Jakarta (ANTARA) - Indonesia, dengan jumlah angkatan kerja terbesar keempat di dunia, menghadapi tantangan mendasar untuk memastikan populasi produktifnya tidak hanya menjadi statistik demografis.
Namun lebih jauh, bonus demografi yang didapat mestinya benar-benar bisa dicetak menjadi angkatan yang unggul dalam kompetensi, adaptif terhadap perubahan, dan siap mengisi peran-peran strategis dalam pembangunan.
Di sinilah letak pentingnya bekal skill yang bisa saja didapat dari mana saja khususnya pelatihan vokasi yang bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi menjadi mekanisme substantif untuk menciptakan lompatan kualitas manusia Indonesia.
Dalam konteks ini, kolaborasi dengan institusi yang telah mendunia bisa menjadi kunci dan peluang penting dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Salah satu platform digital di tanah air, Pintar, menangkap peluang itu dengan menggandeng Harvard Business Impact (HBI).
Komitmen kedua entitas itu pada akhirnya tidak dapat dibaca hanya sebagai kerja sama institusi, melainkan sebagai upaya membangun infrastruktur edukasi kerja yang sejajar dengan kebutuhan dunia modern.
Selama ini, pelatihan kerja di Indonesia masih sering terjebak dalam pendekatan formalistik dan prosedural. Banyak program yang disusun hanya untuk memenuhi indikator administratif, tanpa benar-benar mempersiapkan pekerja menghadapi disrupsi teknologi, perubahan pasar, dan tuntutan kompetensi yang terus berkembang.
Kemitraan strategis serupa ini layak direplikasi lebih luas karena justru berpeluang mampu menunjukkan arah yang berlawanan dari praktik lama ini.
Imelda Harsono, Komisaris Utama Pintar dan Direktur Havez Capital, menyatakan bahwa kolaborasi ini memperkuat misi untuk menciptakan generasi kerja yang unggul dan siap bersaing di pasar global.
Sebagai alumnus Harvard Business School, Imelda paham betul bahwa pelatihan berbasis standar dunia tidak boleh hanya dimiliki segelintir elite, melainkan harus dibuka seluas-luasnya agar bisa diakses tenaga kerja dari berbagai jenjang dan sektor.
Ia menegaskan pentingnya memperluas akses terhadap kualitas pendidikan global untuk membentuk ekosistem kompetensi yang setara dan progresif.
Keberanian untuk menjadikan pelatihan kerja sebagai medium transformasi intelektual dan kepemimpinan menjadi poin penting dalam program-program pelatihan vokasi.
Tidak lagi cukup mengajarkan keterampilan teknis semata, pelatihan kini dituntut untuk membentuk pola pikir strategis, kemampuan komunikasi, kerja kolaboratif lintas fungsi, serta sensitivitas terhadap perubahan.
Program-program unggulan seperti Harvard ManageMentor kini memungkinkan untuk diadaptasi di Indonesia. Ini menarik karena diimplementasikan dengan mengusung pendekatan pembelajaran aktif, bukan satu arah.
Dan ini penting karena pekerja tidak lagi bisa dibentuk dengan pola didaktik lama, tetapi harus mampu belajar secara mandiri, memecahkan masalah, dan mengelola konflik dalam organisasi.
Pelatihan kerja memang semestinya tidak boleh menjadi ruang pasif tapi harus menjelma menjadi ekosistem pembelajaran sepanjang hayat.
Vinay Hebbar, Executive Vice President Harvard Business Impact, melihat Indonesia sebagai negara memiliki potensi besar dalam pengembangan kepemimpinan dan manajemen yang relevan dengan praktik terbaik global.
Tentu tantangan pelaksanaan tetap besar. Tidak semua tenaga kerja memiliki akses yang sama terhadap teknologi atau lingkungan kerja yang mendorong pembelajaran.
Namun inilah nilai tambah dari pendekatan yang ditawarkan, fleksibilitas akses secara online, offline, dan hybrid memungkinkan perluasan jangkauan secara signifikan.
Baca juga: UNS dorong alumnus vokasi jadi penghubung strategis antara kampus dan industri
Baca juga: Menkomdigi tegaskan mahasiswa vokasi harus jadi punggawa AI
Pewarta: Hanni SofiaEditor : Budi Setiawanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026