Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Selatan menyatakan volume sampah harian masyarakat di daerah itu meningkat dua hingga lima persen pada bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah atau 2025 Masehi.
"Ada peningkatan produksi sampah masyarakat selama bulan puasa dan ini biasa terjadi setiap tahunnya. Peningkatan di kisaran dua hingga lima persen," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Selatan Teuku Masrizar yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat.
Teuku Masrizar menyebutkan volume sampah yang ditangani di hari biasa mencapai 95,75 ton per hari. Namun, pada saat bulan puasa sekarang ini terjadi peningkatan karena meningkatnya aktivitas masyarakat untuk kebutuhan berpuasa.
Sampah-sampah selama Ramadhan, kata dia, kebanyakannya sampah organik dari rumah tangga seperti sisa-sisa makanan maupun dari pedagang seperti batok kelapa muda, ampas tebu dan lainnya. Sedangkan sampah dari perkantoran, baik pemerintahan maupun swasta relatif tidak bertambah.
Baca juga: DLH Aceh Besar gandeng Desa Wisata Gampong Nusa tangani sampah dari hulu ke hilir
Baca juga: Aksi bersih sampai di Sungai Peusangan Aceh Tengah
Baca juga: Penyelam bersihkan sampah di dasar laut Sabang Aceh
"Sebagian besar sampah selama bulan puasa ini sampah organik. Sampah organik ini mudah terurai dan umumnya digunakan sebagai bahan baku kompos atau pupuk alami. Kompos memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat," kata Teuku Masrizar menyebutkan.
Terkait penanganan sampah selama Ramadhan, pihaknya mempercepat waktu pengutipan. Pada hari biasa, pengutipan sampah antara pukul 08.00 WIB hingga 09.00 WIB, tetapi selama Ramadhan dipercepat, meningkat petugas dalam berpuasa.
"Untuk armada, kami mengerahkan 11 truk sampah, dua truk pengangkut kontainer sampah, serta 11 becak sampah yang menangani persampahan di kampung-kampung," kata Teuku Masrizar.
Pemkab Aceh Selatan, kata dia, terus berupaya mengurangi volume sampah masyarakat. Caranya dengan terus mengajak masyarakat memilah sampah organik dan nonorganik. Sampah nonorganik seperti plastik, kardus, dan lainnya bisa dijual untuk diolah kembali.
"Banyak keuntungan memilah sampah. Jadi, sampah rumah tangga tersebut masih memiliki nilai ekonomis apabila dipilah. Dengan pemilihan ini, selain mengurangi volume sampah, juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat," kata Teuku Masrizar.*
