Bogor (ANTARA) - 5EyesFarm di Dramaga, Kabupaten Bogor, mengolah hasil pertanian lokal menjadi beragam produk ramah lingkungan sebagai bentuk dukungan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Sejak 2016, laboratorium alam ini mempraktikkan sistem pertanian terintegrasi dan permakultur untuk menjaga ketahanan pangan dan mengolah limbah rumah tangga secara mandiri.
Danti Tarigan, pendiri 5EyesFarm, bukan berasal dari latar belakang pertanian. Ia adalah lulusan Sastra Inggris yang pernah bekerja di industri perhotelan di Bali. Namun, pengalaman hidup sebagai anak petani dan kegelisahannya terhadap dampak perubahan iklim mendorongnya untuk kembali ke alam dan memilih gaya hidup berkelanjutan.
Ide membangun 5EyesFarm bermula dari keresahan Danti dan suami terhadap gaya hidup modern yang konsumtif dan banyak menghasilkan limbah. Mereka mulai merancang kawasan pertanian terpadu ini sejak 2015, dan mulai merealisasikannya pada 2016 dengan konsep laboratorium hidup yang mengolah setiap sumber daya secara mandiri.
“Kita sadar, kita bukan policy maker, bukan pengusaha besar, dan bukan aktivis yang bisa membawa massa. Tapi kita sadar kita bisa memilih cara hidup,” ujar Danti saat ditemui di lokasi, Rabu (2/7/2025).
Lahan seluas 7.000 meter persegi tersebut merupakan milik pribadi yang dikelola oleh Danti dan keluarganya. Dalam pengelolaannya, 5EyesFarm turut memberdayakan masyarakat sekitar, baik sebagai petani, peternak, maupun tenaga dapur dan edukator.
5EyesFarm memanfaatkan hasil pertanian lokal menjadi beragam produk olahan seperti cuka, sirup bunga, kombucha, selai, fruit wine, vanili kering, hingga cokelat alami. Semua hasil panen diolah secara manual tanpa bahan kimia tambahan, dan diproses dengan pendekatan ramah lingkungan.
Selain bertani, 5EyesFarm juga ternak kelinci, ikan, serta beberapa jenis unggas seperti ayam, bebek, dan angsa. Peternakan ini menjadi bagian dari ekosistem pertanian terintegrasi yang saling menopang, mulai dari penyediaan pupuk alami hingga pengolahan limbah organik.
Seluruh proses produksi dilakukan secara manual dan tanpa kemasan lain, karena penjualan hanya dilakukan secara langsung di lokasi.
“Kita berkomitmen tidak menjual secara online karena tidak ingin menambah limbah dari penggunaan kemasan plastik,” kata Danti menjelaskan.
Selain mengolah hasil berkebun, beragam sampah rumah tangga juga diolah dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan ternak melalui maggot, sedangkan limbah anorganik diproses menjadi ecobrick untuk bangunan.
“Produk utama kita sebenarnya adalah ilmu. Ilmu bertani, mengolah, dan bertahan hidup. Itu yang kita rawat agar tidak hilang,” ujar Danti.
Bagi masyarakat yang tertarik berkunjung atau belajar langsung, 5EyesFarm membuka kesempatan melalui program kunjungan edukatif dan eco retreat dengan reservasi lewat Instagram @5eyes.nature.lab.
Pewarta: Aesha Yusi MahameruUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026