Samarinda (ANTARA) - Jajanan kue talam khas Kalimantan berjejer di Jalan Biawan, Samarinda, Kalimantan Timur, menjelang waktu berbuka puasa, dengan gerai yang dipadati pembeli yang mengantre untuk mendapatkan penganan tradisional yang menjadi primadona takjil selama bulan Ramadhan.
"Kalau bulan puasa, kue talam ini yang paling dicari," ungkap Awaliyah, penjual kue talam yang telah berjualan selama 15 tahun, di Samarinda, Minggu.
Dia menyebutkan bahwa setiap hari pada bulan Ramadhan bisa membuat sekitar 40 talam, dan hampir semuanya habis terjual.
Awaliyah mengaku kue talam dan bingka bakar buatannya memiliki cita rasa gurih, manis, dan lembut. Ia menggunakan bahan-bahan berkualitas, seperti kentang asli untuk bingka bakar, telur, santan, gula aren, dan pandan segar, sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan rasa yang khas.
"Rahasia kami ada di bahan-bahan yang segar dan berkualitas," ujarnya.
Gerai Awaliyah menawarkan beragam jenis kue talam, mulai dari amparan tatak pisang, talam ketan pandan, sari muka, kakaraban, hingga talam India. Namun, amparan tatak pisang menjadi yang paling laris.
Setiap talam dipotong menjadi 20 bagian dan dijual dengan harga Rp15.000 per potong. Dalam sehari, Awaliyah bisa menjual lebih dari 300 potong kue talam. Ia dibantu oleh suaminya dalam proses pembuatan kue.
Kue talam buatan Awaliyah tidak hanya diminati oleh warga Samarinda, tetapi juga oleh orang-orang dari luar kota.
"Banyak juga yang datang dari luar kota khusus untuk membeli kue talam kami," kata Awaliyah.
Daniati, salah satu pembeli, mengaku bahwa kue talam di gerai Awaliyah memiliki ciri khas yang berbeda. "Lebih lembut dan manisnya pun pas," katanya.
Ia juga mengapresiasi penggunaan pandan asli dan gula aren yang berkualitas.
"Apalagi amparan tatak, ini jenis talam yang paling saya sukai, terasa manis bercampur gurih santan, ditambah paduan lembut dan harumnya pisang talas," ungkap Daniati.
Masih di Samarinda, Masjid Shiratal Mustaqiem yang merupakan masjid tertua Kota Samarinda, Kalimantan Timur, secara khusus menghidangkan bubur peca yang hanya disajikan pada setiap berbuka puasa selama bulan Ramadhan."Bubur peca adalah makanan khas Kampung Masjid Samarinda yang diwariskan turun-temurun. Resep ini dari nenek moyang kami dulu," ujar juru masak bubur peca Masjid Shiratal Mustaqiem, Mardiyana atau akrab disapa Alus di Samarinda, Sabtu.
Juru masak yang telah 22 tahun melestarikan tradisi itu mengatakan bahwa bubur peca memiliki tekstur sangat lembut, hasil perpaduan nasi, santan, kaldu ayam kampung, dan rempah-rempah. Selain cita rasa gurihnya, bubur ini dipercaya memiliki khasiat kesehatan, terutama bagi penderita penyakit maag.
Banyak jamaah yang mengatakan bubur ini bagus untuk kesehatan.
Bubur peca bagi warga sekitar masjid bersejarah berusia lebih dari seabad, yang terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Masjid, telah menjadi pusat tradisi kuliner yang mempererat tali persaudaraan warga.
Proses pembuatan bubur peca membutuhkan waktu dan kesabaran. Alus dan timnya mulai memasak sejak pukul delapan pagi, mengaduk adonan selama lima jam agar teksturnya lembut dan bumbu meresap sempurna.
Resep bumbu diracik dengan komposisi khusus yang dirahasiakan, terdiri dari berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, dan kayu manis, dengan santan kental dan kaldu ayam kampung sebagai bahan utama.
Dalam satu hari, 25 kilogram beras diolah menjadi bubur peca. Sepuluh kilogram disajikan untuk berbuka puasa di masjid, sementara 15 kilogram dibagikan kepada jamaah untuk dibawa pulang.
Lauk yang disajikan bervariasi setiap harinya, mulai dari ayam bistik, ayam suwir, hingga telur bumbu merah, agar jamaah tidak bosan.
Menjelang waktu berbuka, masjid dipenuhi jamaah yang antusias menanti hidangan khas ini. Ratusan porsi bubur peca ludes setiap hari.
Tradisi berbuka dengan bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem bukan sekadar tentang rasa, tetapi juga tentang kebersamaan dan nilai-nilai Ramadhan. Setiap jamaah membawa wadah dari rumah untuk diisi bubur peca, yang akan disantap bersama keluarga.
Bukan sekadar menu buka puasa biasa, bubur peca menjadi perjalanan rasa dan ibadah yang telah mengikat masyarakat sekitar masjid selama lebih dari seabad.
Masjid Shiratal Mustaqiem berdiri kokoh menyimpan jejak sejarah. Bangunan berusia lebih dari 100 tahun ini tak hanya menjadi tempat beribadah, tapi juga rumah bagi tradisi Ramadhan yang kental dengan kekeluargaan. Bubur peca -- dalam bahasa Indonesia berarti bubur yang lembek -- menjadi hidangan andalan.
Bubur peca memiliki tekstur yang teramat lembut. Nasi yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam kampung bercampur rempah menghasilkan cita rasa gurih yang begitu memikat. Namun, bubur peca tak melulu soal rasa. Bagi masyarakat sekitar masjid, ini adalah tradisi yang merekatkan hubungan dan diyakini membawa berkah.
Tak heran, para sesepuh di Kampung Masjid sekitar mempercayai bahwa dengan menyantap bubur peca membuat raga menjadi lebih sehat dan berkah Ramadhan makin terasa.
Baca juga: Bali berburu takjil di Kampung Wanasari
Baca juga: Banyuwangi siapkan pasar takjil Ramadhan