Deli Serdang (ANTARA) - Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara menggelar malam renungan suci menyambut Hari Kesaktian Pancasila yang dipusatkan di Tugu Pahlawan Ampera Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Selasa malam.
Pada renungan suci yang dirangkai dengan apel kehormatan tersebut juga digelar bantuan sosial kepada masyarakat, pembacaan renungan suci, penyalaan obor, doa lintas agama, dan penghormatan kepada arwah para pahlawan revolusi.
Ketua Pemuda Pancasila Sumut Musa Rajekshah dalam kesempatan itu menyampaikan kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun demi terus mengingatkan kalangan muda bahwa dulu bangsa ini pernah mengalami masa kelam dengan adanya Gerakan 30 September tahun 1965.
Pemuda Pancasila, kata dia, dilahirkan TNI oleh Jenderal AH Nasution yang salah satu tujuannya menjaga ideologi negara Pancasila. Sampai sekarang Pemuda Pancasila tetap eksis di seluruh Indonesia
"Kami bangga Pangdam I/BB Mayjen TNI Rio Firdianto bisa hadir di sini. Ini tentu menjadi kebanggaan dan penyemangat bagi kami semua yang hadir di sini, khususnya kader Pemuda Pancasila," katanya.
Ia menyebutkan acara renungan digelar salah satu tujuannya utamanya adalah agar generasi penerus bangsa tetap mengingat bahwa untuk merdeka, negara ini penuh banyak pengorbanan. Apalagi sempat ada yang berniat ingin merubah ideologi negara menjadi komunis.
Kegiatan itu juga dirangkai dengan pembagian sembako kepada masyarakat dan menabur bunga di Tugu Pahlawan Ampera, dimana dulu ada dua kader Pemuda Pancasila yang menjadi korban keganasan PKI
"Kehadiran Pemuda Pancasila harus bisa dirasakan oleh masyarakat. Untuk itu kami mengizinkan masyarakat sekitar tugu ini untuk bercocok tanam mengelola lahan agar dapat menjadi tambahan pendapatan," katanya.
Pedoman
Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila setiap tahunnya. Adapun peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 mengusung tema "Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya".
Meski tak ada pernyataan makna resmi dari tema tersebut, tema Pancasila sebagai perekat dapat dimaknai sebuah harapan agar Pancasila sebagai ideologi negara mampu merekatkan bangsa Indonesia yang beragam, baik itu suku, budaya, etnis, budaya, bahasa, dan agama.
Selain itu, Pancasila diharapkan menjadi perekat bangsa Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman bangsa yang bertujuan untuk melemahkan hingga menggantikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, seperti ekstremisme, radikalisme, hingga separatisme.
Dengan Pancasila sebagai perekat bangsa tersebut, diharapkan mampu mengantarkan bangsa Indonesia menuju Indonesia Raya, sebuah kondisi masyarakat Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Makna tersebut juga menyiratkan optimisme dalam meraih masa depan dan cita-cita bangsa Indonesia yang sejahtera di tanah airnya sendiri yang kaya.
Pedoman
Kementerian Kebudayaan RI sendiri telah menetapkan Pedoman Penyelenggaraan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025. Melalui pedoman tersebut, peringatan Hari Kesaktian Pancasila diharapkan tidak hanya menjadi seremonial belaka.
Melainkan, menjadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa untuk meneguhkan komitmen dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, ideologi, dan pemersatu kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagaimana Surat Menteri Kebudayaan RI, upacara tersebut akan dilangsungkan mulai pada pukul 08.00 WIB di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Upacara tersebut akan dipimpin langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto yang bertindak sebagai inspektur upacara.
Rangkaian upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila biasanya terdiri dari salam kebangsaan, diikuti dengan penghormatan kebesaran, dan laporan komandan upacara kepada Presiden sebagai inspektur upacara.
Upacara tersebut akan mencakup pula mengheningkan cipta, pembacaan teks Pancasila oleh Presiden RI, pembacaan naskah pembukaan UUD NRI Tahun 1945 oleh Ketua MPR RI, hingga pembacaan dan penandatanganan ikrar, hingga pembacaan doa oleh Ketua DPR RI.
Upacara tersebut akan dihadiri oleh para pimpinan lembaga negara, para menteri Kabinet Merah Putih, dan para tamu undangan lainnya.
Di tingkat daerah, upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2025 dilaksanakan di kantor pemerintah provinsi/kabupaten/kota mulai pukul 08.00 waktu setempat. Untuk kantor perwakilan/lembaga yang ada di daerah mengikuti upacara yang dilaksanakan oleh pemerintah
provinsi/kabupaten/kota. Upacara dilaksanakan secara luring penuh di kantor masing-masing.
Adapun terkait pedoman pengibaran bendera Merah Putih, setiap kantor instansi pusat dan daerah, kantor perwakilan RI di luar negeri, satuan pendidikan, serta seluruh komponen masyarakat agar mengibarkan bendera setengah tiang pada 30 September 2025; dan pada 1 Oktober 2025 pukul 06.00 waktu setempat, agar bendera berkibar satu tiang penuh.
Relevan
Akademisi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Dr Hadawiah Hatita mengatakan Pancasila bisa dimaknai sebagai nilai-nilai dasar yang tangguh bagi Bangsa Indonesia yang tetap relevan di tengah berbagai tantangan zaman.
"Tantangan itu termasuk derasnya arus informasi dan tekanan ekonomi saat ini. Di era digital, banyak informasi berseliweran tanpa filter, sering kali membawa disinformasi yang bisa menggoyahkan persatuan dan toleransi," kata Hadawiah di Makassar, Minggu.
Dia mengatakan, Pancasila dengan prinsipnya yang menekankan keadilan sosial, ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah, tetap menjadi pedoman bagi masyarakat Indonesia untuk memilah informasi dengan bijak dan menjaga solidaritas di tengah tantangan ekonomi.
Sementara untuk generasi Z dan Alpha, lanjut dia, Pancasila tetap relevan karena nilai-nilainya beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurut dia, generasi muda yang terbiasa dengan teknologi dan globalisasi dapat menafsirkan Pancasila dalam konteks digital, misalnya dengan menjunjung tinggi kebebasan berpendapat tetapi tetap menjaga etika, atau menggunakan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
"Tantangan utama mungkin terletak pada cara mengemas Pancasila agar tidak terasa jadul bagi generasi saat ini, perlu pendekatan yang kreatif dan edukasi yang berbasis pengalaman dapat menjadi kunci agar nilai-nilai Pancasila tetap berakar dalam kehidupan mereka," katanya.
Hal itu termasuk tetap.menjadikan Pancasila sebagai bahan ajar yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, agar Pancasila dengan segala tantangannya mengantar Indonesia merdeka tidak terlupakan.
"Sejarah sangat penting diketahui generasi berikutnya, agar mereka dapat menghargai jerih payah dan perjuangan leluhur mempertahankan negeri ini dari penjajah," katanya.
Baca juga: Merawat Kesaktian Pancasila di Era Global
Baca juga: Wali Kota Bekasi: Pancasila pemersatu bangsa
