Jakarta (ANTARA) - Banyak pelaku usaha di desa-desa di Indonesia telah memanfaatkan serbuk gergaji sebagai media baglog jamur tiram, tetapi membiarkan limbah baglog terbuang percuma setelah panen jamur.
Di Desa Payakabung, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, potensi itu tidak lagi sekadar ide. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri), limbah baglog jamur tiram diolah menjadi pupuk organik bernilai jual.
Baglog jamur tiram terdiri atas campuran serbuk kayu, bekatul, kapur, dan nutrisi tambahan lain yang digunakan untuk menumbuhkan jamur.
Campuran ini kaya karbon dan bahan organik, yang berperan penting dalam memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroba tanah. Ketika jamur sudah tidak tumbuh, kandungan nutrisinya masih tinggi hanya saja tidak lagi cocok untuk budidaya jamur.
Dengan sedikit perlakuan tambahan, seperti penambahan kotoran hewan dan mikroba Trichoderma sp., limbah tersebut dapat diubah menjadi pupuk organik berkualitas.
Mikroba Trichoderma memiliki dua fungsi sekaligus yaitu mempercepat proses dekomposisi bahan organik dan melindungi akar tanaman dari jamur patogen di tanah.
Kombinasi alami ini menghasilkan pupuk yang mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, serta memperkuat daya tahan tanaman terhadap penyakit.
Dari hasil wawancara dengan salah satu petani jamur di Desa Payakabung, diketahui bahwa masa produktif satu periode budidaya jamur tiram berlangsung sekitar empat bulan.
Setiap periode, petani tersebut memproduksi sedikitnya 4.000 baglog. Jika setiap baglog menghasilkan limbah sekitar 7 ons, maka dalam satu periode saja terkumpul sekitar 2.800 kilogram (2,8 ton) limbah baglog.
Angka ini baru dari satu petani, sementara di Payakabung ditemukan tiga lokasi petani jamur tiram aktif. Artinya, potensi limbah di satu desa kecil ini bisa mencapai hampir 8 ton setiap empat bulan, jumlah yang sangat besar bila tidak dikelola dengan baik.
Petani tidak hanya menjual jamur tiram, tetapi juga menghasilkan produk turunan berupa pupuk organik siap pakai.
Pupuk tersebut dapat dipasarkan kepada petani tanaman pangan atau perkebunan yang membutuhkan bahan organik untuk memperbaiki tanah.
Dengan begitu, limbah dari satu komoditas dapat menjadi input bagi komoditas lain menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan.
Inilah wujud nyata ekonomi sirkular dari desa, dari limbah serbuk gergaji menjadi media baglog jamur tiram, dari limbah media jamur tiram menjadi pupuk organik, dan dari pupuk organik kembali menyuburkan lahan pertanian yang menopang kehidupan desa.
Siklus seperti ini mencegah limbah mencemari lingkungan karena setiap tahap produksi selalu memiliki nilai tambah.
Inisiatif di Desa Payakabung penting untuk diperbanyak di berbagai daerah Indonesia. Negara ini memiliki ribuan sentra jamur tiram, dan setiap sentra menghasilkan ton limbah baglog setiap bulannya.
Jika semua limbah itu dikelola menjadi pupuk organik, Indonesia tidak hanya mengurangi volume sampah pertanian, tetapi juga memperkuat fondasi pertanian berkelanjutan dan ekonomi hijau.
Pupuk organik dari baglog jamur tidak hanya memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga menekan ketergantungan pada pupuk kimia impor, sekaligus mendukung agenda nasional menuju pertanian rendah emisi.
Dari Desa Payakabung semua bisa belajar bahwa ekonomi sirkular tidak harus dimulai dari kota besar atau industri raksasa.
*) Penulis adalah Pengajar dan mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
Baca juga: PKM Cihideung Udik dorong ekonomi sirkular lewat pelatihan maggot
Baca juga: DPIS UI kembangkan program budi daya lebah madu untuk perluas lapangan kerja
Baca juga: Jatim komitmen kelola sampah berbasis model ekonomi sirkular
