Brussels (ANTARA) - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah memindahkan seluruh personel dari misinya di Irak ke Eropa, kata aliansi tersebut Jumat (20/3) dengan alasan perubahan postur operasional di tengah permusuhan yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Dalam sebuah pernyataan, Markas Besar Tertinggi Pasukan Sekutu Eropa mengonfirmasi bahwa personel Misi NATO di Irak telah dipindahkan dengan aman dari Timur Tengah, dengan staf terakhir meninggalkan Irak pada 20 Maret.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Republik Irak dan semua Sekutu yang membantu dalam pemindahan personel NATO dari Irak dengan aman," kata Jenderal Alexus Grynkewich, komandan tertinggi sekutu NATO di Eropa.
Dia juga memuji personel misi karena mempertahankan operasi selama masa transisi.
Setelah pemindahan, Misi NATO di Irak akan melanjutkan pekerjaannya dari Komando Pasukan Gabungan di Naples, Italia, tambah pernyataan itu.
Misi tersebut tetap menjadi misi non-tempur yang berfokus pada pemberian nasihat dan pembangunan kapasitas lembaga keamanan Irak, catatnya.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa tujuan misi itu adalah untuk membantu Irak mengembangkan pasukan keamanan yang berkelanjutan, transparan, dan inklusif yang mampu menjaga stabilitas, melawan terorisme, dan mencegah kebangkitan kembali kelompok teror ISIS (Daesh).
Sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang hingga saat ini menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, permusuhan telah meningkat.
Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Sumber: Anadolu
Baca juga: PM Swedia: Tak relevan bagi kami terlibat keamanan Selat Hormuz
Baca juga: NATO nenunda pelatihan keamanan Irak setelah pembunuhan Soleimani
Pewarta: Cindy Frishanti OctaviaEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026