Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebut penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat serta pelemahan harga komoditas andalan menjadi faktor utama ekspor Indonesia pada 2025 tidak mencapai target pemerintah.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS, tumbuh 6,15 persen secara tahunan. Namun, capaian tersebut masih di bawah target pemerintah sebesar 294,45 miliar dolar AS.
Faisal, saat dihubungi di Jakarta, Selasa, menilai meski ekspor meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sejumlah faktor eksternal dan domestik menahan laju pertumbuhan.
“Ekspor itu sifatnya lintas sektoral. Kekuatan ekspor kita dipengaruhi dari hulu, mulai dari daya saing pembelian bahan baku, tenaga kerja, hingga sinkronisasi kebijakan. Semua itu berujung pada daya saing ekspor,” kata Faisal.
Ia menjelaskan sebelum tarif resiprokal diberlakukan oleh Amerika Serikat, ekspor Indonesia sempat tumbuh cukup tinggi dan berpotensi tumbuh 7 persen.
Namun, tren melemah terjadi sejak Agustus 2025, diperburuk oleh penurunan harga komoditas utama seperti batu bara. “Faktor eksternal dari perlakuan tarif oleh AS mempengaruhi ekspor kita. Walaupun lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, tapi tidak mencapai target,” ujarnya.
Baca juga: Ekonom ungkap bahwa alasan Danantara berminat jadi pemegang saham di BEI
Selain faktor eksternal, Faisal menyoroti tantangan domestik berupa potensi inflasi produsen yang meningkatkan biaya produksi, terutama dalam pembelian bahan baku. Kondisi ini berdampak pada harga produk, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.
Menurut dia, kombinasi hambatan perdagangan global dan tekanan biaya produksi di dalam negeri membuat capaian ekspor Indonesia pada 2025 tidak sesuai dengan target pemerintah.
Faisal menambahkan tantangan serupa bahkan berpotensi lebih berat pada 2026, seiring kebijakan perdagangan AS yang semakin ketat dan risiko inflasi produsen di dalam negeri. Sejalan dengan total ekspor, BPS mencatat nilai ekspor nonmigas mencapai 269,84 miliar dolar AS atau naik 7,66 persen.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari–Desember 2025, hampir semua mengalami peningkatan, kecuali bahan bakar mineral yang turun 19,18 persen atau 7,61 miliar dolar AS.
Sementara komoditas dengan peningkatan tertinggi adalah lemak dan minyak hewani/nabati yang naik 27,94 persen atau 7,50 miliar dolar AS. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan naik 14,47 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan juga meningkat 21,01 persen, sedangkan ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 23,00 persen.
Baca juga: CORE: Perbaikan infrastruktur vital untuk pemulihan ekonomi Sumatera
