Bogor (Antara) - Direktur SEAMEO BIOTROP Dr Bambang Purwantara mengatakan banyak usaha di sektor pertanian yang perlu dikembangkan oleh para wirausaha muda.

"Kita butuh usahawan muda untuk mengembangkan sektor pertanian kita," kata Bambang saat menjadi pembicara kunci dalam kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan bidang kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Serikat Pekerja Antara dengan sejumlah mitra, di Kampus SEAMEO BIOTROP, Bogor, Sabtu.

Bambang mengatakan, sebagai negara ASEAN dengan jumlah penduduk terbanyak, menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar dalam bidang pangan.

"Hendaknya kita tidak hanya menjadi konsumen terbesar pertanian, tapi dituntut untuk mampu menjadi produsen produk pertanian," katanya.

Namun kenyataannya, lanjut Bambang, sebagai negara yang memiliki potensi sumber daya alam terbesar tapi masih mengimpor dikarenakan belum mampu mengelola sumber daya alam yang ada secara baik.

"Jadi ini tugas generasi muda untuk menyelesaikannya," kata Bambang.

Bambang menyebutkan, sebagai organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara pada Pusat Regional Asia Tenggara untuk Biologi Tropika (SEAMEO-BIOTROP) memberikan dukungan penuh pada kegiatan yang bersifat pelatihan seperti yang diselenggarakan oleh Serikat Pekerja Antara.

Ia menyebutkan, Kampus SEAMEO BIOTROP kerap dikunjungi baik oleh pelajar, instansi, akademisi, peneliti dan swasta yang ingin melihat dan belajar pelatihan dan pemberdayaan sektor perikanan, peternakan dan pertanian di Biotrop.

"Dari tahun 2009-2012 tercatat sebanyak 7.551 orang berkunjung ke BIOTROP, ini tidak hanya dari dalam negeri tapi bahkan luar negeri," katanya.

Ia menjelaskan, BIOTROP memberikan pelatihan di antaranya pertanian organik, perikanan, seperti budi daya ikan gabus, nila, gurame, lele dengan kolam terpal (knock down), jamur tiram, kuping, dan lainnya.

Di Biotrop juga terdapat budidaya Sorghum, produsen bibit Jati Emas dengan teknik kultur jaringan, budidaya lima varian pisang, tanaman hias, hingga jabon.

Menurut dia, tidak hanya memberikan pelatihan kewirausahaan, namun organisasi itu juga memberikan pendampingan bagi yang akan melanjutkan lebih serius untuk terjun dalam bidang wirausaha juga bisa difasilitasi untuk pendampingan.

Ia mengatakan, meski dikenal sebagai lembaga riset, namun SEAMEO-BIOTROP sebenarnya bisa diakses siapa saja untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.

"Kami menerima siapa saja yang ingin mendapatkan ilmu dan pelatihan, termasuk pelajar dan mahasiswa, komunitas ibu dan perempuan, dan lainnya," katanya.

Ia menambahkan, kebanyakan orang mengenal BIOTROP sebagai tempat resepsi pernikahan, diakuinya memang setiap Sabtu dan Minggu aula dijadikan sebagai area resepsi.

Namun lanjut Bambang, ada peluang usaha pertanian yang dikembangkan dalam kegiatan pernikahan tersebut yakni cendaramata pernikahan yang diberi tidak lagi berupa dompet atau asesoris lainnya.

"Tapi disini asesoris cendramata pernikahannya berutapa tanaman, ini bisa dikembangkan dan menjadi peluang usaha bagi kalian," katanya.

Penyelenggaraan Pesantren Kilat Ramadhan 1434-H bertema kewirausahaan itu digarap secara kolaboratif antara media massa, Yayasan At-Tawassuth Bogor, yang didukung sejumlah pihak.

Mitra pendukung itu di antaranya IM2-Indosat, Taman Safari Indonesia (TSI), PT Biofarma, PT APRIL Management Indonesia/RAPP, PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk), SEAMEO BIOTROP, Chevron Geothermal Salak, PT Kimia Farma, PT Antam, BNP2TKI, PT Pupuk Kaltim dan PT Jamsostek.

Kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan ini dibuka secara resmi oleh Direktur SDM dan Umum LKBN Antara, Naufal Mahfudz yang berpesan kepada peserta kegiatan untuk meneladani jiwa kewirausahaan yang ada pada diri Rasulullah SAW sejak usia belia.

"Rasulullah itu sudah berniaga sejak umur 12 tahun. Dan pada saat umurnya 19 tahun Rasulullah mulai berjualan sendiri dan ia menjadi pedagang yang dipercaya," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pesantren Kilat Ramadhan, Rahmad Nasution mengatakan, suatu negara dapat dibilang maju bila memiliki wirausaha lebih dari dua persen. Sementara itu, Indonesia masih kekurangan wirausahawan muda.

Kementerian Koordinator Perekonomian melansir bahwa Indonesia masih membutuhkan empat juta wirausahawan baru dan ini diperluakan agar Indonesia setara dengan negara-negara maju dunia.

"Merujuk pada data-data tersebut, kewirausahawan nyata perlu ditingkatkan lagi, sehingga diharapkan untuk menumbuhkan wirausahawan baru demi kemaslahatan negara," katanya.

Pewarta: Oleh Laily Rahmawati
Editor : Teguh Handoko

COPYRIGHT © ANTARA 2026