Natuna (ANTARA) - Rabu (20/5) Pagi itu, laut Natuna belum benar-benar tenang ketika seekor sapi limosin berbobot hampir 900 kilogram berdiri di atas pompong kayu (kapal tradisional yang terbuat dari bahan kayu) di Pelabuhan Teluk Buton.

Ombak kecil memukul lambung kapal berulang-ulang, sementara sejumlah petugas berdiri siaga di sekeliling hewan besar itu.

Di kejauhan, langit tampak cerah. Namun bagi mereka yang berada di pelabuhan, perjalanan menuju Pulau Laut tetap menyimpan kecemasan.

“Jangan terlalu dekat,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna, Wan Syazali, kepada warga dan penumpang yang mulai berkerumun.

Instruksi itu terdengar sederhana, tetapi penting. Sedikit kepanikan saja bisa membuat sapi salah melompat. Jika itu terjadi di tengah dermaga kayu yang sempit, risikonya bukan hanya hewan tersebut stres, tetapi juga bisa tercebur ke laut.

Begitulah pagi itu dimulai di Natuna. Hari ketika seekor sapi kurban bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diberangkatkan menuju Pulau Laut, sebuah pulau kecil di ujung utara Indonesia yang selama ini lebih akrab dengan sunyi, ombak, dan jarak yang panjang dari pusat kekuasaan.

Bagi sebagian orang di kota besar, sapi kurban presiden mungkin hanya berita seremonial tahunan. Namun bagi masyarakat Pulau Laut, kedatangan sapi itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Sapi.itu bukan sekadar hewan kurban, tapi adalah tanda bahwa negara masih mengingat mereka.

Kabar tentang bantuan sapi presiden sebenarnya sudah lebih dulu menyebar dari mulut ke mulut. Dari warung kopi hingga pelantar rumah warga, orang-orang mulai membicarakan satu hal yang sama: Pulau Laut akhirnya mendapat sapi kurban presiden untuk pertama kalinya.

Di pulau perbatasan seperti itu, kabar kecil bisa menjadi peristiwa besar.

Sapi tersebut dibeli dari seorang peternak lokal di Kecamatan Bunguran Timur bernama Mondosia. Di kandang sederhana miliknya yang berada cukup jauh dari permukiman warga, pria itu merawat sapi-sapinya dengan cara yang nyaris tidak berubah selama bertahun-tahun.

Pagi hari sapi dilepas ke area terbuka. Sore hari baru dimasukkan kembali ke kandang.

Menurut Mondosia, sapi juga punya suasana hati.

“Sapi yang terlalu lama di kandang gampang stres,” katanya suatu ketika sambil memperhatikan ternaknya.

Karena itulah ia membiarkan hewan-hewan peliharaannya bergerak bebas sejak pagi hingga petang. Cara sederhana itu ternyata membuat ternaknya tumbuh sehat dan berbobot besar.

Sapi jantan miliknya bahkan sering dipinjam peternak lain untuk mengawini sapi betina mereka.

“Tempat mereka kawin sudah saya siapkan,” ujarnya sambil menunjuk kandang kecil di samping area utama peternakan.

Tak banyak yang menyangka, dari kandang sederhana di Natuna itulah lahir sapi yang kemudian menempuh perjalanan panjang menuju pulau terluar Indonesia.

Menjelang keberangkatan, suasana pelabuhan perlahan berubah tegang. Petugas mulai mengatur posisi warga, memastikan jalur pemindahan sapi tetap aman.

Ketika tubuh besar sapi itu akhirnya bergerak naik ke pompong, semua mata tertuju ke satu arah. Beberapa orang menahan napas.

Kayu kapal berderit pelan saat menahan bobot 879 kilogram itu. Ombak kecil membuat kapal bergoyang sebelum perlahan menjauh dari dermaga.

Penuh Perjuangan

Perjalanan menuju Pulau Laut memakan waktu sekitar empat setengah jam. Laut Natuna hari itu tidak terlalu bersahabat.

Baru beberapa menit meninggalkan pelabuhan, pompong sempat miring ke kanan ketika sapi bergerak ke sisi yang sama. Sebagian penumpang spontan berpegangan pada sisi kapal.

Gelombang setinggi setengah hingga satu meter terus datang bergantian menghantam lambung pompong. Setiap ayunan membuat penumpang bergeser mengikuti arah kapal.

Ada yang memilih rebahan di lantai kayu untuk mengurangi rasa mual. Ada pula yang lebih dulu menelan pil antimabuk sebelum perjalanan dimulai.

Beruntung, pompong saat itu juga mengangkut bahan pangan, kendaraan roda tiga bantuan pemerintah, serta sejumlah pimpinan dan staf organisasi perangkat daerah di Natuna. Muatan tambahan membantu menjaga keseimbangan kapal agar tidak terlalu limbung.

Dalam perjalanan mengarungi ombak yang membuat sebagian penumpang pucat, sapi itu justru tampak paling tenang. Sesekali ia hanya mengangkat kepala, lalu kembali diam sambil mengunyah sesuatu.

Di atas kapal, tim DKPP Natuna dan petugas Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau terus memantau kondisinya. Pengawasan terhadap sapi tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak April 2026, setelah ditetapkan sebagai hewan kurban presiden.

Dokter hewan rutin memeriksa kondisi fisik dan memastikan asupan pakan sesuai kebutuhan.

Menjelang sore, Pulau Laut akhirnya terlihat dari kejauhan.

Di pelabuhan kecil itu, warga ternyata sudah menunggu sejak siang. Anak-anak berdiri di sisi dermaga, sementara orang dewasa berkerumun sambil mencoba melihat ke arah laut.

Begitu pompong merapat, suasana langsung berubah riuh.

Sapi yang kemudian dipanggil “Dawang” itu perlahan dituntun turun dari kapal. Tidak ada perlawanan. Tubuhnya yang tinggi dan besar justru melangkah tenang melewati pelabuhan.

Warga spontan mengangkat telepon pintar mereka. Ada yang merekam secara vertikal. Ada pula yang memiringkan layar agar tubuh sapi terlihat penuh di kamera.

Warga Pulau Laut saat melihat dawang di Desa Air Payang pada Mei 2026. ANTARA/Muhamad Nurman

 

“Besar sekali sapinya,” ujar seorang warga sambil tersenyum kagum.

Di sepanjang jalan menuju kandang di Desa Air Payang, warga berdiri berjauhan mengikuti arahan petugas. Namun hampir semua mata tetap tertuju pada Dawang.

Dawang berjalan perlahan, seolah tidak menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian warga satu pulau kecil.

Sesampainya di kandang, warga kembali berdatangan silih berganti. Ada yang hanya ingin melihat dari dekat. Ada pula yang sengaja datang untuk berfoto.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kedatangan seekor sapi kurban ternyata mampu menghadirkan kegembiraan sederhana yang sulit dijelaskan. Mungkin bagi masyarakat perbatasan, perhatian sekecil apa pun dari negara selalu memiliki arti besar.

Keesokan harinya, Kamis, 21 Mei 2026, sapi itu resmi diserahkan kepada masyarakat Pulau Laut oleh Bupati Natuna, Cen Sui Lan, bersama Wakil Bupati Jarmin.

Dawang mungkin hanya seekor sapi, tapi ia akan menjadi cerita yang selalu diingat warga Pulau Laut untuk waktu yang lama.

Bukan hanya karena ukuran tubuhnya yang besar, melainkan karena dari seekor sapi kurban, mereka merasa dilihat oleh negara yang selama ini berdiri sangat jauh di seberang lautan.

 



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026