Minggu, 22 Oktober 2017

Perang Yaman Jangan Memicu Konfrontasi Iran Dan Arab Saudi

id Perang Yaman, Jangan Memicu, Konfrontasi, Perang, Iran, Arab Saudi Arab, Saudi Arabia, Raja Salman, , Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin
Perang Yaman Jangan Memicu Konfrontasi Iran Dan Arab Saudi
Ilustrasi - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud (kiri) saat melaksanakan solat Tahiyatul Masjid di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indoensia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Dok).
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan setiap perjuangan untuk pengaruh antara kerajaan Muslim Sunni dan revolusioner Syiah, teokrasi Iran harus dilakukan "di dalam Iran, bukan di Arab Saudi."
New York (Antara/Reuters/Antara Megapolitan) - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Senin, berharap perang Yaman tidak akan memicu konfrontasi langsung antara Iran dan Arab Saudi dan kedua negara dapat bekerja sama untuk mengakhiri konflik di negara tersebut dan Suriah.

Sebuah koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi dalam perang sipil Yaman pada tahun 2015, mendukung pasukan pemerintah yang memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran. Arab Saudi dan Iran bersaing untuk mendapatkan pengaruh di Timur Tengah, juga mendukung kelompok-kelompok yang saling bersaing dalam perang sipil Suriah.

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan pada Mei bahwa setiap perjuangan untuk pengaruh antara kerajaan Muslim Sunni dan revolusioner Syiah, teokrasi Iran harus dilakukan "di dalam Iran, bukan di Arab Saudi."

Ketika ditanya di dewan pemikir Hubungan Luar Negeri di New York apakah dia mengkhawatirkan konfrontasi langsung antara Teheran dan Riyadh, Zarif mengatakan: "Kami tentu berharap tidak ... Kami tidak harus berjuang, kami tidak perlu bertarung. Kami tidak perlu mencoba untuk mengecualikan satu sama lain dari Timur Tengah. "

"Kami tentu berharap bahwa jika kami saling tidak setuju satu sama lain mengenai situasi di Yaman atau tentang situasi di Suriah, kami masih bisa saling bekerja sama dalam menyelesaikan situasi ini," kata Zarif, yang berada di New York untuk pertemuan tingkat tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa mengenai pembangunan berkelanjutan.

Awal tahun ini Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir semuanya memutuskan hubungan diplomatik dan transportasi dengan Qatar pada 5 Juni, menuduhnya membiayai kelompok militan dan bersekutu dengan Iran - tuduhan yang dibantah oleh Qatar.

"Iran adalah mitra serius bagi semua negara ini dalam memerangi musuh bersama karena kami percaya pada akhir hari ... kekuatan ekstremis ini sama-sama merupakan ancaman terhadap kami, namun lebih merupakan ancaman terhadap mereka," kata Zarif.

Zarif mengatakan bahwa tidak ada komunikasi antara dirinya dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson, tapi itu "tidak berarti tidak mungkin ada."

Dia mengatakan bahwa pejabat Iran memiliki kontak reguler dengan pejabat Amerika Serikat mengenai kesepakatan 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia utama untuk mengekang program nuklir Iran.

Dia mengatakan Iran tidak merancang rudal untuk membawa hulu ledak nuklir, yang dilarang berdasarkan kesepakatan nuklir, dan bahwa rudal negara itu hanya untuk pertahanan diri.

"Kami membutuhkan mereka untuk memastikan bahwa tidak ada lagi Saddam Hussein lain yang akan datang dan menyerang kami lagi," katanya.

Penerjemah: G.N.C. Aryani/M. Anthoni.     

Editor: M. Tohamaksun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga