Makassar (ANTARA) - Suasana ibadah di Bulan Ramadhan 1446 Hijriyah di berbagai daerah makin semarak dan khidmat dengan kedatangan sejumlah pemuka agama dari luar negeri, baik imam, qori, dan dai, dalam memimpin ibadah dan ceramah keagamaan.
Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, misalnya, dua orang dai dan qori asal Kairo, Mesir mengawali Safari Ramadhan selama sembilan hari dengan memberikan ceramah dan memimpin shalat tarawih di Mesjid Raya.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid di Makassar, Rabu, menyebutkan dai dan qori asal Kairo tersebut yakni Ahmed Attia Ibrahim Gadalla (Qori) dan Hamdy Fetyan Ahmad El Syeikh Aly (Dai) asal Al Azhar Asy-Syarif Kairo, Mesir yang didatangkan khusus ke Indonesia melalui program kerja sama Kemenag dengan Badan Kesejahteraan Masjid dan Majelis Hukama Muslimin.
"Jadi ada enam orang semua yang dikirim ke Indonesia dan beruntungnya Sulsel karena mendapat dua orang dai dan qori asal Kairo, Mesir," ujarnya.
Menurut Ali Yafid, Kemenag, Majelis Hukaman Muslimin setiap Ramadhan bekerja sama dengan Al Azhar untuk mengirimkan para dai ke beberapa negara yang dianggap paling penting di dunia Islam, dan terbanyak adalah Indonesia.
Ia menyatakan, qori dan dai asal Kairo itu sudah memulai safari Ramadhan sejak Selasa (5/3) hingga berakhir pada 14 Maret 2025.
"Mereka mengimami ratusan jamaah tarawih dalam 20 rakaat ditambah witir. Mereka semua ahli Al-Quran dan Hadis akan melaksanakan tugasnya selama 9 hari di Sulsel dan akan mengikuti serangkaian agenda yang telah disusun oleh Bidang Urais Kanwil Kemenag Sulsel bekerjasama dengan Badan Kesejahteraan Masjid," katanya.
Selain di Makassar, Ahmed Attia Attia Ibrahim Gadalla (Qori) dan Hamdy Fetyan Ahmad El Syeikh Aly (Dai) asal kampus Al Azhar Asy-Syarif Kairo Mesir juga akan melakukan safari di beberapa lokasi di sejumlah kabupaten dan kota diantaranya Masjid Agung dan Masjid Raya di Kabupaten Maros, Pangkep, Kota Parepare, Sidrap, Wajo, Bone dan Gowa.
Ali Yafid menyambut baik kerja sama dan kedatangan Utusan Majelis Hukama Muslimin dengan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dan Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) dalam Syiar Ramadan 1446 H/2025 M di Sulawesi Selatan, terbukti banyaknya dukungan dan partisipasi dari berbagai Kabupaten Kota di Sulsel.
“Para ulama Al-Azhar Mesir memiliki pandangan keagamaan yang cocok dengan masyarakat Indonesia. Tradisi keberagaman di Indonesia memiliki pendekatan keislaman yang moderat dan selaras dengan nilai-nilai keberagamaan di Indonesia. Kami ingin menghindari paham yang terlalu keras, karena bagi kami pendekatan seperti itu tidak akan laku di masa depan,” katanya.
Kakanwil lalu berbagi bercerita tentang korelasi dengan program Asta Aksi Kemenag Sulsel dimana tengah mengembangkan program ekoteologi yang mengarah pada penyelamatan lingkungan, termasuk rumah ibadah ramah difabel, dan juga kurikulum cinta Kemenag sesuai tagline ramadhan menyenangkan dan ramadhan menenangkan.
Enam delegasi MHM dari Al Azhar Mesir ini akan berdakwah di tujuh provinsi selama Ramadhan 1446 Hijriah.
Selain DKI Jakarta, mereka akan mengisi kajian, daurah Al Quran dan Kitab Kuning, talaqqi Al Quran, memberi ijazah kitab, serta menjadi Imam Tarawih di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Riau, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Terima kasih atas kedatangan para Syekh. Ke depan kami harap tidak hanya enam saja, tapi mungkin 60. Kalau bisa setahun sampai Ramadhan mendatang," ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menerima keenam pemuka agama dari Al Azhar, Kairo, Mesir, itu pada Senin 3 Maret 2025.
Menurut Menag, para ulama Al Azhar Mesir memiliki pandangan keagamaan yang cocok dengan masyarakat Indonesia. Mesir memiliki pendekatan keislaman yang moderat dan selaras dengan nilai-nilai keberagamaan di Indonesia.
"Kami ingin menghindari paham yang terlalu keras, karena bagi kami, Islam garis keras tidak akan laku di masa depan," kata dia.
Bahkan, Menag berharap agar para ulama tersebut dapat mengisi syiar Islam sepanjang tahun, bukan hanya momentum Ramadhan saja.
"Saya akan bilang ke Grand Syekh, jangan hanya sebulan. Tapi bisa setahun atau dua tahun. Kalau ada masalah (selama di Indonesia), sampaikan ke saya," katanya.
Mewakili MHM, TGB M. Zainul Majdi menyampaikan salam hormat dari Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua MHM Imam Akbar Ahmed Al Tayeb dan dari Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar Abbas Syouman.
Keduanya menyampaikan terima kasih atas dukungan Menteri Agama terhadap para alumni Al Azhar.
Sementara itu di Masjid Raya Hubbul Wathan atau yang familiar dikenal dengan Islamic Center Mataram di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), selain 10 imam lokal memimpin Sholat Tarawih, juga ada tiga imam dari luar negeri, sehinnga menghadirkan nuansa beribadah Shalat Isya, Tarawih, dan Witir ala timur tengah.
Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Sekretariat Daerah NTB Sahnan mengatakan tiga orang dari timur tengah siap menjadi imam di Masjid Raya Hubbul Wathan tersebut.
"Imam dari timur tengah mulai tanggal 8 Ramadhan sampai 12 Ramadhan itu dari Maroko, selanjutnya tanggal 13 sampai 17 dari Mesir, kemudian tanggal 18 sampai 22 Ramadhan dari Turki," ujarnya.
Sahnan menuturkan ketiga imam dari Timur Tengah itu sudah berlisensi internasional dan punya pembawaan yang khas saat membaca ayat-ayat al Quran ketika memimpin shalat.
Tiga imam dari timur tengah tersebut adalah Syekh Mohammad Mkkaoui asal Maroko, Syekh Mohamed Salem Amer asal Mesir, dan Syekh Hafidh Usman Shahin asal Turki.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat juga menghadirkan sekitar 10 imam lokal saat pelaksanaan Salat Isya, Tarawih, dan Witir di Masjid Raya Hubbul Wathan.
Unit Pelaksana Teknis Islamic Center NTB menyediakan sekitar 600 takjil setiap hari untuk masyarakat yang datang berbuka puasa dan melaksanakan Shalat Magrib di Masjid Raya Hubbul Wathan. Ratusan takjil itu merupakan sumbangan dari organisasi perangkat daerah maupun perusahaan pelat merah.
"Salah satu tujuannya adalah menarik wisatawan, termasuk menarik motivasi masyarakat karena tentu suasana masjid," kata Sahnan.
Baca juga: Mataram datangkan imam tarawih dari Timur Tengah
