Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, melakukan penataan areal perlintasan sebidang kereta api dengan meningkatkan standar mutu keselamatan transportasi sebagai upaya berkelanjutan untuk menjaga kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan.
"Langkah ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran masyarakat terkait keselamatan jiwa terutama saat berada di perlintasan kereta api, menyusul musibah beberapa waktu lalu di Kota Bekasi," kata Plt. Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja di Cikarang, Jumat.
Dia mengatakan upaya ini dilakukan melalui program penataan perlintasan sebidang kereta api dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bantuan senilai Rp15 miliar digunakan untuk meningkatkan standar keselamatan di 10 titik lintasan.
"Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur dan kita mendapatkan bantuan dari provinsi. Satu titik itu Rp1,5 miliar, jadi totalnya Rp15 miliar untuk 10 titik," katanya.
Penataan perlintasan dimaksud mencakup pemasangan palang pintu otomatis, penambahan rambu-rambu lalu lintas, peningkatan penerangan di area perlintasan serta mengetatkan fungsi pengawasan.
Pihaknya sedang mengidentifikasi titik-titik perlintasan yang menjadi sasaran utama penataan tersebut. "Jadi mana saja yang akan kita buatkan penutup kereta yang mumpuni, lebih bagus dan lebih canggih dari sebelumnya, bukan sekadar palang pintu manual," katanya.
Asep menyoroti keberadaan perlintasan yang dibuat secara inisiatif oleh masyarakat tanpa mempertimbangkan standar mutu keselamatan pengguna jalan.
"Biasanya karena ada kompleks perumahan atau permukiman penduduk. Agar dekat jaraknya, maka perlintasan ini dibuat, ditutup dengan kayu seadanya. Itu yang bahaya," katanya.
Langkah ini penting terlebih setelah terjadi kecelakaan pada Senin (27/4/2026) petang yang melibatkan KRL Commuter Line, KA Argo Bromo Anggrek serta satu unit taksi daring di perlintasan sebidang Ampera, dekat Stasiun Bekasi Timur.
Akibat kejadian ini, sebanyak 16 jiwa dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun luka-luka, diketahui adalah perempuan.
Dari total jumlah korban meninggal dunia, sedikitnya 10 korban merupakan warga Kabupaten Bekasi. Sebanyak tiga korban yang teridentifikasi paling awal masing-masing Nurlaela asal Cikarang Timur, Adelia Rifani asal Cibitung serta Ristuti Kustirahayu asal Sukatani.
Kemudian berdasarkan data Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, tujuh korban meninggal dunia lainnya juga berasal dari Kabupaten Bekasi di antaranya Anita Sari (31) asal Cikarang Barat, Faridha Utami (50) asal Cibitung dan Fika Aknia Pratiwi (23) asal Cikarang Barat.
Serta Ida Nuraida (48) asal Kecamatan Cibitung, Gita Septia Wardani (20) Cibitung, Rinjani Novitasari (25) Tambun Selatan dan Nur Ainia Eka Rahmadhynna (32) asal Kecamatan Tambun Selatan.
"Kemarin saya membesuk belasan warga kita yang dirawat di RSUD Kota Bekasi. Semoga seluruh korban segera pulih dan dapat beraktivitas kembali. Kami turut mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemkot Bekasi atas kerja sama maupun fasilitasi bantuan yang diberikan kepada warga kami," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026