Surabaya (ANTARA) - Di tengah lalu lintas Kota Surabaya, Jawa Timur yang bergerak cepat, Balai Pemuda kini menawarkan sesuatu yang nyaris berlawanan dengan watak kota. Orang datang untuk berhenti, memandang, berjalan perlahan, lalu membiarkan sebuah karya menimbulkan pertanyaan.
Suasana tersebut dihadirkan melalui ARTSUBS 2026, pameran seni rupa kontemporer yang memasuki penyelenggaraan ketiga di Surabaya. Mengusung tema “Border, Threshold, and Beyond”, pameran berlangsung 19 September hingga 8 November 2026 di kompleks Balai Pemuda atau Alun-alun Surabaya.
ARTSUBS tahun ini menghadirkan sekitar 500 karya dari 113 perupa dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk tujuh karya kolaborasi kelompok seniman. Karya yang ditampilkan berasal dari seniman hasil kurasi maupun open call.
Besarnya angka memang penting, tetapi tidak semestinya menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan sebuah pameran. Pertanyaan yang lebih krusial adalah hal apa yang terjadi setelah ratusan karya tersebut bertemu dengan publik Surabaya.
Sebab, seni kontemporer tidak berhenti saat karya terpasang di dinding galeri. Maknanya justru baru lahir ketika ada mata yang memandang, pikiran yang merenung, dan masyarakat yang menemukan keterkaitan antara karya tersebut dengan kehidupan mereka.
Kota melihat
ARTSUBS memiliki perjalanan yang menarik. Penyelenggaraan perdana pada 2024 di Pos Bloc Surabaya menghadirkan sekitar 300 karya dari 154 seniman. Pada edisi kedua 2025 di Balai Pemuda, jumlahnya berkembang menjadi 347 karya dari 135 seniman. Memasuki edisi ketiga pada 2026, ARTSUBS kembali digelar di Balai Pemuda dengan 113 perupa dan lebih dari 500 karya.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa skala pameran tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya nama seniman, melainkan juga keluasan praktik, medium, dan karya yang dipresentasikan.
Perubahan semacam itu menunjukkan ARTSUBS sedang mencari bentuk. Pameran tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya perupa, tetapi berupaya menjadi titik temu antara karya, gagasan, kurator, komunitas, kolektor, pelaku ekonomi kreatif, dan publik yang mungkin sebelumnya tidak pernah merasa dekat dengan seni rupa. Di sinilah pemilihan Surabaya menjadi penting.
Penyelenggara mengakui bahwa Surabaya sejak awal bukan kota yang secara otomatis dianggap sebagai pusat seni rupa sebagaimana Jakarta atau Yogyakarta. Namun, justru tantangan tersebut dipandang sebagai alasan untuk membangun ekosistem seni yang lebih kuat di Jawa Timur.
Para kurator menempatkan ARTSUBS sebagai simpul yang mempertemukan banyak jejaring dan praktik seni yang selama ini berjalan dalam ruang yang lebih kecil.
Gagasan itu sejalan dengan kenyataan bahwa Surabaya memiliki skala ekonomi dan mobilitas masyarakat yang besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Surabaya pada 2025 tumbuh 5,87 persen, dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp830,54 triliun. Struktur ekonomi kota masih ditopang terutama oleh perdagangan dan industri pengolahan.
Namun, kota besar tidak hanya membutuhkan pusat perdagangan, perkantoran, industri, dan transportasi. Kota juga memerlukan ruang untuk mengolah pengalaman kemanusiaan. Di tengah sesaknya arus informasi, seni dapat menjadi jeda sekaligus ruang refleksi.
Karena itu, gagasan kurator ARTSUBS mengenai seni sebagai sarana kontemplasi dan hiburan intelektual menjadi relevan. Seni kontemporer tidak harus diperlakukan sebagai sesuatu yang eksklusif hanya karena bentuknya tidak selalu mudah dipahami. Justru ketidaklangsungan bahasa visualnya dapat menjadi pintu percakapan baru.
Ekosistem tumbuh
Tantangan terbesar ARTSUBS bukan lagi sebatas menggelar pameran. Setelah memasuki edisi ketiga, tantangan utamanya adalah memastikan peristiwa seni ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan yang timbul lalu tenggelam tanpa meninggalkan ekosistem yang lebih kuat.
Sebuah pameran berskala besar memang mampu menyedot banyak pengunjung. Namun, ekosistem seni membutuhkan lebih dari sekadar kerumunan. Ekosistem ini memerlukan ruang pamer yang berkelanjutan, hadirnya kurator, pengelola seni, pekerja teknis, penulis, perupa muda, kolektor, komunitas, lembaga pendidikan, dokumentasi yang rapi, serta pasar yang sehat agar para seniman dapat terus bertahan dan berkarya.
Surabaya sebenarnya memiliki modal awal. Pemerintah kota pada Januari 2026 menetapkan 14 ruang publik sebagai lokasi tampilan seni. Kebijakan itu memperluas kemungkinan pertemuan antara seniman dan masyarakat di luar gedung pertunjukan atau galeri formal.
Di sisi lain, geliat pariwisata juga memberi peluang. Pemkot Surabaya mencatat 25.487.271 kunjungan wisatawan sepanjang 2025, dengan sekitar 87,8 persen merupakan wisatawan nusantara. Artinya, basis publik yang berpotensi bertemu dengan agenda kebudayaan sebenarnya sangat besar.
Namun, besarnya jumlah wisatawan tidak secara otomatis berbanding lurus dengan jumlah pengunjung pameran seni. Di sinilah pentingnya peran dan kerja-kerja penghubung.
ARTSUBS dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan yang selama ini mengenal Surabaya melalui kuliner, pusat belanja, kawasan bersejarah, atau perjalanan bisnis. Sebaliknya, pameran seni juga dapat membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan menjelajah destinasi lain di sekitarnya.
Di titik inilah kebudayaan dan ekonomi kreatif bertemu secara alami. Kehadiran pengunjung mendorong kebutuhan akan transportasi, kuliner, akomodasi, cendera mata, pemandu acara, dokumentasi, hingga ruang pertemuan. Dampak ekonomi dari sebuah perhelatan pameran tidak pernah berhenti di dalam gedung pameran semata.
Namun ada satu hal yang tidak boleh terlewat. Jangan sampai seni hanya ditempatkan sebagai instrumen untuk mendatangkan wisatawan.
Nilai seni jauh lebih panjang daripada perputaran ekonomi sesaat. Pameran harus tetap memberi ruang bagi gagasan, eksperimentasi, pendidikan, dan kritik sosial. Ekonomi kreatif semestinya memperkuat kehidupan seni, bukan sebaliknya menjadikan seni sekadar kemasan ekonomi kreatif.
Oleh karena itu, keberlanjutan ARTSUBS perlu diukur bukan hanya dari jumlah karya dan pengunjung. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana perhelatan ini membuka kesempatan bagi seniman lokal, menumbuhkan komunitas, memantik minat anak muda terhadap seni, serta menghidupkan ruang-ruang kebudayaan di Surabaya sepanjang tahun.
Melampaui pameran
Tema “Border, Threshold, and Beyond” terasa relevan dengan persoalan tersebut. Batas tak selalu berwujud tembok penyekat. Batas juga dapat berupa sekat jarak antara seniman dan publik, antara pusat dan daerah, antara seni dan ekonomi, hingga antara institusi budaya dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
ARTSUBS memiliki peluang besar untuk melampaui batas-batas tersebut. Langkah awalnya dapat dimulai dari penguatan program pendidikan publik. Sekolah, perguruan tinggi, komunitas warga, keluarga, hingga pekerja kreatif dapat dilibatkan lewat tur kuratorial, lokakarya, diskusi, dan sesi apresiasi karya yang dikemas dengan bahasa populer. Bagaimanapun, publik tak perlu dipaksa menjadi ahli seni hanya untuk menikmati sebuah karya.
Langkah selanjutnya adalah menjaga keberlanjutan jejaring setelah pameran usai. Karya dan perupa yang tampil di ARTSUBS dapat menjadi pemantik bagi program residensi, pameran berskala minor, pertukaran antarwilayah, kolaborasi akademis, hingga aktivasi seni di ruang-ruang publik.
Pemerintah kota dapat mengambil peran sebagai penyedia ekosistem, bukan pengarah isi artistik. Ruang, regulasi yang memudahkan, dukungan promosi, akses pendidikan, dokumentasi, dan integrasi dengan agenda pariwisata dapat menjadi fondasi. Kurasi dan kebebasan penciptaan tetap menjadi ruang para pekerja seni.
Model tersebut juga akan membantu menjawab persoalan klasik kesenian di daerah. Banyak seniman memiliki karya, tetapi tidak selalu mempunyai ruang. Banyak komunitas memiliki gagasan, tetapi terbatas dalam sumber daya. Banyak masyarakat tertarik pada seni, tetapi tidak tahu dari mana harus memulai. ARTSUBS dapat menjadi simpul yang menghubungkan ketiganya.
Surabaya tidak perlu mengekor Jakarta atau Yogyakarta dalam membangun lanskap keseniannya. Kota ini telah memiliki sejarah, dinamika masyarakat, karakter urban, serta ruang sosialnya tersendiri. Kekuatan seni Surabaya justru akan memancar ketika kota ini mampu membaca dan merayakan identitasnya sendiri.
Pameran kontemporer menjadi penting karena memberi ruang bagi sebuah kota untuk bercermin. Beragam medium, mulai dari lukisan, patung, instalasi, karya interaktif, hingga karya lintas disiplin antara seni dan arsitektur, tak sekadar menyajikan estetika, tetapi juga memantik pertanyaan mendasar tentang kemanusiaan, teknologi, lingkungan, identitas, dan masa depan.
Oleh karena itu, ARTSUBS 2026 seyogianya tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang bergulir selama tujuh minggu saja. Perhelatan ini berpeluang menjadi bagian dari ikhtiar panjang dalam membangun masyarakat yang makin karib dengan kebudayaan.
Surabaya kini memiliki ruang untuk itu. Kota dengan skala ekonomi besar dan mobilitas tinggi sudah sepatutnya ditopang oleh denyut kebudayaan yang tak kalah hidup.
Seni memang tidak selalu hadir untuk memberi jawaban. Terkadang, ia cukup membuat seseorang bersedia sejenak melangkah perlahan, mengamati lebih dalam, lalu mempertanyakan hal-hal yang selama ini luput dari perhatian.
Di sinilah makna sebuah pameran menemukan tolok ukurnya yang hakiki: bukan sekadar banyaknya karya yang memenuhi ruangan, melainkan sejauh mana karya-karya tersebut mampu meluaskan cakrawala berpikir masyarakat.
Ketika ruang refleksi tersebut terus dirawat bahkan setelah ARTSUBS usai, seni tak lagi sekadar menumpang hadir di Balai Pemuda. Seni telah melebur, menjadi bagian dari cara Surabaya memandang dirinya sendiri.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.