Jakarta (ANTARA) - Di balik semaraknya dunia digital dan kecanggihan teknologi, Indonesia dihadapkan pada fenomena sunyi yang mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya kasus retardasi bicara (speech delay) pada anak-anak.
Kondisi ini kini tak lagi terbatas pada kelompok tertentu, melainkan meluas ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah urban yang akrab dengan gawai sejak dini.
Retardasi bicara adalah kondisi ketika anak tidak mencapai tonggak perkembangan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sesuai usianya. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa jumlah kasus speech delay meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.
Prevalensi speech delay beragam dari berbagai penelitian. Data Kementerian Kesehatan pada 2022 menyebut prevalensi retardasi bicara mencapai 5 sampai 10 persen di Indonesia. IDAI pada 2023, mencatat retardasi bicara pada anak usia prasekolah di Indonesia mencapai 5 sampai 8 persen.
Sementara data penelitian lain pada 2023 juga menyebutkan prevalensinya mencapai 32 persen dari jumlah populasi anak Indonesia, dan penelitian di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo sepanjang 2022 menemukan 65 anak dengan rekam medis speech delay.
Salah satu penyebab utamanya adalah paparan gadget dan konten digital seperti YouTube yang terlalu dini dan berlebihan.
Gawai, yang seringkali dianggap sebagai solusi instan pengalih perhatian anak, obat bagi anak yang tantrum, cara jitu untuk membuat anak tenang, justru menjadi bumerang.
Dalam jangka panjang, retardasi bicara tak hanya berdampak pada keterampilan komunikasi. Ia berpotensi menghambat perkembangan kognitif, kemampuan bersosialisasi, kepercayaan diri, bahkan prestasi akademik anak.
Salah satu TK inklusi yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus di Jakarta Selatan, Sekolah Aluna Montesori, jadi satu contoh di mana kasus retardasi bicara kian meningkat.
Sekolah yang dulunya didirikan untuk mengakomodasi anak dengan keterbatasan pendengaran ini kini lebih banyak mendapati anak yang mengalami retardasi bicara ketimbang mereka yang spesial sejak lahir.
Retardasi bicara bukan hanya persoalan keluarga semata. Ini adalah isu pembangunan manusia. Jika tidak ditangani sejak dini, Indonesia bisa menghadapi gelombang generasi yang kurang siap secara sosial, emosional, dan intelektual.
Sayangnya, kesadaran orang tua terhadap pentingnya stimulasi dini dan komunikasi aktif masih rendah. Banyak yang menganggap terlambat bicara sebagai hal biasa, dan menanggap “nanti juga bisa sendiri.”
Memang, sulitnya bicara anak pada usia di bawah lima tahun masih kerap dianggap hal wajar. Tapi persoalan akan muncul ketika orang tua baru menyadari saat anak susah payah dalam berbicara menjelang masuk SD.
Padahal, intervensi sejak dini adalah kuncinya. Semakin cepat terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Agar fenomena ini tidak terus meluas, perlu perubahan paradigma dalam pola asuh orang tua. Ada prinsip-prinsip pola asuh anti-speech delay dari rekomendasi pakar tumbuh kembang anak dan dokter anak yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya retardasi bicara.
