Berlin (ANTARA) - Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Jumat (27/3) mempertanyakan efektivitas operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran.
"Saya tak yakin apa yang dilakukan Israel dan AS saat ini benar-benar akan berhasil," ujarnya dalam sebuah konferensi di Frankfurt.
Ia mengaku ragu "apakah ada strategi dan apakah strategi itu dijalankan dengan baik."
"Dalam hal ini, situasinya bisa berlangsung lebih lama dan kemungkinan tidak akan membaik," katanya, menambahkan.
Baca juga: AS tunda deportasi warga Iran akibat konflik militer di Timur Tengah
Merz mengatakan AS dan Israel "kian terjerat" dalam perang melawan Iran. Ia memperingatkan bahwa kedua negara bersekutu itu tidak akan mampu melakukan perubahan pemerintahan di Iran, jika itu menjadi tujuan mereka.
Merz juga mengatakan Presiden AS Donald Trump telah memahami bahwa perang di Iran bukanlah perang NATO sehingga Jerman tidak bisa membantu.
"Namun, kami telah menawarkan untuk mengoordinasikan, misalnya, perlindungan militer di Selat Hormuz bersama pihak lain jika terjadi gencatan senjata," katanya.
Baca juga: JD Vance akan pimpin upaya Amerika Serikat akhiri perang dengan Iran
Menurut Merz, keterlibatan Jerman memerlukan mandat internasional serta persetujuan dari parlemen (Bundestag) dan keputusan kabinet.
"Kami masih jauh dari itu, dan selama perang terus berlangsung, itu bukan pilihan bagi kami," katanya.
Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Sumber: Anadolu
Pewarta: PrimayantiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.