Aceh Tamiang, Aceh (ANTARA) - Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Tanjung Karang menggunakan pendekatan agama untuk melakukan pemulihan dari trauma atau trauma healing kepada santri dan santriwati yang terdampak bencana banjir bandang pada akhir November 2025.

“Kami sebagai lembaga pendidikan agama, kami menyenggol sisi religinya, ya. Kami memahamkan santri bahwasanya musibah yang menimpa seorang hamba itu dua, kalau bukan ujian, itu azab,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Tanjung Karang Mulkana ketika ditemui di Masjid Darul Mukhlisin Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Rabu.

Berdasarkan pendekatan tersebut, Mulkana menyampaikan kepada para santri untuk lebih banyak berdoa dan taat kepada ajaran agama.

“Itu bentuk trauma healing dari kami selaku orang yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam,” ucap Mulkana.

Baca juga: Akademisi bawa teknologi air siap minum ke wilayah bencana

Lebih lanjut, Mulkana mengungkapkan santri dan santriwati sesungguhnya sudah terbiasa dengan bencana banjir, sebab banjir merupakan bencana yang kerap melanda kawasan tersebut.

Akan tetapi, belum pernah ia menghadapi banjir yang semasif banjir pada November 2025 lalu.

“Banjir tahun itu yang terbesar mungkin sepanjang sejarahnya Aceh Tamiang,” kata Mulkana.

Bencana banjir bandang melanda kawasan Aceh Tamiang pada akhir November 2025. Masjid Darul Mukhlisin Tanjung Karang merupakan salah satu masjid yang terdampak oleh banjir bandang, sebab disertai dengan limbah bencana berupa ribuan kayu gelondongan.

Baca juga: Longsor menimbun jalan, Lut Tawar Aceh Tengah terisolir

Mulkana bersyukur gelondongan kayu tak masuk dan tak merusak sisi dalam masjid.

Menurut dia, pemulihan seharusnya membutuhkan waktu setahun. Namun, perhatian yang diberikan oleh pemerintah dan masyarakat menyebabkan pemulihan bisa berlangsung dalam kurun waktu dua bulan.

Aktivitas di masjid tercatat pulih secara perdana pada 29 Januari 2026, kurang lebih dua bulan sejak banjir bandang menerjang.

“Kerjaan yang seharusnya dikejar dalam setahun-dua tahun itu selesai dalam dua bulan kemarin. Jadi, kita ini tidak ada lagi dalam ruangan mana pun tidak ada lumpur lagi,” ujar Mulkana.

 



Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor : Heri Sutarman

COPYRIGHT © ANTARA 2026