Bogor, 27/1 (ANTARA) - Setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat selalu dipadati oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
"Tradisi ziarah ini disebut "Ngabungbang" yang sudah berlangsung sejak 1930," kata Pembina Organisasi Pemuda Cimande Tarikolot (OPCT), Ahmadi, Minggu.
Menurut Ahmadi, ritual ziarah "Ngabungbang" adalah warisan budaya leluhur dari Kesepuhan Cimande.
Ritual ziarah tersebut berlangsung setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung selama dua hari yakni Kamis (24/1) dan Jumat (25/1).
"Hingga kini setiap tanggal 14 dan 15 bulan Mualid tradisi ziara "Ngabungbang" masih terus dilaksanakan dan dilestarikan oleh para keturunan Cimande," kata Ahmadi.
Ahmadi menyebutkan, kegiatan "Ngabungbang" sudah menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat sekitar setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam tradisi ziarah tersebut, ribuan peziarah mendatangi beberapa lokasi pemakaman kesepuhan Cimande, seperti makam Kesepuhan Eyang, dan Kesepuhan Tarikolot.
Saat dipadati peziarah, suasana di Kampung Cimande tersebut ramai dan meriah. Suasana ramai tersebut terasa sepanjang jalan raya Desa Cimande, hampir semua rumah warga membuka pintu baik sampai siang hingga malam karena banyak kedatangan tamu atau saudara yang berkunjung.
Pemandangan ini terlihat, terutama para hari puncak "Ngabungbang" Kamis dan Jumat, ramainya pengunjung menyebabkan jalan sejauh lima kilometer padat hingga tidak dapat dilalui kendaraan, para peziarah pun harus rela berjalan kaki untuk sampai ke lokasi dan berziarah di makam-makam yang dikeramatkan tersebut.
Ahmadi mengatakan, sudah menjadi tradisi, jika ritual "Ngabungbang" yang dilaksanakan setiap 14 Maulid, kawasan Cimande kerap dipadati masyarakat, bahkan sepanjang jalan dari perempatan Kampung Cikodok hingga menuju kawasan Kampung Tarikolot, selalu dipadati oleh para pedagang kaki lima, yang menjual berbagai macam barang dagangan.
"Tradisi ziarah ini menjadi berkah bagi masyarakat disini khususnya para pedagang," katanya.
Untuk menjaga pelaksanaan "Ngabungbang" berjalan lancar, Organisasi Pemuda Cimande Tarikolot (OPCT) pimpinan Ahmadi melakukan tugas pengamanan yang melibakan semua pemuda dari sejumlah desa yakni Desa Cimande Jaya dan Desa Lemahduhur.
"Kami mengerahkan hingga 250 pemuda yang bertugas melakukan pengamanan, mulai dari parkir hingga antisipasi tindak kejahatan," kata Ahmadi.
Ahmadi menambahkan, tradisi ritual "Ngabungbang" bagi masyarakat Cimande sangat penting. Karena selain didatangi pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia juga didatangi tamu mancanegara.
Sementara itu, Kades Lemah Duhur, Ujang Najmudan menuturkan, setiap peringatan "Ngabungbang" pihaknya menyiagakan ratusan petugas, terutama dalam mengatur arus lalulintas di jalan yang padat baik oleh pedagang maupun pengunjung.
Selain itu, lanjut Ujang, pihak selalu berkoordinasi dengan unsur Muspika Kecamatan Caringin dan aparat kepolisian setiap pelaksanaan "Ngabungbang".
"Ngabungbang tahun ini lebih ramai, bahkan banyak tamu yang datang dari luar negeri, seperti Jepang, Malaysia, Singapura dan Amerika. Umumnya para tamu asing itu, datang ke Cimande karena sudah mengetahui kelestarian budaya tradisi ritual Ngabungbang milik Cimande," ujarnya.
Ujang menambahkan, kebanyakan peziarah yang datang sudah melakukan tradisi tersebut selama bertahun-tahun.
"Menurut mereka tradisi ini sebagai kegiatan positif, berziarah ke makam keramat para Kesepuhan Cimande yang diyakini membawa kemaslahatan dan kebarokahan bagi yang meyakininya," kata Ujang.
Laily R
Tradisi Ziarah Desa Cimande Saat Maulid Nabi
Minggu, 27 Januari 2013 16:39 WIB
Tradisi Ziarah Desa Cimande Saat Maulid Nabi
tradisi-ziarah-desa-cimande-saat-maulid-nabi-
