Surabaya (ANTARA) - Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memiliki dua guru besar baru dalam bidang Hukum Tata Negara dan Pengelolahan Citra Digital yang dikukuhkan dalam sidang senat terbuka di kampus setempat, Selasa.

“Alhamdulillah, hari ini kita mengukuhkan dua guru besar baru. Ini adalah capaian luar biasa dan bukti keseriusan dosen-dosen Untag dalam berproses secara berkualitas untuk mencapai puncak akademik," kata Rektor Untag Surabaya Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA.

Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Hufron, S.H., M.H. sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara dan Prof. Dr. Fajar Astuti Hermawati, S.Kom., M.Kom. sebagai Guru Besar Pengelolahan Citra Digital.

Baca juga: Mahasiswa Untag Surabaya rancang sistem IoT untuk produktivitas ayam petelur
Baca juga: Untag Surabaya jadi tuan rumah Konferensi tahunan Forum Dekan FISIP PTS Indonesia


Keduanya menjadi guru besar ke-29 dan ke-30 Untag Surabaya. Prof. Fajar Astuti menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pengolahan Citra Digital dalam Kerangka Pendidikan Tinggi dan Patriotisme: Manusia, Teknologi dan Nasionalisme.

Sementara Prof. Hufron menyampaikan orasi ilmiah berjudul Urgensi Pembentukan Undang-Undang Lembaga Kepresidenan.

Menurut dia, menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. Jika sudah berniat, maka komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi harus dijalankan dengan sepenuh hati.
Prof. Mulyanto menambahkan saat ini masih ada beberapa usulan guru besar yang sedang diproses, khususnya dari bidang ekonomi dan teknik.

Baca juga: Universitas 17 Agustus Surabaya kukuhkan tiga guru besar baru

Ia berharap hingga akhir 2025, jumlah guru besar Untag dapat terus bertambah.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 7 Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Safitri, SE., MM. menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

"Kami menanti karya nyata yang lahir dari Untag Surabaya, khususnya dari para profesor, yang nantinya akan memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan tinggi di Jawa Timur dan Indonesia," ucapnya.

Seorang profesor, tambahnya, harus menjadi agen perubahan dengan karya yang tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga memberi multiplier effect bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Prof. Dyah juga menekankan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia industri, sektor kesehatan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung program pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.



Pewarta: Willi Irawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026