Moskow (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan bahwa rencana penyelesaian konflik Ukraina yang tengah disusun oleh apa yang disebut “koalisi negara-negara yang bersedia/coalition of the willing” hingga kini belum memiliki kejelasan atau rincian konkret.
Pada Desember 2025, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa negara-negara dalam tergabung dalam “koalisi sukarela” itu justru merencanakan pendudukan Ukraina, alih-alih berfokus pada penyelesaian krisis Ukraina.
“Koalisi yang bersedia saat ini masih dalam proses menyusun sebuah proyek yang dapat menjadi rencana penyelesaian di masa depan. Sejauh ini belum ada sesuatu yang konkret. Sulit untuk mendefinisikan sesuatu yang masih sebatas gagasan,” kata Albares dalam wawancara dengan surat kabar El Pais.
Diplomat tertinggi Spanyol itu menyatakan keyakinannya bahwa Spanyol akan berada di meja perundingan bersama pihak-pihak yang akan menentukan masa depan.
Namun, ia menghindari pertanyaan mengenai peran apa yang mungkin dimainkan oleh angkatan bersenjata Spanyol di Ukraina.
Pada akhir November, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa Komisi Eropa dan “koalisi yang bersedia” akan terus bekerja sama dengan Ukraina terkait rencana mereka untuk mengakhiri konflik.
Rencana Eropa tersebut muncul di media beberapa hari setelah rencana versi Amerika Serikat (AS).
Pada 6 Januari, pertemuan tingkat tinggi 'Koalisi Negara-Negara yang Bersedia' digelar di Paris. Pertemuan itu membahas sejumlah isu, termasuk jaminan keamanan bagi Ukraina serta pembentukan pasukan multinasional.
Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Usai pertemuan, para pemimpin koalisi menandatangani sebuah deklarasi yang menyatakan niat mereka untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina apabila tercapai kesepakatan damai. Surat kabar Politico melaporkan bahwa AS tidak menandatangani deklarasi tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa skenario apa pun yang melibatkan pengerahan pasukan dari negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke Ukraina sama sekali tidak dapat diterima oleh Rusia dan berpotensi memicu eskalasi tajam.
Moskow sebelumnya juga menyebut pernyataan tentang kemungkinan pengerahan kontingen negara-negara NATO ke Ukraina, yang disampaikan di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, sebagai upaya menghasut kelanjutan permusuhan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: PM Italia usulkan Eropa berdialog dengan Rusia soal Ukraina
Baca juga: Ukraina dituding serang sebuah kafe dan hotel di wilayah Kherson, 24 orang tewas
