Kartini-Dari-Temanggung-Poles-Kemandirian-Tuna-Grahita
Jakarta, 3/12 (ANTARA) - Melihat jejeran produk kerajinan kerudung, anyaman, makanan ringan, pakan ternak bahkan paving blok, tak mengira semua itu hasil karya anak-anak penyandang tuna grahtia.
Di aula balai Balai Besar Rehebilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) "Kartini"  Temanggung, Jawa Tengah itulah lebih dari 100 karya mereka diperlihatkan pada Peringatan Hari Penyandang Cacat Internasional, Senin (29/11) lalu.
Anak-anak dengan keterbatasan IQ itu mulai mendapat intevensi sejak masuk balai agar bisa melakukan aktfitas pribadi secara mandiri mulai mandi, membereskan kamar, mencuci piring. Mereka juga mendapat pendidikan bagaimana berinteraksi dengan kawan sesama penyandang tuna grahita dengan permainan bersama.    
Ada pula jadwal untuk mereka menimba ketrampilan berkarya sesuai dengan minat mereka mulai tata boga, kerajinan tangan, peternakan sampai pertukangan.
Untuk hari Minggu, mereka mendapat layanan bimbingan rohani, kesenian sesuai minat masing-masing, olahraga dan kegiatan pramuka.
Kepala BBRSBG Kartini Drs GRM Soerjo Dharsono MR mengatakan, mereka yang dibina itu mempunyai IQ antara 50 sampai 70, artinya potensi dalam dirinya bisa terus dikembangkan minimal untuk bisa mandiri dan tidak tergantung bantuan orang lain.
"Saat ini ada 60 anak didik yaitu 40 anak program home care dan 20 anak program day care," katanya.
Home care yaitu mereka yang tinggal di Asrama Balai Kartini, jadi sejak bangun tidur sampai kembali tidur mengikuti program yang telah disusun.
Sementara Day Care, adalah program seperti sekolah luar biasa, karena mereka datang saat jam belajar dimulai dan kembali pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai.
"Semua itu gratis, tanpa biaya, bahkan untuk program Day Care ada bantuan untuk transport," kata Dharsono yang baru mempimpin Balai "Kartini" sejak 25 Januari 2011.
                           Dihargai  
Menurut Dharsono, penderita tuna grahita sebenarnya mempunyai potensi untuk mandiri asalkan diberikan pembinaan dengan kesabaran dan yang paling penting adalah bagaimana menghargai apa yang mereka lakukan.
"Umumnya mereka mempunyai rasa sensitif yang tinggi, jadi kita harus pandai-pandai menjaga perasaan mereka," katanya yang hampir setiap bertemu siswa selalu mendapat ucapan salam bahkan disertai cium tangan.
Setiap sehabis upacara, para pembina harus bersiap menerima uluran tangan dari setiap siswa atau penerima manfaat.  Tidak terkecuali para tamu yang tengah berada di lingkungan Balai, harus siap selalu menerima ucapan salam setiap perpapasan  dengan siswa yang sesekali ada permintaan untuk cium tangan.
Penderita tuna grahita yang sudah merasakan kasih sayang para pembina tidak jarang melakukan aksi balasan yang menunjukkan rasa cinta mereka. "Ada yang setiap hari memberikan bunga kepada saya, dan itu terus dilakukan," kata Dharsono.
Hal senada diungkap, Sri Istiyantoro, pembina tata boga. "Kesabaran dan terus memberikan penghargaan atas  yang mereka bisa lakukan membuat penerima manfaat akan termotivasi untuk melakukan lebih baik," katanya.
Ia mengungkapkan, penderita tuna grahita lebih cenderung tekun dalam melakoni pekerjaan, bahkan ketekunan itu bisa mengesampingkan rasa lelah mereka.
"Mereka memang lambat menerima pelajaran sehingga memerlukan kesabaran, tetapi mereka tekun bekerja jika pola kerja sudah mereka dapatkan," katanya.
Sejumlah ketrampilan yang sudah mereka kuasai antara lain membuat bolu kukus, kripik jagung, onde-onde, beefsteak, aneka sayuran, serta sejumlah minuman instan seperti  wedang jahe, wedang secang, dan wedang kunyit asam.   
"Ketrampilan ini tentu bisa berguna jika mereka ingin mandiri tetapi tetap perlu pendampingan," katanya,
Menurut Nurul, penyuluh sosial BBRSBH, kegiatan penerima manfaat terpantau 24 jam, mulai mereka bangun pagi pukul 04.30 WIB sampai mereka tidur pukul 21.00 WIB. Kegiatan hari yang dilakukan antara lain ibadah sholat lima waktu, belajar ketrampilan, tidur siang, kegiatan ekstrakulikuler, pembinaan budi pekerti dan keagamaan.
"Saat petugas menyiapkan makan siang, terkadang ada penerima manfaat yang ikut nimbrung membantu proses memasak, tetapi usai makan, mereka secara bergilir ditugaskan untuk mencuci piring," katanya.
Hampir setiap menit waktu yang dimanfaatkan untuk kegiatan positif dan menyenangkan sehingga tidak jarang mereka merasa lebih betah tinggal di Balai daripada kembali ke keluarga mereka. Rasa perhatian dan kasih sayang serta lingkungan sosial yang setara membuat mereka merasa kerasan.
Seperti yang diungkap Indi, siswa yang berpostur gemuk, mengaku lebih kerasan tinggal di Balai karena banyak teman-teman yang bisa diajak bermain dan semua guru pembimbing sayang dan baik hati.  
                    Ajang Unjuk Kebolehan
Tidak hanya rutinitas kegiatan harian yang terjadwal, para siswa juga sesekali diberi kesempatan menunjukkan kebolehan mereka dan Balai menyediakan waktu itu saat gelaran "Ulang Tahun" para siswa setiap tiga bulan sekali.     
Kegiatan berupa dinamika kelompok itu bertujuan menggali potensi penenima manfaat dalam bidang kesenian dan membahagiakan anak melalui peringatan hari kelahirannya, sehingga mereka merasa diperhatikan dan dihargai.
Seperti yang digelar 24 Maret 2011 lalu, saat itu penerima manfaat yang lahir bulan Januari, Pebruari dan Maret sebanyak 48 orang mendapat kue ulang tahun, ucapan selamat dan hadiah dari teman-temannya,    Acara juga diisi dengan hiburan dan rekan-rekan sesama Penerima Manfaat seperti menari dan menyanyi.
Selain ajang unjuk kebolehan bidang seni, Balai juga memberikan pengalaman bagi penerima manfaat dalam mengaplikasikan basil bimbingan keterampilan di lingkungan kerja melalui Program Praktek Belajar Kerja (PBK)
Kegiatan ini dikomandoi Seksi Bimbingan Keterampilan Bidang Rehabsos yang pada tahun 2011 dlaksanakan pada bulan Mei sd Juni dan ikuti 25 orang.
Penentuan siswa yang bisa ikut dalam program PBK itu didasarkan pada hasil evaluasi terakhir pada aspek keterampilan, kondisi mental psikologis dan perilaku, kemampoan sosial dan kesehatan.
Menurut Dharsono, pada PBK tahun ini ada 30 perusahaan yang menerima kegiatan magang seperti rumah makan, industri makanan ringan, industri jamu, peternakan ayam, tanaman hias, mebeler, dan konveksi.
Seleksi terhadap perusahaan penerima cukup ketat antara lain dengan mempertimbangkan pertama, keserasian jenis keterampilan penerima manfaat dengan keterampilan di tempat usaha, kedua ketersediaan fasilitas yang dimiliki perusahaan, antara lain adanya tempat penginapan dan sarana prasarana lainnya.
Dan ketiga atau yang terpenting adalah kesediaan perusahaan untuk menjadi tempat magang dan bersedia menjadikan mereka karyawan tetap jika prestasinya baik.
"Sudah banyak penerima manfaat yang bekerja setelah program magang selesai dan umumnya bekerja dengan baik dan tekun. Biasanya penderita tuna grahita cenderung bekerja sangat tekun dan perusahaan bisa mendapat manfaat yang lebih baik dengan mempekerjakan mereka," katanya.
                    Restoran Bantuan Jepang
Tidak hanya sarana magang di luar, di dalam Balai sendiri juga ada restoran yang dibangun atas biaya donatur dari Jepang. Restoran itu sebagai ajang magang para siswa yang menguasai tata boga.
Saat ini ada tiga siswa sudah dianggap bisa mandiri setelah magang di restoran itu. Mereka adalah Nanang, Ali dan Budi. Ketiganya mempunyai tingkat IQ yang berbeda.
Nanang adalah yang terbaik karena bisa menghitung perjumlahan dan pengurangan, walaupun dengan variasi angka yang tidak sulit.  Ali agak kurang dalam hal perhitungan apalagi sudah perjumlahan dengan angka yang berbeda seperti 4.000 ditambah 5.000.
Sementara Budi sama sekali tidak mengenal nilai uang, sehingga upahnya langsung ditransfer di tabungan miliknya.    Saat penulis melihat angka tabungan hasil upah kerja tercatat Rp4,3 juta dan tabungan itu hanya diambil untuk keperluan sehari-hari.
Menurut Junaedi, penyuluh sosial di Balai, mereka sudah siap untuk magang diluar hanya diperlukan tempat lingkungan kerja yang cocok.
Ali, bahkan pernah kerja di Bakmi Surabaya, di Temangung, selama beberapa bulan, sementara Nanang juga pernah bekerja di rumah makan.
"Kita tidak memaksa mereka untuk secepatnya keluar dari Balai, tetapi berusaha mencari tempat kerja yang cocok bagi mereka," kata Dharsono yang mempimpin BBRSBH Kartini dengan motto "Mengantar Menuju Kemandirian"




:

COPYRIGHT © ANTARA 2026