Washington (ANTARA) - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah memberi tahu perwakilan diplomatik di luar negeri bahwa Amerika Serikat akan mempertimbangkan obesitas, diabetes, kanker, dan kondisi kesehatan lain sebagai dasar penolakan visa, menurut laporan media pada Kamis.
Mengutip kawat Departemen Luar Negeri (Deplu) bertanggal 6 November, The Washington Post melaporkan bahwa Rubio menyampaikan arahan baru itu kepada konsulat dan kedutaan AS, yang diperkirakan akan memperketat pemeriksaan pemohon visa.
Arahan tersebut dikeluarkan berdasarkan aturan "tanggungan publik" — hukum imigrasi yang memungkinkan penolakan visa atau kartu hijau jika pemohon dinilai berpotensi menggantungkan hidupnya pada pemerintah AS.
"Anda harus mempertimbangkan kesehatan pemohon," demikian bunyi kawat tersebut seperti dikutip surat kabar itu.
"Sejumlah kondisi medis — termasuk, tetapi tidak terbatas pada, penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan, kanker, diabetes, penyakit metabolik, penyakit neurologis, dan kondisi kesehatan mental — bisa membutuhkan biaya perawatan ratusan ribu dolar."
Arahan itu juga menyarankan petugas visa untuk mempertimbangkan obesitas dalam penilaian mereka karena kondisi tersebut dinilai dapat menyebabkan sleep apnea (gangguan tidur serius), tekanan darah tinggi, dan depresi klinis.
Sumber: Yonhap-OANA
Baca juga: Visa Schengen lima tahun
Baca juga: 41 Senator AS desak pembatasan visa warga Palestina dihapus
Baca juga: Presiden Trump kenakan biaya visa H-1B jadi Rp1,6 miliar
