Jakarta (ANTARA) - Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai, koreksi Bitcoin di kisaran 80.000 dolar AS justru bisa menjadi peluang bagi investor institusi yang memandang Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
“Meskipun demikian, altcoin, terutama yang terkait proyek AI atau teknologi, mungkin akan lebih rentan terkoreksi lebih dalam akibat valuasi yang terlalu optimis dan korelasinya dengan sentimen saham-saham AS di sektor teknologi seperti Nvidia. Ke depan, laporan inflasi dan perkembangan kebijakan fiskal AS akan menjadi katalis utama,” kata Fahmi di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, penurunan harga Bitcoin saat ini mencerminkan adanya penyesuaian portofolio besar-besaran di kalangan investor dan manajer aset.
Pasar saham Amerika Serikat (AS) kehilangan nilai sebesar 4 triliun dolar AS dalam sehari pada perdagangan Senin (10/3). Tiga indeks saham utama Wall Street yaitu S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mengalami penurunan lebih dari 2 persen dalam satu hari tersebut.
Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling terpukul dengan indeks S&P 500 sektor teknologi turun 4,3 persen. Apple dan Nvidia masing-masing turun sekitar 5 persen sedangkan Tesla melemah lebih dari 15 persen.
Baca juga: Ramadhan 2025 bisa jadi momentum bagi pasar kripto
Baca juga: CFX komitmen dukung industri kripto
