Makassar (ANTARA) - Universitas Hasanuddin (Unhas) dan perusahaan Korea Selatan, Woolim Co., Ltd kolaborasi riset khususnya dalam bidang ekonomi biru (blue economy)
Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis Unhas, Prof Dr Eng Adi Maulana dalam keterangannya di Makassar, Rabu, mengatakan fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan rumput laut sebagai komoditas prioritas ekonomi biru.
Perusahaan Woolim, kata dia, berencana mengembangkan industri berbasis rumput laut, mulai dari produksi kemasan ramah lingkungan hingga pemanfaatan sebagai bahan baku pakan ikan dan udang untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan imunitas.
Model kolaborasi mengadopsi praktik di Korea Selatan, di mana universitas melaksanakan riset berbasis kebutuhan industri (demand-driven research) dengan dukungan pendanaan dan skema co-funding dari mitra perusahaan.
Baca juga: KKP pastikan konservasi ekonomi biru secara inklusif dan berkeadilan
Ia menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang sebagai model kolaborasi akademik yang terstruktur dan berorientasi pada luaran terukur.
“Kami tidak hanya berbicara tentang kerja sama riset dalam arti sempit, tetapi tentang membangun ekosistem inovasi yang terintegrasi. Universitas berperan sebagai "knowledge producer", sementara industri menjadi knowledge user sekaligus mitra strategis dalam proses hilirisasi,” tegasnya.
Prof Adi mengatakan, hasil riset selanjutnya diarahkan pada tahapan hilirisasi melalui pengembangan prototipe, uji coba skala pilot, hingga komersialisasi produk oleh industri.
Pada tahap awal, kolaborasi juga direncanakan melibatkan mitra akademik dari Korea, yakni Pukyong National University.
“Setiap tahapan riset akan dilaksanakan melalui metodologi yang terukur dan terdokumentasi secara akademik. Dengan demikian, kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memperkaya khazanah keilmuan dan publikasi bereputasi,” jelas Prof. Adi.
Sementara CEO Woolim Co., Ltd., Mrs. Woojung Yun, menegaskan komitmen perusahaan untuk membangun kolaborasi riset jangka panjang bersama Unhas yang berorientasi pada pengembangan industri berbasis ekonomi biru.
"Fokus kami adalah mengembangkan produk turunan rumput laut yang memiliki nilai tambah tinggi, termasuk kemasan ramah lingkungan dan bahan baku pakan perikanan yang dapat meningkatkan kualitas nutrisi serta imunitas,” ujar Mrs. Woojung Yun.
Lebih lanjut, Mrs. Woojung Yun menyampaikan bahwa Woolim akan mengupayakan dukungan pendanaan riset, termasuk peluang hibah dari pemerintah Korea Selatan.
“Kami akan menjajaki berbagai skema pembiayaan untuk memastikan keberlanjutan proyek ini dan membuka peluang pengujian lanjutan di Korea apabila diperlukan,” tambahnya.
Baca juga: IPB rancang kurikulum ekonomi biru
Baca juga: Membaca gen laut untuk jaga aset ekonomi biru Indonesia
Pewarta: Abdul KadirEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026