Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Penjualan hewan ternak sapi Kabupaten Bekasi Jawa Barat menyiasati strategi penjualan hewan kurban saat belum ada lonjakan permintaan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang disebabkan sejumlah faktor.
"Permintaan sapi kurban sih masih tetap ada, terutama dari pelanggan tetap. Namun tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya," kata pemilik Ghita Farmer Budiono di Cikarang, Jumat.
Ia mengaku penurunan penjualan sapi kurban di lapak Ghita Farmer Desa Jatireja, Kecamatan Cikarang Timur disebabkan kenaikan harga sapi yang turut disertai daya beli masyarakat melemah.
Ia menyiasati kondisi saat ini dengan memilih opsi mengurangi stok sapi dan lebih mengutamakan sistem pemesanan guna mengantisipasi kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil.
"Kami tidak stok terlalu banyak. Sebagian besar sapi yang tersedia berdasarkan pesanan pelanggan. Saat ini sudah lebih dari 100 ekor yang terjual," ujarnya.
Menurut dia harga sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan cukup signifikan, baik untuk jenis sapi Bali maupun sapi lokal seperti limosin dan simental. Kenaikan harga tersebut dipicu berkurangnya populasi sapi sebagaimana informasi yang didapat.
"Harga sapi Bali tahun lalu sekitar Rp48 ribu per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp55 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram di Bali. Menurut info karena populasi berkurang setelah merebak wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) beberapa waktu lalu," katanya.
Kenaikan harga juga berdampak pada harga jual sapi kurban di tingkat peternak. Sapi Limosin bobot 500 kilogram yang sebelumnya seharga Rp31-33 juta naik menjadi Rp33-35 juta. Sedangkan sapi Bali seberat 400 kilogram naik dari Rp24 juta menjadi Rp26 juta.
Budiono menilai kondisi ekonomi masyarakat turut mempengaruhi daya beli. Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja sehingga sejumlah kelompok warga yang biasanya patungan membeli hewan kurban kini mulai mengurangi pembelian.
"Biasanya di perumahan, masjid atau mushalla ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi," katanya.
Dia mengungkapkan sejauh ini penurunan penjualan berkisar satu hingga lima persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya meski masih berpotensi bertambah karena Hari Raya Kurban masih sekitar tiga pekan lagi.
"Secara keseluruhan sepertinya juga turun ya karena saya melihat jumlah pedagang sapi musiman di pinggir jalan mulai berkurang. Kemungkinan karena harga sapi dan biaya operasional yang tinggi," ujarnya.
Ghita Farmer pada periode Idul Adha tahun ini hanya menyediakan 150 ekor sapi, lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 350 hingga 400 ekor untuk mengantisipasi risiko kerugian.
Namun demikian pihaknya memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat dan telah menjalani vaksinasi. Untuk sapi asal Bali, vaksin PMK dan Lumpy Skin Disease menjadi syarat wajib sebelum dikirim.
"Kami juga melakukan vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental. Jadi kesehatan sapi tetap kami jaga," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026