Kabupaten Bekasi, Jabar (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memastikan perbaikan jalan di sepanjang ruas Cikarang Bekasi Laut (CBL) dilakukan tahun ini dengan memprioritaskan titik Wanasari-Pulo Puter yang ambles beberapa waktu lalu.

"Prioritas utama titik Wanasari-Pulo Puter tepatnya di dekat jembatan Desa Muktiwari yang ambles karena dapat membahayakan pengguna jalan," kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi Kabupaten Bekasi Henri Lincoln di Cikarang, Jabar, Rabu.

Ia menyatakan perbaikan jalan pada ruas tersebut dilakukan melalui pekerjaan teknis pemasangan bore pile pada sisi longsor yang diperkuat dengan pelebaran jalan dari area jembatan hingga ruas terdampak.

Pihaknya telah mengalokasikan anggaran senilai Rp2 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Bekasi 2026 untuk melaksanakan pekerjaan tersebut dengan target tuntas sebelum akhir tahun ini.

Baca juga: Plt Bupati Bekasi tinjau tiga titik jalan ambles di CBL, pastikan respons cepat

Pembiayaan tersebut diperoleh dari kegiatan rekonstruksi pekerjaan umum yang dialihkan khusus untuk penanganan kedaruratan agar tidak semakin membahayakan warga yang melintas ruas jalan longsor itu.

"Anggaran rekonstruksi yang sebelumnya direncanakan untuk pekerjaan umum dialihkan untuk penanganan longsor ini karena kerusakan dinilai semakin parah dan membahayakan pengguna jalan," katanya.

Tahapan pekerjaan saat ini memasuki review detail engineering design (DED) agar penanganan dapat dilakukan secara permanen berdasarkan kondisi faktual di lapangan.

"Sambil menunggu proses review DED selesai, penanganan sementara dilakukan dengan pengurukan pada titik jalan amblas agar kendaraan tetap dapat melintas," katanya.

Pemkab Bekasi turut mengalokasikan anggaran rekonstruksi sebesar Rp2,1 miliar untuk menangani titik longsor lain sepanjang ruas Jalan CBL tepatnya di titik wilayah Desa Kertamukti sepanjang 50 meter yang kini juga sudah memasuki tahapan review DED.

Baca juga: Warga minta pemda perbaiki jalan ambles di ruas CBL-Kertamukti Bekasi

Henri mengaku kondisi geografis jalur CBL menjadi salah satu penyebab utama kerentanan longsor karena berada di antara saluran irigasi dan Sungai CBL, sehingga rembesan air maupun luapan air sungai saat debit meningkat dapat menggerus konstruksi badan jalan.

"Posisi saluran irigasi lebih tinggi dari badan jalan sehingga kemungkinan ada rembesan air. Ketika jalan terendam dan aliran Kali CBL deras, konstruksi jalan ikut tertarik dan akhirnya longsor," katanya.

Pemkab Bekasi pun menyiapkan anggaran darurat sebesar Rp4 miliar guna menangani sejumlah titik rawan di sepanjang jalur CBL sekaligus mengantisipasi longsor susulan yang berpotensi terjadi sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan tiba.

Selain faktor alam, tingginya aktivitas kendaraan bertonase besar juga disebut mempercepat kerusakan jalan di jalur CBL.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi guna membatasi kendaraan berat melintasi ruas tersebut.

Baca juga: Pemkab Bekasi memperbaiki jalan ambles di ruas Cikarang Bekasi Laut

Menurut dia, penanganan menyeluruh di ruas jalur CBL membutuhkan anggaran relatif besar.

Pembangunan penguatan sisi jalan sepanjang satu kilometer membutuhkan pembiayaan berkisar Rp20 miliar, sementara panjang total ruas jalan itu mencapai 20 kilometer.

"Karena itu, kami bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai untuk memperkuat sisi jalan agar badan jalan lebih aman," ucapnya.

Dirinya mengajak masyarakat untuk turut menjaga lingkungan dan saluran drainase di sekitar ruas Jalan CBL mengingat banyak kerusakan jalan dipicu saluran air yang tersumbat sampah maupun tertutup bangunan sehingga meluap ke badan jalan.

"Kami mengajak masyarakat untuk berkolaborasi menjaga lingkungan dan drainase. Banyak saluran air menyumbat dan tertutup ruko sehingga air meluap ke badan jalan. Salah satu penyebab kerusakan jalan dipicu drainase buruk selain muatan kendaraan melebihi kapasitas," kata dia.



Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026