Moskow (ANTARA) - Industri otomotif Jerman menghadapi kesulitan pasokan cip setelah Uni Eropa (UE) memasukkan perusahaan China Yangzhou Yangjie Electronic Technology Co. (Yangjie) ke dalam paket sanksi terhadap Rusia, harian Handelsblatt melaporkan, Selasa (19/5).
Pada April lalu, UE menambahkan enam perusahaan China, termasuk produsen cip Yangjie, ke dalam daftar sanksi sebagai bagian dari paket sanksi ke-20 terhadap Rusia.
CEO Components at Service Dominik Zillner menyebut hilangnya Yangjie sebagai pemasok menjadi pukulan serius bagi industri otomotif.
Ia menjelaskan Yangjie sebelumnya membantu menambal kekurangan pasokan yang muncul pada musim gugur 2025 akibat krisis yang melanda produsen semikonduktor Belanda, Nexperia, yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
CEO Sand & Silicon yang berbasis di Frankfurt, Noureddine Seddiqi, mengatakan para kliennya mengkhawatirkan sanksi terhadap Yangjie.
Menurut dia, sejumlah perusahaan membutuhkan bantuan mendesak untuk mencari pasokan alternatif. Namun, hal itu sulit dilakukan karena produsen lain yang bersaing dengan Yangjie juga beroperasi pada kapasitas penuh.
"Dalam negosiasi, kami mendengar stok cip Nexperia milik banyak klien diperkirakan hanya cukup hingga Juli-Oktober. Karena itu, banyak perusahaan berharap situasi akan membaik selama periode tersebut," ujar Seddiqi.
Pada 23 April, UE mengumumkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia dengan memperluas pembatasan di sektor energi, termasuk produksi, pengolahan, dan transportasi minyak.
UE juga menyatakan tengah menyiapkan paket sanksi ke-21.
Rusia berkali-kali menegaskan akan mampu mengatasi tekanan sanksi yang terus ditingkatkan Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Pewarta: Aditya Eko Sigit WicaksonoUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026