Penajam Paser Utara (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, memprioritaskan penanganan dan pencegahan stunting pada 2026, guna menekan angka prevalensi penderita kekerdilan anak itu.
"Penanganan stunting tetap mendapat skala prioritas dari pemerintah kabupaten pada 2026," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara Jansje Grace Makisurat ketika ditanya menyangkut hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait kekerdilan anak di Penajam, Senin.
Berdasarkan Survei SSGI Kemenkes menempatkan Kabupaten Penajam Paser Utara pada posisi tertinggi di Provinsi Kalimantan Timur terkait dengan angka prevalensi stunting sekitar 32 persen.
Baca juga: Pemkot Bogor apresiasi penanganan stunting
Baca juga: Kota Sukabumi juara terbaik I audit stunting Jabar
Tetapi terdapat perbedaan prevalensi stunting berdasarkan data lokal berbasis pengukuran melalui Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) 2024 hanya 11,55 persen.
"Pemerintah kabupaten perlu kerja keras dan kolaborasi semua pihak untuk menekan angka prevalensi stunting itu," katanya.
Pemerintah pusat juga bakal memberikan anggaran berupa insentif bagi daerah yang konsisten melakukan penanggulangan dan pencegahan stunting.
Sejumlah program penanggulangan dan pencegahan kekerdilan anak tetap dilanjutkan tahun depan, jelas dia, antara lain pemberian makanan tambahan bagi anak stunting maupun ibu hamil dari keluarga kurang mampu.
Baca juga: Penanganan stunting jadi sorotan utama di Gorontalo
Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara juga tetap melanjutkan sosialisasi mengenai pola asuh anak mulai dari fase hamil hingga melahirkan, serta orang tua terus diberi edukasi terkait pola asuh anak untuk mencegah stunting.
Pemberian makanan tambahan dan edukasi orang tua tetap diprogramkan tahun depan, karena Karena harus berkelanjutan agar target penurunan angka stunting bisa tercapai, demikian Jansje Grace Makisurat.
