Jakarta (ANTARA) - Hari Raya Idul Fitri umumnya menjadi momentum, gema takbir dan tahmid bersahut-sahutan dan wajah-wajah berseri menyambut hari kemenangan, namun, harus ada yang menghadapi dalam kedukaan.

Seperti yang dialami Rahmat (54), menghabiskan malam takbiran di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Siti Fatimah Az-Zahra di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Alih-alih merayakan kemenangan bersama keluarga, dia harus mendampingi istrinya yang tengah berjuang melawan sakit.

Peralatan medis berpadu dengan langkah cepat perawat yang berpindah dari satu ranjang pasien ke ruangan lain. 

Rahmat dengan tatapan penuh harap, ia menggenggam kedua tangannya, menyalurkan doa dalam diam untuk kesembuhan belahan jiwanya.

Beberapa perawat keluar masuk dari balik tirai tempat istrinya dirawat. Dari mereka tampak membawa rak dorong yang bermuatan sejumlah peralatan medis, salah satunya serupa alat pemacu detak jantung.

Pasien lain terus berdatangan, nyaris memenuhi belasan ranjang pemeriksaan yang tersedia.

Doni (24) juga merasakan kesedihan mendalam. Ia harus menemani saudara iparnya yang tiba-tiba mengalami vertigo dan gerd akut setibanya di Palembang pada Sabtu (29/3) malam.

Sesekali, Doni dan Rahmat berbincang, saling menguatkan di tengah suasana yang penuh kecemasan.

Sebelumnya, Doni menerima kabar duka, sang kakek, yang sekaligus menjadi sosok ayah bagi keluarga besarnya, meninggal dunia pada Jumat (28/3) malam, beberapa jam setelah berbuka puasa. Udara dingin di ruang IGD terasa semakin menusuk. Bingung dan sedih bercampur dalam hati.

Rencana bersama kakek dan keluarga besarnya bepergian ke Jakarta batal padahal tiket pesawat sudah dipesan dan dijadwalkan terbang pada H+3 Lebaran.

Lebaran yang diharapkan-harapkan, berubah menjadi hari perpisahan.

Lebaran kali ini terasa berbeda bagi Doni. Keramaian tetap ada, tetapi ada kesunyian yang menyertainya. 

Meski begitu, selalu ada cahaya kehangatan. Kehadiran orang-orang terkasih yang saling menguatkan membuktikan bahwa Idul Fitri tetap memiliki makna yang mendalam. 

Mendengar kisah-kisah seperti ini, tak berlebihan rasanya untuk memberikan apresiasi kepada para tenaga kesehatan di RSUD yang belum genap 10 tahun berdiri itu.

Di tengah suasana hari raya, mereka rela meninggalkan keluarga untuk tetap menjalankan tugas kemanusiaan dengan penuh dedikasi.

Baca juga: Keluarga napi di Samarinda lepas rindu di Lebaran



Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor : Budi Setiawanto

COPYRIGHT © ANTARA 2026