Karawang, Jawa Barat (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Cabang Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menyatakan penyerapan gabah kering panen pada Januari 2026 rata-rata mencapai 1.500 hingga 2.500 ton per hari.
"Penyerapan gabah itu dilakukan langsung dari petani," kata Kepala Perum Bulog Cabang Karawang Umar Said di Karawang, Jabar, Sabtu.
Ia menyampaikan jika diasumsikan satu petani menjual sekitar 10 ton gabah, maka ada 250 petani atau titik panen yang gabahnya telah diserap Bulog Karawang.
Di tengah cuaca ekstrem seperti saat ini Bulog Karawang memastikan melakukan serapan gabah dengan kualitas seadanya.
Baca juga: Bulog Bogor serap 435 ton gabah petani sesuai HPP Rp6.500
"Semua kualitas gabah kami terima. Prinsipnya, gabah petani tidak boleh ditolak selama sudah memasuki masa panen dan bulir padinya sudah bersih terpisah dari kotoran atau jerami dan benda lain," kata dia.
Umar Said mengatakan, secara umum Bulog Karawang telah menyerap 14.041 ton gabah kering panen sepanjang Januari 2026.
Sekitar 80 persen gabah yang diserap tersebut merupakan gabah milik petani yang areal sawahnya terdampak banjir.
Menurut dia, penyerapan gabah dilakukan sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram, meski harga di pasar mengalami penurunan signifikan.
Ia mengakui banjir yang melanda areal sawah saat ini memang berdampak terhadap penurunan harga gabah, hingga mencapai di kisaran harga Rp2.500 sampai Rp3.000 per kilogram.
Kondisi tersebut berpotensi merugikan petani jika tidak ada intervensi dari pemerintah, sehingga Bulog turun untuk melakukan pembelian gabah sesuai dengan HPP.
Dalam situasi harga di bawah HPP, petani memiliki hak untuk menahan penjualan gabah atau memilih menjualnya langsung ke Bulog sesuai dengan harga sesuai HPP, seperti apapun kualitasnya.
Baca juga: Pemkab Cianjur lakukan pendataan penyebab gagal panen di Ciranjang
Sementara itu, banjir yang melanda sejumlah wilayah Karawang telah terjadi selama dua pekan terakhir.
Kondisi itu terjadi akibat meluapnya sejumlah sungai besar seperti Citarum, Cibeet dan sungai lainnya menyusul tingginya intensitas hujan di daerah tersebut.
Selain merendam ribuan rumah warga dan sarana publik, banjir juga merendam ribuan hektare areal persawahan yang tersebar di sejumlah daerah sekitar Karawang.
