Depok (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Jamhari Makruf, menyampaikan ceramah Ramadan dalam acara Pejambon Iftar 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Acara yang berlangsung di Ruang Nusantara, Gedung Utama Kementerian Luar Negeri, Jalan Taman Pejambon No. 3, Jakarta Pusat, ini dihadiri para duta besar negara sahabat, pejabat tinggi kementerian, serta perwakilan organisasi internasional.

Mengusung tema “Promoting Collaboration and Solidarity for Peace and Shared Prosperity” (Mendorong Kolaborasi dan Solidaritas untuk Perdamaian dan Kesejahteraan Bersama), Pejambon Iftar menjadi ruang diplomasi kultural yang mempertemukan komunitas diplomatik internasional dalam suasana kebersamaan Ramadan.

Baca juga: Delegasi Iran kunjungi UIII jalin kerja sama bidang pendidikan dan budaya tahun 2026

Dalam ceramahnya, Prof. Jamhari menguraikan makna ibadah puasa Ramadan dari berbagai dimensi—spiritual, sosial, dan budaya. Di hadapan para diplomat dan pejabat tinggi, ia menekankan bahwa puasa tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga merupakan praktik spiritual yang membentuk kesadaran moral dan solidaritas sosial.

“Menjalankan ibadah puasa Ramadan melampaui sekadar menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga terbenam matahari. Ia adalah praktik yang meresap ke dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Muslim di seluruh dunia,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa puasa telah berkembang menjadi tradisi kolektif yang memperkuat ikatan sosial sekaligus menjadi bentuk pengabdian spiritual kepada Tuhan.

Prof. Jamhari juga menyoroti konsep imsak—menahan diri dan membangun disiplin—sebagai pelajaran penting dari Ramadan yang relevansinya melampaui ranah ibadah pribadi.

“Prinsip ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada kemampuan kita untuk bertindak, tetapi juga pada kebijaksanaan untuk menahan diri dan merenungkan dampak tindakan kita terhadap orang lain, terutama mereka yang kurang beruntung. Dari pengendalian diri inilah lahir empati,” jelasnya.

Baca juga: UIII terima hibah 160 buku dari Kedutaan Besar Jepang

Ia juga menyinggung berbagai tradisi Ramadan di dunia Muslim, mulai dari iftar komunal di Timur Tengah hingga perayaan khas di Turki dan Maroko. Ia secara khusus mengapresiasi kekayaan tradisi Ramadan di Indonesia, seperti Meugang di Aceh, Dugderan di Jawa, serta tradisi buka puasa bersama yang mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Prof. Jamhari juga mencatat bagaimana tradisi iftar di Jakarta semakin bersifat global, dengan banyak kedutaan besar—baik dari negara Muslim maupun non-Muslim—yang mengundang rekan-rekan Muslim untuk berbuka puasa bersama. Ia bahkan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa mereka yang memberi makanan berbuka puasa akan memperoleh pahala yang setara dengan orang yang berpuasa.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jamhari juga memperkenalkan misi UIII sebagai universitas internasional yang mengembangkan nilai Wasatiyyat al-Islam—pendekatan Islam yang moderat, seimbang, dan inklusif. Dengan dukungan pemerintah Indonesia, UIII berperan sebagai jembatan strategis bagi dialog antarbudaya dan diplomasi global.

Saat ini, komunitas akademik UIII terdiri dari sekitar 500 mahasiswa pascasarjana dari 55 negara, mencerminkan jangkauan internasional universitas tersebut dalam membangun generasi pemimpin masa depan yang berkomitmen pada perdamaian global.

Baca juga: Fakultas Ilmu Pendidikan UIII perkuat pusat riset dengan jejaring internasional

Prof. Jamhari juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Sugiono yang turut menjadi anggota Dewan Pembina UIII atas dukungan yang konsisten terhadap pengembangan universitas tersebut.

Menutup ceramahnya, Prof. Jamhari mengingatkan kembali tujuan moral dari ibadah puasa dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya."

Ia berharap Ramadan tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat pertumbuhan spiritual, memperdalam empati sosial, serta mempererat hubungan antar manusia.

Pejambon Iftar 2026, yang telah menjadi tradisi tahunan di Kementerian Luar Negeri, terus berperan sebagai platform penting untuk mempererat persahabatan dan pemahaman internasional selama bulan suci Ramadan.

Acara ini dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri yang dipimpin oleh Dirjen Heru Subolo.

Sementara itu dalam sambutannya, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan apresiasi dan selamat datang kepada seluruh tamu undangan, khususnya para duta besar negara sahabat dan perwakilan organisasi internasional.

Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan Pejambon Iftar setiap tahun merupakan bagian dari upaya diplomasi Indonesia untuk mempererat hubungan persahabatan dan dialog antarbangsa.

“Momen kebersamaan ini tidak hanya memperkuat tali silaturahmi, tetapi juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk terus membangun jembatan pemahaman dan kerja sama dengan masyarakat internasional,” ujar Menlu Sugiono.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026