"Blewah ini dari Jawa bukan asli Bogor. Jadi cuma adanya saat Ramadhan aja,"Bogor (Antara) - Pedagang buah Blewah mulai bermunculan pada bulan Ramadhan, namun diawal bulan puasa ini jumlahnya tidak banyak karena harganya yang relatif mahal.
"Masih awal Ramadhan harga jualnya masih mahal satuannya bisa Rp10.000-an," kata Dai salah seorang pedagang buah di Pasar Anyar saat ditemui, Rabu.
Menurut Dai, setiap awal Ramadhan harga blewah memang sedikit mahal.
Oleh karena itu sejumlah pedagang menyiasatinya tidak banyak menjual blewah hingga memasuki seminggu puasa.
Selain karena tradisi, kenaikan harga blewah juga imbas dari kenaikan harga BBM.
"Iya karena ongkos kirimnya naik bersamaan dengan baik harga BBM," katanya.
Blewah-blewah tersebut diambil oleh pedagang dari Pasar Induk Kemang.
Berbeda dengan Timun Suri, Blewah didatangkan dari wilayah Jawa.
"Blewah ini dari Jawa bukan asli Bogor. Jadi cuma adanya saat Ramadhan aja," kata Dai.
Kebanyakan pedagang blewah yang bermunculan di pasar adalah pedagang musiman yang sehari-hari berjualan di pasar.
Selama Ramadhan, pedagang ini mencoba mencari keuntungan dengan beralih menjual aneka penganan di bulan puasa.
Seperti Edy (35) yang sehari-hari berjualan buah-buahan memilih berjualan blewah saat Ramadhan.
"Ya karena buah ini paling diminati selama Ramadhan," katanya.
Tingginya harga blewah membuat Edy tidak terlalu membeli banyak blewah. Ia hanya mampu memesan 10 kg saja.
"Nanti kalau sudah tengah Ramadhan baru kurang. Biasanya harganya bisa Rp6.000 sampai Rp7.000," katanya.
Selain blewah, pedagang Timun Suri juga marak bermunculan selama Ramadhan. Keberadaan pedagang ini menyebar di seluruh pasar tradisional dan dibeberapa pedagang buah pinggir jalan.
Pewarta: Oleh Laily RahmawatiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026