Jakarta (ANTARA) - Perusahaan teknologi kecerdasan buatan (Al) asal Korea Selatan, Dabeeo, memperkuat ekspansinya di pasar agrikultur Asia Tenggara melalui penerapan solusi analitik spasial dan pemetaan berbasis Al di sektor perkebunan kelapa sawit.

Sejak mulai beroperasi di Indonesia pada Mei 2025, Dabeeo mencatat pertumbuhan signifikan melalui kerja sama dengan sejumlah grup perkebunan besar, antara lain Salim Group, Tunas Sawa Erma (TSE) Group, dan POSCO Group melalui PT Bio Inti Agrindo (BIA).

Terbaru, Dabeeo menandatangani kontrak kerja sama dengan Triputra Agro Persada, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka di Indonesia. Selain itu, Dabeeo juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan perkebunan di Malaysia, yaitu Sawit Kinabalu,

Vice President Dabeeo, Victor Choi dalam keteramgannya, Senin menyatakan kerja sama tersebut mencerminkan kepercayaan industri terhadap solusi yang dikembangkan perusahaan.

"Kontrak ini menunjukkan bahwa solusi Dabeeo telah diakui sebagai platform terintegrasi yang menggabungkan pemantauan presisi perkebunan dengan manajemen operasional di tingkat lapangan," ujarnya.

Melalui kerja sama ini, Dabeeo akan mengimplementasikan sistem pemantauan perkebunan berbasis Al di area perkebunan kelapa sawit Triputra Agro Persada dalam skala besar.

Teknologi tersebut memanfaatkan vision Al proprietary Dabeeo untuk menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan perkebunan, melampaui metode penginderaan jauh berbasis satelit konvensional.

Sistem ini memungkinkan identifikasi individual setiap pohon, analisis kesehatan tanaman, serta deteksi perubahan kondisi kebun melalui pemrosesan citra satelit beresolusi tinggi dengan kecerdasan buatan.

Selain itu, Dabeeo mengintegrasikan analisis tiga dimensi (3D terrain analysis) dan evaluasi kesesuaian lahan guna memberikan gambaran komprehensif terkait kondisi perkebunan.

Seluruh hasil analisis disajikan melalui platform berbasis web dan aplikasi mobile, sehingga memungkinkan pertukaran data secara real time antara tim lapangan dan kantor pusat
kondisi perkebunan.

Seluruh hasil analisis disajikan melalui platform berbasis web dan aplikasi mobile, sehingga memungkinkan pertukaran data secara real time antara tim lapangan dan kantor pusat.

Salah satu fitur utama adalah integrasi data satelit berbasis Al dengan data operasional di lapangan, termasuk penandaan otomatis titik Tandan Buah Segar (TBS) yang belum terangkut dari Tempat Pengumpulan Hasil (TPH), Sistem ini membantu tim logistik mengatur rute dan armada angkut secara lebih efisien, sekaligus meminimalkan hambatan operasional seperti genangan banjir.

Seiring kerja sama strategis dengan Triputra Agro Persada, Dabeeo berencana memperluas kolaborasi dengan produsen kelapa sawit besar lainnya di Indonesia.

“Dengan menghubungkan analisis AI berbasis satelit dan data milik pelanggan, kami menghadirkan solusi yang dapat langsung diterapkan dalam kegiatan operasional perkebunan,” jelas Victor Choi"

Dabeeo juga menargetkan perluasan basis klien ke perusahaan agribisnis global, sejalan dengan strategi ekspansi regional dan penguatan posisinya di sektor agribisnis Asia Tenggara.

Didirikan pada 2012 di Korea Selatan, Dabeeo merupakan perusahaan teknologi Al yang mengembangkan solusi vision Al untuk pemantauan presisi, mulai dari identifikasi individual pohon, analisis kesehatan tanaman, hingga integrasi data operasional lapangan secara real time melalui platform web dan mobile.




Pewarta: Antara
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026