Jakarta (ANTARA) - Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai dapat membantu dokter mendeteksi dini kanker paru melalui penandaan nodul atau benjolan kecil di paru yang berpotensi berkembang menjadi ganas.
“Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail," ujar Dokter Spesialis Radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta, Rabu.
Deteksi ini dikatakan Dewi memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan.
Baca juga: AI kesehatan: Catatan medis dan masa depan dalam genggaman di Handphone
Dalam acara kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals tersebut, ia mengatakan dalam pemeriksaan foto toraks atau rontgen dada, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru untuk selanjutnya dievaluasi lebih lanjut menggunakan CT scan.
Dewi juga menjelaskan tidak semua nodul paru merupakan kanker. Sebagian nodul bersifat jinak dan tidak memerlukan tindakan agresif. Dokter akan menilai bentuk, ukuran, serta faktor risiko pasien untuk menentukan tingkat kecurigaannya, dengan keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga medis.
Sementara itu, Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) mengatakan skrining dengan bantuan AI dapat membantu proses deteksi kanker paru secara lebih efisien, terutama dalam mengidentifikasi nodul yang berpotensi ganas pada tahap awal.
“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” kata dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Onkologi Indonesia DKI Jakarta itu.
Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia. Banyak kasus terdiagnosis pada stadium lanjut karena gejala awal kerap tidak spesifik atau menyerupai gangguan pernapasan biasa.
Baca juga: Medix luncurkan aplikasi layanan kesehatan berbasis AI di Indonesia
Baca juga: Mahasiswa terapkan AI untuk deteksi kelainan penis dan kanker
Pewarta: Farika Nur KhotimahEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026