Sumedang (ANTARA) - Jumat pagi itu, ruang kelas 3 SDN Manangga di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tidak tampak seperti biasanya. Suasana belajar terasa lebih hangat oleh tawa dan gerakan-gerakan kecil anak-anak. Bangku-bangku tetap dengan susunan sebelumnya, tetapi perhatian siswa tidak lagi hanya tertuju pada buku pelajaran yang terbuka di atas meja. Mereka berdiri, bergerak, dan mengikuti arahan guru dengan antusias, seolah-olah hari belajar dimulai dengan energi baru.

Sebelum pelajaran berlangsung, anak-anak terlebih dahulu diajak melakukan aktivitas motorik sederhana. Gerakan-gerakan ringan itu dipandu guru dengan ritme yang santai, tapi penuh tujuan, yakni melatih fokus, membangun kesiapan belajar, sekaligus mencairkan suasana pagi.

Tangan-tangan kecil terangkat serempak, langkah kaki bergerak mengikuti instruksi, dan sesekali terdengar tawa spontan ketika gerakan terasa lucu bagi mereka. Kelas berubah menjadi ruang yang hidup, bukan hanya tempat duduk dan mencatat, melainkan ruang tumbuh bersama.

Di kelas ini, pembelajaran tidak berhenti hanya pada kemampuan membaca dan menulis. Guru berupaya menghadirkan suasana yang memberi keberanian kepada setiap siswa untuk mencoba, tampil, dan berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

Anak-anak didorong untuk berbicara, bertanya, dan menunjukkan hasil kerja mereka tanpa rasa takut salah. Proses belajar pun menjadi perjalanan yang dirasakan bersama, bukan sekadar tuntutan untuk mencapai nilai.

Perubahan suasana belajar itu tentu tidak serta merta. Awalnya, Kelas 3 SDN Manangga sempat menghadapi tantangan dalam kemampuan literasi dan numerasi siswa. Dari 39 siswa, 34 siswa telah mampu membaca dan memahami bacaan dengan baik. Namun, di antara mereka masih ada satu siswa yang baru mengenali suku kata, serta empat siswa lain yang masih berproses memahami kata dan mulai menyusun kalimat sederhana. Perbedaan kemampuan tersebut menghadirkan dinamika tersendiri di dalam kelas.

Alih-alih melihatnya sebagai hambatan, Wali Kelas 3, Iis Sartika, memandang keragaman itu sebagai panggilan untuk beradaptasi. Ia mulai mencari pendekatan pembelajaran yang lebih lentur dan sesuai dengan kebutuhan tiap anak. Baginya, kelas bukan tempat menyeragamkan kemampuan, melainkan ruang tempat setiap siswa diberi kesempatan untuk bertumbuh dengan ritmenya masing-masing.

Sejak saat itu, pembelajaran di kelas tersebut perlahan berubah arah, menjadi lebih inklusif, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan dunia anak-anak. Jumat pagi itu pun menjadi gambaran sederhana, bahwa sebuah kelas dapat hidup ketika belajar tidak hanya dipahami sebagai kegiatan akademik, tetapi sebagai pengalaman yang menghidupkan rasa percaya diri dan harapan.

Iis memulai proses belajar dengan melakukan asesmen awal guna mengetahui kondisi riil kemampuan literasi dan numerasi siswa dan kemudian menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat.

“Kami melakukan asesmen awal terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan setiap siswa. Dari situ kami bisa menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat di Sumedang.

Dalam prakteknya, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui membaca atau menulis di buku karena iis juga mengajak siswa melakukan aktivitas motorik sederhana agar mereka lebih fokus sebelum mengikuti materi inti.

Selain itu, ia rutin memberikan apresiasi kepada siswa dengan pujian setiap kali mereka menunjukkan perkembangan yang menurutnya dapat membantu membangun rasa percaya diri siswa.

“Anak-anak akan lebih berani mencoba jika mereka merasa dihargai. Apresiasi sederhana bisa membuat mereka percaya diri untuk belajar lebih baik,” katanya.

Setiap kegiatan pembelajaran juga diakhiri dengan permainan edukatif serta refleksi bersama sehingga guru dapat melihat perkembangan siswa sekaligus mengevaluasi metode yang digunakan dalam proses belajar.

Wali Kelas sedang melakukan games interaktif guna meningkatkan semangat belajar siswa di SDN Manangga, Sumedang pada Jumat (13/3/2026) (ANTARA/Ilham Nugraha)

Upaya peningkatan literasi tidak hanya dilakukan di dalam kelas karena sekolah juga memberikan pembelajaran tambahan bagi siswa yang masih membutuhkan pendampingan dengan cara mengelompokkan mereka dalam sesi belajar tambahan.

Selain itu, sekolah memiliki program LIRAMA (Literasi Rabu Manangga) yang mendorong siswa rutin membaca di perpustakaan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung budaya literasi.

Hasil kerja siswa, seperti lembar kerja peserta didik (LKPD), juga dikumpulkan dalam bentuk portofolio selama satu semester yang kemudian diperlihatkan kepada orang tua sebagai bentuk transparansi perkembangan belajar anak.

Menunjukkan hasil

Kepala sekolah, Teti Sartika, mengatakan berbagai upaya yang dilakukan guru mulai menunjukkan hasil yang positif.

“Alhamdulillah, kemampuan literasi siswa mengalami peningkatan. Ini hasil dari kerja sama guru, sekolah, dan dukungan lingkungan belajar yang terus kami perbaiki,” katanya.

Data sekolah menunjukkan kemampuan literasi siswa yang pada 2024 berada di angka 69,57 persen meningkat menjadi 80,77 persen dari total keseluruhan siswa 198 anak.

Peningkatan juga terlihat pada kompetensi menginterpretasi dan memahami isi teks yang naik dari 59,23 persen menjadi 66,57 persen pada tahun yang sama.

Sementara itu, kemampuan evaluasi dan refleksi terhadap teks meningkat dari 56,82 persen menjadi 68,86 persen.

Peningkatan tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah dasar.

 

Kolaborasi lintas sektor

Perubahan pembelajaran di SD Negeri Manangga juga tidak terlepas dari kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Sumedang dengan Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), sebuah program kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia.

Dalam agenda Lokakarya, Erix Hutasoit, Strategic Communication Manager Program INOVASI, mengatakan transformasi pembelajaran merupakan bagian dari upaya kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada kemampuan literasi dan numerasi siswa.

“Transformasi pembelajaran merupakan bagian dari kerja sama INOVASI dengan pemerintah daerah untuk memperkuat praktik pembelajaran yang lebih berpihak pada kebutuhan siswa,” ujarnya saat pemaparan.

Ia menjelaskan Program INOVASI merupakan kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar di berbagai daerah.

Menurut Erix, program tersebut telah bekerja di enam provinsi dan 25 kabupaten/kota di Indonesia dengan fokus pada penguatan praktik pembelajaran dasar seperti literasi dan numerasi.

“Melalui program ini kami mendorong praktik baik pembelajaran yang dapat direplikasi di sekolah lain, sehingga peningkatan kualitas belajar siswa dapat terjadi secara lebih luas,” tambahnya.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah didorong memperkuat strategi pembelajaran, termasuk melakukan asesmen awal, menerapkan pembelajaran diferensiasi, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih aktif dan menyenangkan bagi siswa.

Pendekatan ini menekankan bahwa proses belajar tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa.

Dengan cara tersebut, siswa yang mengalami kesulitan belajar diharapkan tetap mendapatkan dukungan yang memadai, sementara siswa yang telah memiliki kemampuan lebih juga dapat terus berkembang melalui tantangan pembelajaran yang sesuai.

Pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai dengan potensinya.

 

Dampak kuatnya literasi siswa

Pada rangkaian agenda yang sama MERL Officer INOVASI Justin Robertus Sodo memaparkan bahwa penguatan literasi memiliki dampak luas, termasuk terhadap perkembangan kemampuan belajar siswa dan potensi pertumbuhan ekonomi.

Justin menjelaskan dalam lokakarya bertajuk “Membangun Mesin Komunikasi Daerah melalui Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Jawa Barat” bahwa berbagai kajian menunjukkan peningkatan kemampuan literasi pelajar dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, peningkatan sekitar 10 persen jumlah pelajar yang memiliki kemampuan literasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekitar 0,3 persen.

“Dalam survei yang dilakukan terhadap 1.503 siswa di tiga gugus sekolah di Sumedang, kemampuan literasi dan numerasi secara umum berada di atas 80 persen. Sementara indikator lain seperti inklusivitas, keberagaman, dan keamanan bahkan mencapai lebih dari 90 persen,” ujarnya dalam lokakarya tersebut.

Namun demikian, kemampuan membaca yang lebih mendalam, seperti mengintegrasikan informasi dan menafsirkan isi bacaan, masih menjadi ruang perbaikan dalam proses pembelajaran.

Sekitar 70 persen siswa masih berada pada tahap membaca tekstual, yaitu membaca teks tanpa pemahaman yang lebih mendalam.

Menurut Justin, kemampuan membaca tingkat tinggi perlu terus diperkuat agar siswa tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami, menginterpretasi, dan menarik kesimpulan dari informasi yang mereka baca.

Ia menambahkan bahwa angka rata-rata yang tinggi tetap perlu dilihat lebih dalam agar kesenjangan antarkelompok siswa dapat terus diperkecil.

Beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan belajar siswa antara lain kondisi ekonomi keluarga, bahasa yang digunakan sehari-hari, lokasi geografis, serta adanya hambatan belajar pada sebagian siswa.

Selain literasi, kemampuan numerasi siswa juga menunjukkan pola serupa, yakni kemampuan dasar dinilai cukup baik, tetapi pada tahap penerapan dalam kehidupan sehari-hari masih perlu diperkuat.

“Jika ada 100 anak di kelas, satu anak yang mengalami kesulitan pun tidak boleh ditinggalkan. Karena itu perhatian terhadap siswa dengan hambatan belajar harus menjadi prioritas,” katanya.

Ia berharap berbagai upaya yang dilakukan melalui kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, dan Program INOVASI dapat terus memperkuat kualitas pembelajaran di kelas.

Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan perhatian terhadap kebutuhan setiap siswa, peningkatan kemampuan literasi dan numerasi diharapkan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh peserta didik.



Pewarta: Ilham Nugraha
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026