeh mitranya Pak AHN di IMO.

Ketika saya melatih tim olimpiade nasional, saya tidak merasa kesulitan, karena saya sudah terbiasa mengerjakan soal-soal olimpiade dari buku-buku yang saya potokopi dari perpustakaan FMIPA IPB.

Sejak menjadi Pembina tim Nasional Olimpiade SD di tahun 2003, karir saya di bidang olimpiade terus menanjak, sampai pada kondisi yang tidak bisa saya bayangkan saat ini. Saya sudah mengirimkan ribuan siswa untuk mengikuti lomba ke luar negeri, sudah menghasilkan banyak anak berbakat Indonesia kuliah di luar negeri dengan mendapat beasiswa, bisa mengadakan lomba yang diikuti ratusan ribu pelajar Indonesia di setiap tahunnya dan mendapat penghargaan dari pemerintah atas prestasi-prestasi yang saya raih di bidang matematika seperti penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia yang ke-6 Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono.

Saat ini pula, saya menjadi chairman berbagai lomba internasional, seperti lomba IMSO, WMSC dan IYE. Saya juga menjadi perwakilan Indonesia untuk berbagai lomba internasional seperti IKMC, IKSC, AMC, IMC, PMWC, ITMO, JBMO, IMCS dan ITMC. Dengan posisi ini, hampir tiap bulan, saya pergi ke luar negeri untuk urusan lomba matematika, dan Alhamdulillah dengan matematika, saya sudah menginjak di 5 benua.

Ada hal unik lagi, Alhamdulillah saya berhasil membuat buku dengan judul “Cara Berpikir Suprarasional” yang diterbitkan Penerbit Republika dan sudah menjadi buku Best Seller. Sebelum membuat buku itu, saya sengaja membaca buku tentang Pak AHN sampai habis.

Buku tersebut berjudul “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis”. Tujuan membaca buku itu agar saya bisa terinspirasi dengan cara berpikir Pak AHN sehingga proses saya dalam menulis buku bisa lancar. Alhamdulillah hal itu terwujud bahkan saya bisa membuat buku kedua yang berjudulKarakter Suprarasional” dan buku ketiga yang berjudulManusia Suprarasional”.

Tulisan yang saya buat ini untuk memberi pesan kepada banyak orang kalau Pak AHN adalah orang yang mempunyai banyak keberkahan. Keberkahan itu akan membuat seseorang naik derajat. Keberkahan Pak AHN, bukan hanya ketika beliau masih hidup, bahkan keberkahan tersebut tetap dirasakan setelah Beliau tiada, dan saya adalah buktinya.

Marilah kita terus mendoakan Pak AHN sebagai wujud rasa terimakasih kepada Beliau. Wujud terimakasih saya pribadi secara duniawi, saya buat dalam bentuk memberi nama sebuah kelas di suatu gedung sekolah dengan nama Beliau.

Gedung sekolah itu adalah wakaf saya pada sebuah madrasah. Saya memberi nama di tiap pintu-pintu kelas di madrasah tersebut, dengan nama orang-orang yang berjasa dalam hidup saya seperti kedua orangtua saya atau tokoh-tokoh yang saya kagumi salah satunya Pak AHN. Saya berharap, banyak generasi muda yang mengenal Pak AHN, supaya banyak generasi muda yang mendapat berkah dari Pak AHN.

Kembali menyambung pada paragraf awal, semoga para pembaca memahami keterhubungan tulisan saya dengan judul. Saya meyakini bahwa YAHN akan membawa keberkahan bagi pengurus, para donatur dan orang-orang yang dibantunya, karena Pak AHN mempunyai banyak keberkahan baik ketika Beliau masih hidup maupun setelah Beliau tiada.

Saya sudah merasakan keberkahan itu, ini penegasan untuk yang kedua kali. Oleh karena itu mari jadikanlah YAHN ini sebagai sarana untuk membantu generasi muda di bidang pendidikan dan sebagai sarana untuk menunjukkan rasa terima kasih kita secara dunia dan akhirat kepada Pak AHN. Insya Allah yang terlibat untuk membesarkan YAHN akan mendapatkan banyak keberkahan.

Raden Ridwan Hasan Saputra, Pendiri Klinik Pendidikan MIPA.

 

 



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026