Mataram (ANTARA) - Di jantung Kota Mataram, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) berdiri teduh di antara derap modernisasi yang kian cepat.
Dari luar, ia mungkin tampak seperti bangunan biasa dengan dinding putih, pagar rendah, dan halaman yang luas, namun di dalamnya tersimpan denyut panjang sejarah dan kebudayaan yang membentuk wajah Lombok dan Sumbawa hari ini.
Setiap sudutnya seolah berbisik tentang masa lalu, mengisahkan kisah tentang tenun yang merekam ketekunan para perempuan, juga prasasti yang menandai kejayaan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah hidup di tanah ini.
Museum bukan hanya tempat benda-benda tua bersemayam, tetapi juga ruang yang menjaga identitas bangsa agar tak larut oleh gelombang zaman.
Ironisnya, museum sering dipersepsikan hanya sebagai tempat kunjungan wajib siswa sekolah, atau lokasi acara seremonial tahunan. Padahal, di tengah derasnya arus digital, keberadaannya justru kian penting.
Museum adalah jangkar yang menahan kita agar tak hanyut oleh arus instan budaya global. Ia menjadi pengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang seharusnya kita bawa melangkah ke depan.
Museum Negeri NTB bukan sekadar tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga arena dialog lintas usia dan lintas pengalaman. Di ruang pamer tetapnya, anak-anak sekolah menatap kagum pada koleksi kain songket berwarna cerah, keris berukir halus, hingga miniatur rumah adat yang rumit.
Sementara para orang tua tersenyum mengenang masa lalu, saat mereka masih tinggal di desa dengan tradisi yang kini mulai memudar. Di ruang itu, waktu seolah berhenti sejenak, mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni yang jarang ditemukan di ruang publik lain.
Interaksi seperti ini adalah inti dari fungsi museum sebagai ruang edukasi dan sosial. Ia tidak hanya menampilkan benda, tetapi juga menghidupkan kembali kisah di baliknya.
Museum seharusnya menjadi tempat orang belajar, tanpa merasa digurui, tempat anak muda menemukan inspirasi, tanpa merasa dipaksa menghafal sejarah.
Banyak negara telah membuktikan bahwa museum bisa menjadi ruang hidup, seperti museum sains di Singapura atau museum budaya di Jepang yang menggabungkan teknologi interaktif dan penceritaan visual untuk memantik rasa ingin tahu pengunjung muda.
NTB memiliki peluang besar ke arah itu. Museum bisa menjadi laboratorium sosial tempat masyarakat berdialog dengan masa lalu. Program edukasi berbasis budaya, lokakarya tenun atau musik tradisional, hingga tur tematik berbasis narasi lokal dapat dijadikan agenda rutin.
Setiap koleksi bisa menjadi pintu masuk untuk mengajarkan nilai, yakni kerja keras, gotong royong, dan cinta tanah air. Dengan pendekatan ini, museum tidak hanya menjadi tempat melihat benda, tetapi juga ruang belajar karakter bangsa.
Selain sebagai jembatan antar-generasi, museum juga berperan penting menjaga kesinambungan budaya. Ketika anak muda belajar memahami makna simbol pada kain songket atau filosofi rumah adat, mereka sebenarnya sedang memelihara akar identitas yang menguatkan rasa kebangsaan.
Dari sini, museum bertransformasi menjadi wahana pendidikan karakter yang lembut, tanpa pidato panjang, tanpa slogan keras, tapi dengan pengalaman yang menyentuh dan membekas.
Dengan posisi NTB yang tengah berkembang sebagai tujuan wisata unggulan, museum bisa menjadi pelengkap wisata edukatif yang berkarakter lokal.
Museum Negeri NTB menyimpan potensi besar untuk menjadi pusat pembelajaran publik, ruang refleksi kebangsaan, sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya. Museum NTB merupakan wujud hadirnya negara untuk mengajak masyarakat memahami masa lalu, sekaligus masa depan.
Baca juga: UI gerakkan sekolah masuk museum untuk siswa di Morotai
Baca juga: Perhiasan yang dicuri dari Museum Louvre Prancis masih belum ditemukan
