Palembang (ANTARA) - Makanan tradisional khas Palembang, Sumatera Selatan, ragit, menjadi salah satu menu yang diburu warga untuk berbuka puasa selama Ramadhan.
Sulistia (35), seorang pedagang ragit di kawasan Kertapati, Palembang, Rabu (25/2/2026), mengatakan dirinya hanya menjual kuliner tersebut pada bulan puasa. Menurutnya, pembuatan ragit memerlukan ketelatenan khusus untuk menghasilkan bentuk jaring-jaring yang menarik.
"Banyak warga yang menyukainya. Saya menjual ini hanya saat Ramadhan karena proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan agar bentuk khasnya menarik," ujar Sulistia.
Ia menjelaskan bahwa ragit terbuat dari adonan tepung terigu yang dibentuk menyerupai jaring di atas wajan datar. Kuliner ini disajikan dengan kuah kari kambing atau sapi yang kental.
Baca juga: Bulan Ramadhan di Ogan Komering Ulu diwarnai wisata kuliner
Perbedaan ragit Palembang dengan kari ala Timur Tengah terletak pada penggunaan rempah yang kompleks serta tambahan potongan kentang, daging, taburan bawang goreng, dan cabai hijau potong. Perpaduan tersebut menghasilkan sensasi rasa pedas-gurih yang segar.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar warga meyakini pembuat ragit terbaik di Palembang berasal dari komunitas Arab di kawasan Pasar Kuto atau Sayangan. Biasanya, mereka memproduksi ragit dalam jumlah besar hanya pada momen spesial seperti Ramadhan atau hajatan.
"Pada hari biasa jarang ada yang membuat karena prosesnya lama. Namun, saat puasa, permintaan bisa meningkat hingga lima kali lipat. Bagi orang Palembang, rasanya ada yang kurang jika belum berbuka dengan ragit," katanya.
Sementara itu, Melisa (34), seorang warga Palembang, mengakui bahwa ragit memang lebih mudah ditemukan saat bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Harga satu porsi ragit di pasaran cukup terjangkau, yakni berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000, tergantung pada kelengkapan potongan daging di dalam kuah karinya.
Baca juga: Warga Bogor Masak Mi Glosor Meriahkan Ramadhan
Baca juga: Gohu ikan ramai diminati masyarakat Maluku Utara saat berbuka puasa
Pewarta: M. Imam PramanaEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026