Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengapresiasi kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam menjaga ketahanan fiskal nasional di tengah krisis global yang dipicu konflik bersenjata Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Hal itu disampaikan Eddy menanggapi pandangan Purbaya yang menegaskan bahwa Indonesia belum darurat energi karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)-nya yang kuat.
"Saya menghargai kinerja Menkeu yang menjaga resiliensi fiskal kita sehingga gejolak energi yang terjadi akibat perang di Timur Tengah belum mendorong Indonesia ke kondisi darurat energi," kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Meski demikian, Eddy juga mewanti-wanti bahwa APBN kuat bukan berarti Indonesia otomatis lolos dari krisis energi.
"Namun demikian, kita perlu selalu waspada bahwa kuatnya APBN Indonesia saat ini bukan jaminan bahwa pasokan energi yang selama ini dipenuhi melalui jalur impor akan selalu terpenuhi,” ujarnya.
Ia menilai perang Iran-Israel-AS adalah disrupsi global yang sejajar dengan disrupsi ketika dunia dilanda COVID-19. Pada saat itu, sejumlah produk dan komoditas sulit diimpor karena negara-negara produsen membutuhkannya di negara masing-masing.
"Artinya, andaikata kita memiliki kecukupan dana untuk membelinya sekalipun, belum tentu negara produsen bersedia menjual produk yang dimaksud,” kata Eddy.
Menurutnya, risiko inilah yang dihadapi Indonesia saat ini. Meski Indonesia memiliki APBN yang kuat, namun belum tentu mampu memenuhi kebutuhan energi seperti BBM, migas dan elpiji yang selama ini diimpor karena diperebutkan oleh banyak dan dibatasi penjualannya oleh negara penghasil migas.
Untuk itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan tetap waspada sekaligus berupaya memastikan bahwa sumber pasokan energi Indonesia dapat diandalkan.
Eddy menegaskan dalam kondisi krisis energi global saat ini prioritas utamanya adalah mewujudkan reliability of supply dan bukan sekedar availability of supply.
Selain itu, ia juga mengingatkan pesan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun ketahanan energi nasional melalui percepatan transisi energi sehingga perlu dilaksanakan segera.
"Perang di Timur Tengah saat ini merupakan alarm bahwa ketahanan energi Indonesia rentan. Oleh karena itu, kita perlu segerakan transisi energi, perkuat elektrifikasi dan mengembangkan sumber bioenergi nasional yang melimpah. Selagi APBN kita kuat, ini adalah saatnya kita membangun ketahanan energi yang kuat pula," tutur anggota Komisi XII DPR RI ini.
Baca juga: Menkeu Purbaya lantik Robert Leonard Marbun sebagai Sekretaris Jenderal Kemenkeu
Baca juga: Menkeu Purbaya nilai RI masih aman dari situasi darurat energi
Pewarta: Fianda Sjofjan RassatEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026