Depok (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Fadilah menegaskan pentingnya penguatan riset data biomedis berbasis multiomik dan bioinformatika untuk mendukung kemandirian diagnostik serta terapi presisi di Indonesia.

Hal ini disampaikannya dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya yang berjudul “Peran Indonesia dalam Revolusi Data Biomedis: Integrasi Kimia Kedokteran, Bioinformatika, dan Multi-Omics Menuju Kemandirian Diagnostik dan Terapi Presisi.”

Fadilah di kampus UI Depok, Senin, menjelaskan bahwa perkembangan ilmu kedokteran saat ini mengalami perubahan besar seiring kemajuan kecerdasan buatan, komputasi berperforma tinggi, dan analisis big data. Pendekatan kedokteran modern kini tidak lagi hanya mempelajari satu gen atau protein secara terpisah, tetapi melihat penyakit sebagai hasil interaksi kompleks berbagai faktor biologis.

Baca juga: Guru Besar UI tegaskan pentingnya penguatan riset data biomedis multiomik

Menurut dia, transformasi tersebut melahirkan konsep kedokteran presisi, yakni pendekatan medis yang memungkinkan diagnosis dan terapi disesuaikan dengan karakter biologis masing-masing individu.

“Melalui data biologi, bioinformatika, dan multi-omics, kita dapat memahami kompleksitas penyakit dan membuka jalan menuju kedokteran presisi nasional,” ujarnya.

Kedokteran presisi dibangun melalui integrasi tiga bidang utama, yakni kimia kedokteran, multiomik, dan bioinformatika. Pendekatan multiomik menggabungkan data genomik, proteomik, metabolomik, hingga mikrobioma untuk memahami penyakit secara lebih menyeluruh.

Baca juga: Guru Besar FKUI dorong penguatan biobank riset nasional

Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan bioinformatika dan machine learning guna mendukung diagnosis, penemuan biomarker, hingga prediksi respons terapi pasien.

Fadilah juga memaparkan perjalanan risetnya, mulai dari kimia komputasi berbasis in silico untuk penemuan kandidat obat, riset genomik dan epigenomik, studi mikrobiom, hingga pengembangan metabolomik integratif.

Sejumlah penelitian pada kanker nasofaring, kanker payudara, dan whole genome sequencing di Indonesia menunjukkan pentingnya basis data genomik lokal untuk pengembangan kedokteran presisi nasional.

Baca juga: Guru besar UI sebut tekstologi Jawa pilar penting revitalisasi budaya

Selain mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, riset tersebut juga dimanfaatkan untuk mempercepat penemuan obat berbasis bahan alam Indonesia. Pendekatan komputasi digunakan untuk menyaring senyawa bioaktif potensial yang dapat dikembangkan sebagai terapi antidiabetes, antiinflamasi, dan antikanker.

“Indonesia perlu membangun ekosistem riset biomedis yang lebih terintegrasi dan kolaboratif. Untuk itu dibutuhkan basis data multiomik nasional yang kuat, terbuka, dan berkelanjutan sebagai fondasi pengembangan biomarker, terapi inovatif, dan kebijakan kesehatan berbasis
karakteristik biologis masyarakat Indonesia,” kata Fadilah.

Ia juga mengajak peneliti muda dan komunitas ilmiah untuk berkolaborasi lintas disiplin demi mendorong kemajuan riset biomedis nasional, karena pengembangan riset multi-omics mampu mewujudkan kemandirian diagnostik serta terapi presisi yang bermanfaat bagi masyarakat
Indonesia dan dunia.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026