Jakarta (ANTARA) - Transformasi komunikasi kesehatan di tingkat akar rumput menjadi agenda mendesak di tengah derasnya penetrasi teknologi digital pada anak dan keluarga Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Komunikasi Kesehatan di Era Digital” di RW 06, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua RW 06 Utan Kayu, Aris Widodo, bersama perwakilan Kelurahan, Harjianto Aji, yang menegaskan komitmen wilayah dalam mendukung transformasi masyarakat berbasis literasi digital dan kesehatan.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Wiratri Anindhita bersama tim Prof. Eliana Sari, dan Dwi Linda Kusuma, M.Hum, dengan menghadirkan Dr. Devie Rahmawati, CICS, Associate Professor Vokasi Universitas Indonesia, sebagai narasumber utama. Para mahasiswi Ilmu Komunikasi, Salsabila Haura Zhafirah dan Citra Tamara Purba, turut berperan aktif dalam proses implementasi di lapangan, memastikan transfer pengetahuan berjalan efektif.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum untuk yaitu menguatkan kapasitas masyarakat berbasis riset dan menjawab tantangan digitalisasi secara konkret.

Dalam sesi pelatihan, Dr. Devie Rahmawati, menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan mengendalikan dampak teknologi terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial masyarakat.

Devie menjelaskan bahwa teknologi digital bersifat double-edged sword, memberi berkah sekaligus bencana:
Berkah: mempercepat akses informasi kesehatan, memudahkan edukasi, dan memperluas jangkauan layanan
Resiko bencana: memicu kecanduan layar, menurunkan kualitas interaksi sosial, hingga meningkatkan risiko cyberbullying dan paparan konten berbahaya.

Secara global, bahkan 7 dari 10 anak pernah mengalami cyberbullying, dengan 37 persen terjadi secara intens.

“Kita tidak sedang menghadapi krisis teknologi. Kita sedang menghadapi krisis pendampingan. Teknologi tanpa literasi akan melahirkan generasi yang ‘terhubung’, tapi tidak ‘terarah’.”

Darurat Komunikasi Kesehatan di Era Digital Devie menekankan bahwa istilah “Dari Layar ke Nyawa” bukanlah retorika, tetapi cermin dari kenyataan ilmiah yang sedang terjadi di dunia.

“Riset global menunjukkan bahwa, adiksi layar bukan hanya soal waktu, tetapi soal dampak. Ketika anak kehilangan kendali terhadap layar, mereka juga berisiko kehilangan kendali terhadap emosi, keputusan, bahkan harapan hidupnya.

Anak yang terlalu lama hidup di dunia digital berisiko mengalami ‘ketidakseimbangan realitas’. Dunia nyata terasa berat, dunia digital terasa nyaman. Di titik tertentu, ini bisa menjadi pintu masuk gangguan mental yang serius.”

Dalam konteks ini, Devie menegaskan bahwa komunikasi kesehatan tidak boleh lagi bersifat reaktif, tetapi harus menjadi intervensi preventif berbasis literasi digital.

“Kalau dulu kita bicara kesehatan dari sisi gizi, imunisasi, dan sanitasi, hari ini kita harus menambahkan satu variabel baru: kualitas konsumsi digital. Karena apa yang dikonsumsi di layar, sama pentingnya dengan apa yang dikonsumsi di piring.”

Peneliti kecanduan game online ini merujuk pada kebijakan strategis PP TUNAS (Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak) sebagai bukti konkret keberpihakan negara.

“Negara sudah hadir dengan PP TUNAS. Ini adalah pagar. Tapi pagar saja tidak cukup jika tidak ada kesadaran dari dalam rumah. Orang tua, kader, dan komunitas adalah penjaga utama agar “pagar tetap kokoh”, memastikan bahwa dari layar yang dilihat anak, lahir keputusan yang menjaga kehidupan, bukan yang membahayakan.”

Temuan riset global terbaru semakin memperjelas bahwa relasi antara layar dan kehidupan anak bukan lagi asumsi, tetapi fakta ilmiah yang terukur.

Merujuk pada studi longitudinal besar yang dipublikasikan di jurnal medis terkemuka (JAMA), ditemukan bahwa paparan layar yang berlebihan, terutama yang bersifat adiktif seperti media sosial dan gim, berhubungan secara signifikan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, hingga kecenderungan bunuh diri pada remaja.

Devie menegaskan bahwa komunikasi adalah intervensi kesehatan "murah dan mudah,” tapi dampaknya luas, karena satu informasi yang benar, bisa menyelamatkan banyak keluarga. Sebaliknya, satu hoaks bisa merusak satu generasi.”

Dosen tetap Vokasi Humas ini, menambahkan bahwa keberhasilan program kesehatan di era digital sangat ditentukan oleh tiga 3K :
Kredibilitas informasi, Kecepatan distribusi dan Kemampuan masyarakat dalam memilah (literasi digital).

RW 06 UKS sendiri bukan wilayah biasa. Kawasan ini telah menyabet berbagai penghargaan di tingkat kota hingga provinsi, yang mencerminkan konsistensi dalam tata kelola lingkungan, partisipasi warga, serta inovasi sosial di tingkat komunitas.

Di tengah kompleksitas Jakarta Timur sebagai salah satu wilayah terpadat di DKI Jakarta, capaian ini menjadi indikator kuat bahwa kepemimpinan lokal dan kohesi sosial warga mampu menciptakan kualitas hidup yang lebih baik.

Namun yang lebih penting dari sekadar prestasi adalah, kerendahan hati untuk terus belajar. RW 06 menunjukkan bahwa wilayah yang sudah maju pun tidak berhenti berproses.

Justru, mereka memilih untuk terus membuka diri terhadap pengetahuan baru, termasuk isu krusial seperti komunikasi kesehatan di era digital.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026