Bogor (ANTARA) - Setelah melalui berbagai seleksi dan penilaian yang ketat dari tim juri akhirnya dari 125 karya tulis yang dikirim 79 peserta dengan rincian kategori 47 perserta dari kategori jurnalis dan 32 dari umum akhirnya terpilih 12 karya terbaik.
"Meskipun waktu pendaftaran terbilang singkat ternyata minat calon pendaftar cukup tinggi. Bahkan yang awalnya hanya 10 hari harus diperpanjang selama tujuh hari karena tingginya minat calon peserta yang ingin mendaftar," kata Ketua Panitia Lomba Karya Tulis PMI, Aditya A Rohman.
Berikut nama-nama pemenang kejuaraan karya tulis PMI dengan tema "Peran PMI Dalam Menanggulangi COVID-19" dari kategori jurnalis, Juara I disabet Ronggo Astungkoro dari Republika dengan judul "Penyedia Kantong Harapan Dalam Badai Lara".
Dari tiga juri yang bertugas untuk menilai tulisan, karya dari Ronggo mendapatkan total skor 2.340 poin. Kemudian untuk Juara II diraih M Radityo dari Liputan6.com dengan judul "PMI: Mendonor Plasma Peduli Sesama" yang mendapatkan total skor 2.332,5 poin.
Karya tulis berjudul "Saatnya Para Mantan Menjadi Pahlawan" karya Lilik Darmawan dari Media Indonesia menjadi Juara III dengan total skor yang diberikan dewan juri 2.255 poin.
Kemudian untuk juara Harapan I diraih Sri Darni dari RRI dengan judul "PMI Jelajahi Pulau Terluar untuk Edukasi Tiada Henti (PHBS)" mendapatkan skor 2.227 poin. Kemudian Oryza A Wirawan dari Berita Jember dengan judul karya tulis "PMI Jember, ‘Superman’ yang Berutang" didaulat menjadi juara Harapan II dengan total skor 2.187,5 poin.
Terakhir di posisi juara Harapan III ditempati Novantar Ramses dari Pontianak Post dengan judul "Setitik Nurani di Tengah Pandemi" mendapatkan total skor 2.122,5 poin.
Sementara, enam terbaik untuk kategori umum diposisi puncak atau Juara I diraih Putri Aulia Faradina dengan judul "Pandemi COVID-19 Merebak, Palang Merah Indonesia Bergerak", dari hasil penilaian dewan juri karya tulis ini mendapatkan skor total 2.115 poin.
Posisi Juara II diduduki oleh Prima Gandi dengan judul "Ujung Tombak Terapi Plasma Kovalesen saat Pandemi". Dewan juri memberikan skor 2.050 poin untuk karya tulis. Kemudian Juara III di kategori ini diraih santriwati asal Sukabumi yakni Siti Saadah dengan judul karya tulis "Relakan Keringat Hingga Nyawa Agar Indonesia Terbebas Dari Belenggu Pandemi COVID-19". Dewan juri pun menghadiahi skor 1.685 poin.
Selanjutnya, relawan PMI Banjanegara M Alwan Rifai didaulat menjadi juara Harapan I dan III. Adapun dua karya tulis yang dikirimnya yakni "Setia Mengawal Protokol Kesehatan" dengan skor 1.675 poin serta "Kesembuhan Saudara Kita Ada Di Plasma Darah Anda" dengan total skor 1.535 poin.
Sementara untuk di posisi juara Harapan II diduduki Farhan Rahmanda Putra yang merupakan mahasiswa yang mengirimkan karya tulis berjudul "Sepak Terjang PMI Tangani Pandemi" dengan total skor 1.620 poin.
"Kepada para pemenang kami ucapkan selamat dan bagi yang belum terpilih kami ucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas karya-karyanya yang telah dikirim dan kami mungkin di kesempatan berikutnya bisa menjadi juaranya," tambah Aditya.
Hasil penilaian dewan juri dalam kejuaraan karya tulis ini bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, karena setiap karya tulis yang dikirimkan peserta melalui berbagai tahap ketat mulai ditingkat panitia hingga masuk ke meja dewan juri.
Di tingkat panitia, karya tulis yang masuk diperiksa terlebih dahulu kelengkapan syarat-syaratnya, setelah dinyatakan lengkap kemudian masuk tahap berikutnya yakni uji similarity untuk mengetahui apakah karya tulis yang didaftarkan bukan hasil plagiat.
Total 79 karya tulis yang dikirim 47 peserta pada kategori jurnalis yang lolos persyaratan tingkat panitia sebanyak 37 karya tulis yang merupakan karya dari 33 jurnalis, setelah itu baru diserahkan ke masing-masing juri untuk dinilai.
Setiap karya tulis yang diserahkan ke dewan juri, pihak panitia terlebih dahulu menghapus seluruh identitas yang tercantum dalam naskah baik nama peserta maupun medianya. Aturan ini diberlakukan untuk memastikan bahwa penilaian yang diberikan juri benar-benar objektif dan tidak ada "kongkolikong", sehingga dewan juri tidak tahu siapa pembuat dan dari media mana naskah yang dinilainya.
Ada lima kriteria penilaian yang harus dinilai oleh masing-masing juri dari setiap karya tulis. Tentunya, tidak mudah bagi juri untuk memberikan poin kepada setiap naskah yang sedang dinilainya, karena seluruh karya tulis memiliki gaya penulisan yang berbeda dan sudah pasti berkualitas.
Sementara untuk kategori umum jumlah karya tulis yang masuk sebanyak 56 naskah dari 32 peserta yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari relawan PMI, humas pemerintahan, satgas COVID-19, mahasiswa, santri hingga doses jurnalistik. Bahkan, di kategori ini ada satu peserta yang baru berusia 13 tahun yakni Rana Nabilah dengan judul karya tulis "Peran PMI di Tengah Pandemi COVID-19". Meskipun belum terpilih menjadi pemenang, tetapi panitia dan juri memberikan apresiasi kepada pelajar tersebut.
Adapun jumlah karya tulis yang memenuhi persyaratan dan lolos ke tahap penilaian dari dewan juri sebanyak 24 naskah dari 19 peserta. Sama seperti kategori jurnalis, pada kategori umum pun menerapkan peraturan, tahapan dan penilaian yang sama.
Banyaknya naskah karya tulis yang tidak lolos persyaratan dikarenakan syarat tidak lengkap, di luar tema yang telah ditentukan, sumber rilis (kategori jurnalis) hingga dinilai plagiat.
Tidak hanya itu, saja naskah yang telah dinilai kemudian direkap dan dipilih 12 karya tulis terbaik dengan skor tertinggi yang masing-masing kategori di pilih enam karya tulis untuk dimasukan sebagai nominasi pemenang.
Di puncak penentun siapa yang paling layak menjadi pemenangnya, dilakukan sidang dewan juri dan panitia hanya menjadi notulen serta dilarang sedikit pun memberikan masukan. Sidang penentuan siapa yang layak didapuk menjadi juara utama dan harapan, setiap juri mengeluarkan berbagai argumen dan alasan karya tulis tersebut mendapatkan skor tinggi, setelah masing-masing juri mengeluarkan pendapatnya dan menetapkan keputusan, barulah nominasi ditetapkan menjadi pemenang.
"Tahapan yang berlapis hingga penetapan pemenang dilakukan secara objektif dan tidak ada unsur kecurangan sedikit pun ataupun pilih kasih," ujarnya.
Kepada para pemenang panitia mengucapkan selamat dan tidak lupa kepada seluruh peserta panitia pun ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kerja keras dan usaha untuk bisa mengikuti kerjuaraan karya tulis PMI.
Kepada yang belum beruntung, tidak perlu kecewa apalagi kesal, karena masih akan ada kesempatan untuk mengikuti kejuaraan karya tulis ini di kemudian hari. "Bukan berarti naskah karya tulis yang belum menang ini tidak berkualitas. Dan kepada pemenang agar segera menghubungi panitia di nomor Whatsapp untuk mengisi form pengiriman hadiah," ucapnya.
Sementara, Kabag Humas PMI Pusat Ratna Komala mengatakan kejuaraan karya tulis tingkat nasional ini sudah direncanakan sejak tahun lalu, namun tertunda karena pandemi COVID-19, sehingga setelah melalui berbagai proses komunikasi dan diskusi meskipun hanya melalui daring dengan pihak BPJ LKBN
Antara akhirnya kejuaraanya ini bisa terlaksana.
Dengan waktu yang singkat ini, mulai dari penetapan waktu pendaftaran, seleksi naskah karya tulis, penilaian juri, hingga penetapan pemenang berjalan dengan lanca. Baik panitia maupun juri bertugas sesuai tugas, pokok dan fungsi (tupoksi|) serta tidak ada tekanan apalagi sampai bertindak curang, karena tujuan dari kejuaraan ini tidak hanya sebatas mencari yang terbaik atau pemenang saja.
Tetapi melalui karya tulis yang dibuat peserta bisa turut memberikan edukasi, sosialisasi, imbauan serta masukan terkait penangana COVID-19 khususnya yang dilakukan oleh PMI.
Selamat kepada pemenang kejuaraan karya tulis PMI
Sabtu, 11 September 2021 16:47 WIB
Poster pengumuman hasil Lomba Karya Tulis PMI. (Antara/Aditya).
Kepada para pemenang kami ucapkan selamat dan bagi yang belum terpilih kami ucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas karya-karyanya yang telah dikirim dan kami mungkin di kesempatan berikutnya bisa menjadi juaranya
